ANNYEONG~
Setelah sekian lama akhirnya FF ini bisa dilanjutkan
juga. Sorry Sky for late post. Semoga kamu suka, ya. Dan semoga bisa
dilanjutkan hingga akhir.
H.E.L.L.O
Buat para silent reader, pengunjung diam-diam. Ayo,
suara pendapat dan kritikannya mana? Sahutan kalian vitamin loh buat
penulisnya. Ayo, tunjukkan jejak kalian.
SO,
HAPPY READING
^^^^
TITLE : [REQ FF] // THE STORY YOU DIDN’T KNOW // PART
4
AUTHOR : EVERG
GENRE : SAD (?), FANTASY
Main
CAST :
·
KEY
·
Jihyun 4minutes
·
Ryu Ah Young as
PURE
Support
Cast :
·
Lee Taemin
(Angel)
WARNING :
Abal-abal, DON’T LIKE DON’T READ, NO
COPAS, banyak miss typo
DISCLAIMER :
Karakter tokoh
tidak sesuai aslinya. Hanya berupa hasil imajinasi author. Seluruh hak cipta
penulisan karakter, alur dalam cerita yang tertulis asli milik author.
NOTE !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Bila ada karakter
idol kalian yang tidak biasa itu karena tuntutan peran :p. Jangan marah ke
author.. marah saja ke orang lain di samping anda Hehehe
HAPPY READING
RCL Please
^^^^
THE STORY YOU DIDN’T KNOW
PART 4
Dapat
satu langkah lebih dekat denganmu dapat menghapus beribu-ribu ketakutan dan
kehawatiranku. Bila ini hanya satu cerita dalam mimpiku, aku berharap aku tak
pernah terbangun dan terkunci dalam mimpi itu. Karena untukku, lebih baik aku
tertidur selamanya namun berada di dekatmu. Daripada aku hidup di dunia nyata
namun kau tak pernah bersamamu.
^^^^
Key memasukkan
majalah dan beberapa album foto lama ke dalam kardus coklat berukuran cukup
besar. Melihat dan menemukan barang-barang lama ini membuatnya mengingat
kenangan. Sesekali senyuman tergambar di wajah Key saat kenangan yang
menempel pada benda-benda itu berpendar di ingatannya.
Key tertawa
kecil saat melihat foto yang telah berubah kusam. Menampilkan Jihyun dan
dirinya saat kecil. Jihyun tersenyum lebar sekai di foto itu. Dengan jari
berbentuk “V”. Sedangkan dirinya yang berada di samping Jihyun memanyunkan
bibir dengan wajah belepotan krim kue. Ada rasa sesak sekaligus bahagia
menganga di dadanya. Mengingat kejadian itu, dimana saat itu bertepatan dengan
hari Ayah Key yang kejam masuk penjara. Dan saat itu pula Jihyun menjadi
malaikat penyelamatnya, datang membawa kue untuk merayakan ulang tahun Key
–ulang tahun ke-11-.
Suasana
nostalgia itu terusik dengan nada dering ponsel Key. Tanpa melihat id penelpon,
Key langsung menekan tombol hijau, meletakkan ponsel di telinga kirinya.Nada dering itu
hanya untuk satu orang saja,
“Jihyun, ya aku sudah membereskan loteng rumah. Ada beberapa yang datang hari ini, tapi hatiku masih tak rela untuk menyerahkan rumah ini pada salah satu diantara mereka.” Key menghela nafasnya pelan. “Seperti katamu, aku pasti menjual rumah ini.” Key memandang langit-langit loteng, “Aku hanya akan memberikan rumah ini pada orang yang tepat. Bagaimana pun juga-“ Pembicaraan terputus begitu saja. Key memandang layar ponselnya sejenak lalu memasukkan kembali ponsel itu ke dalam saku celananya.
“Jihyun, ya aku sudah membereskan loteng rumah. Ada beberapa yang datang hari ini, tapi hatiku masih tak rela untuk menyerahkan rumah ini pada salah satu diantara mereka.” Key menghela nafasnya pelan. “Seperti katamu, aku pasti menjual rumah ini.” Key memandang langit-langit loteng, “Aku hanya akan memberikan rumah ini pada orang yang tepat. Bagaimana pun juga-“ Pembicaraan terputus begitu saja. Key memandang layar ponselnya sejenak lalu memasukkan kembali ponsel itu ke dalam saku celananya.
Key pun berjalan
menuruni tangga melingkar menuju lantai bawah. Memandangi setiap sudut ruangan
di hadapannya. Mendudukkan tubuhnya di sofa kulit berwarna merah maroon.
Pandangannya menerawang. Rela tidak rela bila rumah ini dijual.
“Kau harus menjual rumah ini, Key. Rumah ini berisi
banyak kenangan buruk dan itu membawa kesialan.” Ucap Jihyun
tepat sebulan setelah Ibu Key meninggal.
Key mendesah.
Seperti perkataan Jihyun, rumah ini memang lebih banyak terisi kenangan saat
ayahnya bersikap kasar pada dirinya maupun pada Ibunya. Lebih banyak
sudut-sudut menyesakkan di rumah ini, tapi mengingat bagaimana berartinya rumah
ini untuk Ibunya, ada rasa enggan untuk menyerahkan rumah ini pada orang lain.
Ibunya selau
giat membersihkan setiap inci rumah tanpa bentuan siapapun. Ibunya hapal setiap
ada benda yang hilang ataupun berpindah dari posisinya. Ditambah taman mawar
dan anggrek yang berada di halaman samping adalah tempat favorit ibunya.
Kenangan-kenangan ini tak mungkin bisa ditinggalkan begitu saja.
Berdebat dengan Jihyun
adalah hal melelahkan. Mengingat Key tak akan pernah bisa menang bila sudah
berdebat dengan Jihyun. Lebih tepatnya sengaja mengalah. Karena Key tak bisa
melihat tak ada senyum di wajah Jihyun. Dan dia sudah berjanji untuk terus menjaga
senyum itu.
^^^^
Pure sibuk
menggerakkan kedua sayapnya, sesekali menutupkan kedua matanya saat angin
menerpa wajahnya. Matanya menatap lalu lalang manusia bertubuh kecil di bawah.
Senyum tak hilang. Akhirnya setelah sekian lama ada juga mimpinya
yang terwujud. Pure menggerakkan sayapnya dengan tidak sabar.
Kaki Pure
mendarat dengan mulus di tanah pekarangan rumah Key. Latihan terbang dan
mendarat dengan Taemin terlihat hasilnya. Pure pun mulai melangkahkan kakinya
menuju teras rumah Key. Keningnya berkerut saat tak menemukan sosok Key di sana.
“Bukankah biasanya Key sedang bermain alunan nada itu di sini?”
Kaki Pure berjalan perlahan -tepatnya menerobos- pintu rumah Key. Pure berhenti
saat melihat sosok Key yang sedang berbaring di lantai ruang tengah. Kedua mata
Key menatap langit-langit. Sesekali dia tertawa
dengan sorot mata pedih. Dan terdengar runtukan memaki dari bibirnya.
Dengan perlahan
Pure mendekati tubuh Key. Menutup kedua mata saat tangannya hendak mengulur ke
arah Key. Takut tembok penyekat itu akan membuat tubuhnya terpental seperti
waktu itu. saat merasakan tak terjadi apapun, Pure mendekat lalu berlutut di
samping Key. Iris mata birunya menatap lekat lekukan wajah Key. “Hello, Key.”
Ucap Pure sambil tersenyum lebar.
Selamat atas
kelulusan kalian. Untuk para angel yang lulus ke tingkat selanjutnya, kaian
akan menperoleh daftar tugas. Dan untuk angel tingkat dasar,” melirik ke arah
Pure –satu-satunya angel tanpa sayap yang berhasil bertahan dari rasa sakit-
yang tersenyum lebar. “Lakukan sesukamu saja.” Segeralah Pure berlatih terbang
dan mendarat lalu mendatangi Key.
“Kau sangat
berarti, sama seperti arti rumah ini, untukku.” Ucapan lirih Key membuat Pure
tersadar dari lamunannya. Pure memiringