.showpageArea a { text-decoration:underline; } .showpageNum a { text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; margin:0 3px; padding:3px; } .showpageNum a:hover { border: 1px solid #cccccc; background-color:#cccccc; } .showpagePoint { color:#333; text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; background: #cccccc; margin:0 3px; padding:3px; } .showpageOf { text-decoration:none; padding:3px; margin: 0 3px 0 0; } .showpage a { text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; padding:3px; } .showpage a:hover { text-decoration:none; } .showpageNum a:link,.showpage a:link { text-decoration:none; color:#333333; }

Flash Labels by Way2Blogging

Kamis, 22 Mei 2014

THE STORY YOU DIDN’T KNOW[PART 4]



ANNYEONG~
Setelah sekian lama akhirnya FF ini bisa dilanjutkan juga. Sorry Sky for late post. Semoga kamu suka, ya. Dan semoga bisa dilanjutkan hingga akhir.

H.E.L.L.O
Buat para silent reader, pengunjung diam-diam. Ayo, suara pendapat dan kritikannya mana? Sahutan kalian vitamin loh buat penulisnya. Ayo, tunjukkan jejak kalian.

SO,
HAPPY READING

^^^^

TITLE : [REQ FF] // THE STORY YOU DIDN’T KNOW // PART 4

AUTHOR     : EVERG

GENRE : SAD (?), FANTASY

Main CAST       :
·         KEY

·         Jihyun 4minutes

·         Ryu Ah Young as PURE


Support Cast    :
·         Lee Taemin (Angel)

WARNING    :
Abal-abal, DON’T LIKE DON’T READ, NO COPAS, banyak miss typo

DISCLAIMER      :
Karakter tokoh tidak sesuai aslinya. Hanya berupa hasil imajinasi author. Seluruh hak cipta penulisan karakter, alur dalam cerita yang tertulis asli milik author.

NOTE !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Bila ada karakter idol kalian yang tidak biasa itu karena tuntutan peran :p. Jangan marah ke author.. marah saja ke orang lain di samping anda Hehehe

HAPPY READING

RCL Please

EPISODE SEBELUMNYA

TEASER II PART 1 II PART 2 II PART 3 II
^^^^

THE STORY YOU DIDN’T KNOW



PART 4

Dapat satu langkah lebih dekat denganmu dapat menghapus beribu-ribu ketakutan dan kehawatiranku. Bila ini hanya satu cerita dalam mimpiku, aku berharap aku tak pernah terbangun dan terkunci dalam mimpi itu. Karena untukku, lebih baik aku tertidur selamanya namun berada di dekatmu. Daripada aku hidup di dunia nyata namun kau tak pernah bersamamu.
^^^^
Key memasukkan majalah dan beberapa album foto lama ke dalam kardus coklat berukuran cukup besar. Melihat dan menemukan barang-barang lama ini membuatnya mengingat kenangan. Sesekali senyuman tergambar di wajah Key saat kenangan yang menempel pada benda-benda itu berpendar di ingatannya.

Key tertawa kecil saat melihat foto yang telah berubah kusam. Menampilkan Jihyun dan dirinya saat kecil. Jihyun tersenyum lebar sekai di foto itu. Dengan jari berbentuk “V”. Sedangkan dirinya yang berada di samping Jihyun memanyunkan bibir dengan wajah belepotan krim kue. Ada rasa sesak sekaligus bahagia menganga di dadanya. Mengingat kejadian itu, dimana saat itu bertepatan dengan hari Ayah Key yang kejam masuk penjara. Dan saat itu pula Jihyun menjadi malaikat penyelamatnya, datang membawa kue untuk merayakan ulang tahun Key –ulang tahun ke-11-.

Suasana nostalgia itu terusik dengan nada dering ponsel Key. Tanpa melihat id penelpon, Key langsung menekan tombol hijau, meletakkan ponsel di telinga kirinya.Nada dering itu hanya untuk satu orang saja, 

“Jihyun, ya aku sudah membereskan loteng rumah. Ada beberapa yang datang hari ini, tapi hatiku masih tak rela untuk menyerahkan rumah ini pada salah satu diantara mereka.” Key menghela nafasnya pelan. “Seperti katamu, aku pasti menjual rumah ini.” Key memandang langit-langit loteng, “Aku hanya akan memberikan rumah ini pada orang yang tepat. Bagaimana pun juga-“ Pembicaraan terputus begitu saja. Key memandang layar ponselnya sejenak lalu memasukkan kembali ponsel itu ke dalam saku celananya.

Key pun berjalan menuruni tangga melingkar menuju lantai bawah. Memandangi setiap sudut ruangan di hadapannya. Mendudukkan tubuhnya di sofa kulit berwarna merah maroon. Pandangannya menerawang. Rela tidak rela bila rumah ini dijual.

“Kau harus menjual rumah ini, Key. Rumah ini berisi banyak kenangan buruk dan itu membawa kesialan.” Ucap Jihyun tepat sebulan setelah Ibu Key meninggal.

Key mendesah. Seperti perkataan Jihyun, rumah ini memang lebih banyak terisi kenangan saat ayahnya bersikap kasar pada dirinya maupun pada Ibunya. Lebih banyak sudut-sudut menyesakkan di rumah ini, tapi mengingat bagaimana berartinya rumah ini untuk Ibunya, ada rasa enggan untuk menyerahkan rumah ini pada orang lain.

Ibunya selau giat membersihkan setiap inci rumah tanpa bentuan siapapun. Ibunya hapal setiap ada benda yang hilang ataupun berpindah dari posisinya. Ditambah taman mawar dan anggrek yang berada di halaman samping adalah tempat favorit ibunya. Kenangan-kenangan ini tak mungkin bisa ditinggalkan begitu saja.

Berdebat dengan Jihyun adalah hal melelahkan. Mengingat Key tak akan pernah bisa menang bila sudah berdebat dengan Jihyun. Lebih tepatnya sengaja mengalah. Karena Key tak bisa melihat tak ada senyum di wajah Jihyun. Dan dia sudah berjanji untuk terus menjaga senyum itu.
^^^^
Pure sibuk menggerakkan kedua sayapnya, sesekali menutupkan kedua matanya saat angin menerpa wajahnya. Matanya menatap lalu lalang manusia bertubuh kecil di bawah. Senyum tak hilang. Akhirnya setelah sekian lama ada juga mimpinya yang terwujud. Pure menggerakkan sayapnya dengan tidak sabar.

Kaki Pure mendarat dengan mulus di tanah pekarangan rumah Key. Latihan terbang dan mendarat dengan Taemin terlihat hasilnya. Pure pun mulai melangkahkan kakinya menuju teras rumah Key. Keningnya berkerut saat tak menemukan sosok Key di sana. “Bukankah biasanya Key sedang bermain alunan nada itu di sini?”

Kaki Pure berjalan perlahan -tepatnya menerobos- pintu rumah Key. Pure berhenti saat melihat sosok Key yang sedang berbaring di lantai ruang tengah. Kedua mata Key menatap langit-langit. Sesekali dia tertawa dengan sorot mata pedih. Dan terdengar runtukan memaki dari bibirnya.

Dengan perlahan Pure mendekati tubuh Key. Menutup kedua mata saat tangannya hendak mengulur ke arah Key. Takut tembok penyekat itu akan membuat tubuhnya terpental seperti waktu itu. saat merasakan tak terjadi apapun, Pure mendekat lalu berlutut di samping Key. Iris mata birunya menatap lekat lekukan wajah Key. “Hello, Key.” Ucap Pure sambil tersenyum lebar.

Selamat atas kelulusan kalian. Untuk para angel yang lulus ke tingkat selanjutnya, kaian akan menperoleh daftar tugas. Dan untuk angel tingkat dasar,” melirik ke arah Pure –satu-satunya angel tanpa sayap yang berhasil bertahan dari rasa sakit- yang tersenyum lebar. “Lakukan sesukamu saja.” Segeralah Pure berlatih terbang dan mendarat lalu mendatangi Key.

“Kau sangat berarti, sama seperti arti rumah ini, untukku.” Ucapan lirih Key membuat Pure tersadar dari lamunannya. Pure memiringkan kepalanya lalu menatap Key yang kini telah berbaring sambil menutup rapat kedua matanya. Pure hendak menyentuh kening Key yang berkerut namun segera diurungkan.

Menghela nafas lalu duduk di samping Key dengan melipat kedua kakinya. “Apa yang harus aku lakukan?” Pure menghela nafas –lagi-. Dia tak memiliki buku pedoman seperti Taemin ataupun daftar tugas yang bisa dilakukan untuk menjadi guardian angel seorang manusia. Dan perkataan dewan majelis soal berbuat sesukanya membuat kepala Pure berdenyut-denyut.

“Melakukan sesukanya itu seperti apa?” Pure melirik ke arah Key lagi, lalu mengikuti Key yang berbaring. Ia mendekatkan tangannya di samping tangan Key. Memandangi Key membuat denyutan di kepalanya seketika menghilang. Pure pun itu menutup matanya.
^^^^
Key sedang duduk di sebuah padang rumput yang ditumbuhi ilalang tinggi. Bersandar di salah satu pohon tinggi di padang rumput itu. Membiarkan angin menyapu wajahnya. Suara ilalang yang digoyangkan angin terdengar menentramkan hati.

Menghela nafas berulang saat wajah Jihyun berkelebat di pikiranya. Pertengkaran seperti sebelumnya terjadi kareba bahasan yang sama.

Setelah orang yang melihat rumahnya pergi, Jihyun datang ke rumah Key. Gadis itu memasuki rumah Key sambil sesekali berteriak memanggil nama Key. Hingga akhirnya gadis itu menemukan Key yang sedang menyirami bunga mawar milik Ibunya.

“Kau disini teryata,” Jihyun langsung saja meletakkan tas yang dibawanya di atas meja yang terletak di samping taman mawar. Duduk menyandarkan punggungnya di kuri. “Tadi ada yang datang melihat rumahmu? Siapa yang kau pilih untuk membeli rumahmu?”

“Mereka akan membangun kolam renang di taman mawar ini, jadi aku menolak tawaran mereka.” Key tersenyum tipis sambil menyirami mawar berwarna merah dan orange.

Jihyun memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan telapak tangan kanannya. Terus menatap Key yang kini sedang menggunting batang mawar yang mengering. “Lalu sampai kapan aku harus menunggu? Orang itu terus menggangguku.” Nada suara Jihyun sedikit meninggi.

Key meletakkan penyiram tanamannya. Mencuci kedua tangannya dengan air kran. Kemudian berjalan mendekati Jihyun, duduk di hadapan Jihyun. “Pindahlah kemari, aku akan selau menjagamu. Kau tahu kan betapa berharganya rumah ini sama pentingnya dengan dirimu.” Key tersenyum lembut. Kedua mata lancipnya menatap Jihyun teduh.

Jihyun menyandarkan kembali punggungnya ke sandaran kursi. “Selau ada yang lebih penting dari yang lain. Kalau kau ingin mempertahankan rumah ini, lakukanlah. Aku bisa menyelesaikan masalahku tanpa campur tangan darimu.” Jihyun mengambil tasnya lalu meninggalkan Key yang duduk mematung.

20 menit berlalu dan Key masih duduk di tempat yang sama. Memandang pantulan taman mawar pada kaca di hadapannya. Getaran pada saku celananya membuat Key segera mengambil ponselnya lalu beranjak dari kursi dan masuk ke dalam mobil. Melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Beberapa kali membunyikan klakson dengan tidak sabar saat ada mobil yang menurutnya berjalan begitu lambat. Memukul stir saat lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah.

Saat mobil Key berhenti pada sebuah perempatan lampu merah, rasanya mata Key ingin keluar dar tempatnya. Di hadapannya saat ini Jihyun sedang menyebrang jalan bersama seorang lelaki sambil memakan es krim. Dan lelaki itu menggoda Jihyun dengan menempelkan es sedikit es krim d hidung Jihyun. Setelahnya mereka berciuman di tengah zebra cross.


Key terus menatap mereka walaupun lampu lalu lintas sudah berubah hijau. Karena mobil di belakangnya terus membunyikan klakson akhirnya Key pun melajukan mobilnya. Meninggalkan Jihyun dan lelaki itu begitu saja. ”Bukan begitu cara membuat seseorang pergi.”


Key menyentuh dadanya, terasa debaran keras di dalam sana. Rasa sesak dan ngilu menyertai setiap debaran itu. key mencengram kemejanya, bukankah dia sudah terbiasa dengan ini? Bukankah dia sudah berjanji untuk selalu membuat Jihyun bahagia? tapi, rasanya tak bisa setulus itu.

Seketika Key berdiri saat merasakan sentuhan di pipi kanannya. Mata Key terbelalak saat melihat sosok di sampingnya. Seorang gadis berambut hitam panjang dengan sayap abu-abu tersenyum memandangnya. Key pun memundurkan tubuhnya perlahan.

“Ini benar-benar, Key? Aku bahkan bisa menyentuhnya!” Gadis itu melihat telapak tangannya yang sudah menyentuh pipi Key dengan kedua mata yang membulat. Kembali menatap wajah Key dengan iris mata birunya yang semakin berbinar. Lalu merangkak hendak mendekati Key. Key kembali mundur. “Aneh, kenapa Key mundur seperti itu? Apa itu salah satu permainan manusia?” ucap gadis itu lagi. mendengarnya membuat Key semakin ingin berlari pergi dari tempat entah apa ini. Namun kakinya terlalu berar untuk diangkat.

“Sekarang aku dimana? Bukankah tadi aku berbaring di ruang tengah rumah Key?” Gadis itu menatap sekeliling. Ilalang bergerak tertiup angin.

“Kau siapa? Kau mengenalku?”

“Kau bisa melihatku?” Gadis itu terbelak lebih lebar dari sebelumnya. Mendekati Key dnegan cepat lalu menatap lekat mata Key. Spontan, Key mendorong kedua bahu gadis itu, membuat sang gadis terbaring begitu saja di rerumputan. “Bahkan dia bisa menyentuhku.” Pekik gadis itu dengan tubuh kaku. “Wah, aku harus menanyakan hal ini pada master Taemin.” Gumamnya.

“Kau siapa? Kau bilang kau berada di ruang tengah rumahku? Bagaimana bisa? Lalu tempat apa ini?”

Rentetan pertanyaan Key membuat gadis itu terbangun dan duduk bersila di hadapan Key. Key langsung emngangkat salah satu tangannya untuk membuat gadis itu tidak mendekatinya lebih jauh.

“Aku Pure,” Pure membungkukkan tubuhnya. “Aku juga tak tahu mengapa kita berada di tempat ini. Dan mengapa aku bisa berkomunikasi denganmu. Aku hanya angel tingkat dasar dan aku-“ Gadis bernama Pure itu segera menutup mulutnya dengan telapak tangan saat mendengar pekikan Key.

“Ini gila! Angel tingkat dasar? Kau pikir aku akan percaya?” Teriak Key. Saat melihat sepasang sayap abu-abu di punggung Pure langsung saja bibir Key terkatup. Key pun menampar kedua pipinya berulang kali. Pure hendak menghentikan Key namun saat mengingat perintah Key untuk tak mendekatinya, Pure berusaha menahan dorongan untuk mendekati Key. “Tak terasa sakit, aku pasti sedang bermimpi.” Key menghela nafas lega lalu kembali duduk di rerumputan. “Ini hanya mimpi,” ulangnya lagi.

“Apa kau takut padaku?” Pure menatap Key takut-takut. Mata Key yang lancip tiba-tiba menatap ke arahnya, membuat Pure menelan ludahnya dengan susah payah. Kemudian dilihatnya Key tersenyum tipis.

“Ini hanya mimpi bukan? Jadi kau tak akan membuatku takut. Lagi pula wajahmu tak seperti hantu jadi mimpi ini lebih tepat dibilang aneh daripada menyeramkan.” Key menepuk tempat kosong di samping tempatnya duduk.

Pure menunjuk wajahnya, Key mengangguk. Perlahan Pure duduk di samping Key, angin lembut pun berhembus. “Apa ini sayap asli?” Key tertawa sambil menyentuh sayap abu-abu milik Pure. “Di mimpi kau bisa menjadi siapapun, keren sekali.” Key tersenyum lembut lalu berbaring. Menjadikan kedua lengannya sebagai alas kepala.

“Aku lega senyum itu ada lagi.” ucap Pure tanpa sadar. Key melirik sebentar kearah Pure lalu kembali menatap langit.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Namamu itu asing untuk orang Korea. Bagaimana bisa kau seakan tahu diriku? Rasanya tak enak saat orang lain mengingatmu sedangkan dirimu sendiri tidak.”

“Kita tak pernah bertemu dan kau tak perlu mengenalku.” Biarkan aku selalu menatapmu diam-diam. Pure menunduk.

“Atau jangan-jangan kau seperti sponge bob yang bisa datang ke mimpi seseorang untuk mengacaukan mimpi itu.” Key tertawa. “Kau berwujud seperti ini agar tak ketahuankan bila kita bertemu di dunia nyata, bukan? Beritahu aku bagaimana caranya.” Kekeh Key.

“Bisahlah senyum itu selau tergambar di wajahmu, Key?” Lagi-lagi Pure berucap tanpa sadar membuat senyum Key menghilang.

“Kau ini sebenarnya siapa?” Key menatap iris biru Pure lekat.

Pure menggeleng, “Kau tak mengenalku, Key. Seperti katamu, aku hanya benda asing yang datang ke mimpimu. Tapi aku bukan untuk mengacaukan mimpi seperti spongebob itu.” Key menahan tawa melihat wajah Pure yang begitu serius. “Melihat wajahmu yang tersenyum seperti ini jauh lebih baik.”

Key berdehem, mengalihkan pandannya saat sorot mata Pure meredup. Dia bilang kami tidak saling mengenal tapi wajahku yang sedih mengapa begitu mengganggu untuknya?

“Jika kau bersedih atau sedang kesal kenapa tak kau lepaskan saja? Misalnya dengan berteriak atau menceritakannya? Saat aku sedih aku selalu bercerita pada gumpalan awan dan setelahnya di dalam sini terasa ringan.” Pure menyentuh dada Key dengan telunjuknya. Melihat Key yang tak bergeming, Pure menunduk.

“Di mimpi kau bisa berbicara apapun bukan? Kau mau mendengarkanku? Ini akan sedikit membosankan.” Pure seketika mengangkat wajahnya dan mengangguk. melihat kedua iris Pure kembali berbinar, membuat lengkungan tergambar di bibir Key. “Tapi namamu terasa mengganjal, maaf. Namamu yang tak biasa membuatmu terasa semakin asing. Dan ganjil bila kau berbicara tentang masalah pribadimu dengan orang asing walau di dalam mimpi sekaipun.”

Kau bukan orang yang asing bagiku, Key. “Aku tak tahu nama lain yang biasa dipakai manusia sepertimu.” Jawab Pure cepat.

Awalnya kaget mendengar jawaban Pure. Namun saat melihat wajah polos Pure, Key tertawa sebentar. “Oh ya, kau kan sedang menjada makhluk bersayap agar orang yang mimpinya kau kacaukan tak mengenalmu.”

“Aku tak akan mengacaukan mimpimu. Aku mau membantumu.” Jawab Pure dengan wajah serius. Mata bulatnya semakin bulat.

“Aku hanya bercanda,” Key menyentuh puncak kepala Pure, Pure tertegun. Angin berhembus sedikit lebih kencang dibandingkan sebelumnya. “Bagaimana kalau Ah Young. Kau akan terlihat lebih manusia.” Pure mengangguk. “Ah Young, kau mau mendengarkan ceritaku?” Pure –yang sekarang bernama Ah Young- menganggukkan kepalanya dengan cepat.

Key pun mulai menceritakan alasan yang membuatnya bersedih. Sesekali Ah Young melontarkan kekesalannya tentang tingkah Jihyun begitu saja. Terkadang membuat Key tersenyum geli melihat Ah Young yang begitu mengebu-gebu mendengarkan ceritanya. Mengeluarkan segalanya seperti ini terasa jauh lebih ringan. Hal-hal yang sebelumnya terasa menyakitkan kini terlihat lucu.

“Membuatnya bahagia bukan berarti kau selalu menuruti perkataannya.” Key Tertergun, wajahnya menegang. “Kau juga berhak mendapatkan hal yang kau inginkan. Jika terus seperti ini bukankah akan semakin menyiksa?”

“Aku sudah berjanji dan-“

“Kau bodoh kau menyiksa dirimu atas nama kebahagiaan seseorang. Itu semu, Key. Dan itu terasa sakit lebih dari yang kau rasakan.” Mata Key terbuka lebar saat mendengar suara Ah Young bergetar. Namun segera ditepisnya saat mata biru Ah Young menatapnya.

“Dia adalah malaikat penyelamatku. Dan aku akan melakukan apapun demi selalu melihat senyumannya.”

“Apa tugas seorang guardian angel seperti itu?” Key terdiam. Kalau memang seperti itu, aku akan melakukan hal yang sama. Tak akan membiarkan senyummu menghilang.

“Entahlah,” ucap Key setelah keheningan beberapa saat. Key menutup matanya, tiupan angin membuat kedua mata Key semakin berat. Ah Young menatap wajah Key lalu berbaring di sampingnya. Menatap awan berbagai bentuk yang bergerak di langit.

“Key, jangan bersedih lagi.” bisik Ah Young.

“Datanglah lagi, Young.” Key tersenyum. “Terima kasih kau takmengacaukan mimpiku.” Key tertawa pelan tanpa membuka kedua matanya. Pure menatap wajah Key dari samping lalu ikut menutup kedua matanya.

Dan seperti perminataan Key, Pure akan datang sebagai Ah Young, mengunjungi Key dalam mimpi. Saat Key kelelahan, marah, sakit karena Jihyun atau saat Key penant dengan pekerjaan dan hidupnya. di dalam mimpi itu tidak hanya Pure yang bisa tertawa lebar dan bahagia, Key pun merasakannya. Dan perkataan Pure seakan mantra ajaib bagi hidupnya.
^^^^
Ruang aula majelis kala itu hanya diisi beberapa dewan juga beberapa guardian angel pengawas, dan angel eksekutor. Taemin –angel eksekutor- pun berada di sana.

Suara dengusan terdengar diantara para guardian angel yang berada di aula. Mengingat jadwal pertemuan ini tak tertulis di buku agenda. Mereka tiba-tiba tertarik ke portal dan berakhir di sini.

Taemin tidak memusingkan pertemuan kali ini. Dia hanya berharap pertemuan kali ini cepat selesai. Melihat daftar angel yang harus dimusnahkannya membuat Taemin menghela nafas dalam. Semenjak dia mengenal Pure, mengeksekusi angel tak bersayap sedikit terasa mengganggu. Terkadang membayangkan Pure dalam posisi itu. Hal yang seharusnya tak dirasakannya.

Sang ketua dewan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Melihat kertas daftar di tangan, lalu mengetuk palu ke meja. Suara riuh pun menghilang.

“Terima kasih kalian sudah hadir. Dan maaf karena pertemuan kali ini pekerjaan kalian terganggu. Kalian adalah para angel terpilih sehingga kalian patut hadir di pertemuan rahasia ini. Kalian harus menjaga rahasia ini dari siapapun dan jika kalian melanggar, menjadi abu adalah hukuman kalian.”

Suara riuh kembali terdengar. Sang ketua dewan pun kembali mengetuk meja dengan palu. “Ucapkan sumpah kalian.” Semua angel pun berdiri dan mengucapkan sumpah kecuali Taemin yang masih duduk mencatat sesuatu di buku agenda. Tubuhnya tertutupi oleh para angel  yang berdiri.

“Seperti kalian ketahui ada satu angel tanpa sayap yang lolos tes dan dianugrahi sayap.” Para angel pun kembali duduk dan mulai memperhatikan selubung putih yang terbentuk saat tangan ketua dewan bergerak menyapu udara. Menampilkan Pure yang berjalan mengikuti Key.

“Dan aku memanggil kalian kemari untuk memilih salah satu dari kalian untu menjadi angel pengawasnya. Angel tingkat rendah sepertinya tak diperbolehkan menjadi guardian angel apalagi mencampuri kehidupan seorang manusia.” Kabut putih itu menghilang, ketua dewan pun menatap satu persatu angel yang hadir.

Keriuhan lagi-lagi terjadi. Para angel merasa keberatan harus menjadi pengawas angel tingkat rendah. Tugas mereka jauh lebih penting dibandingkan mengamati segala tingkah angel tingkat rendah yang harusnya dimusnahkan saja.

“Kenapa makhluk itu lulus tes?”

“Merepotkan saja.”

“Kenapa tidak tangan berdarah itu saja yang mengawasinya?” Celetukkan terakhir membuat suasana aula menjadi hening. Pandnagan pun mengarah ke sumber suara. Angel yang ditatap semua orang itu menjadi salah tingkah.

“Maksudku kenapa tidak angel eksekutor saja? Dia bertugas menjaga keteraturan dan tegaknya peraturan bukan? Dan dia juga berada di sini.” angel itu menunjuk Taemin yang masih terpaku dnegan buku agendanya. Tak menyadari semua mata menatap ke arahnya.
.
.
.
TEBECE

Panjang sekali ini..
Semoga comment kalian pun panjang ya
Lanjut tidak?


PPYONG~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar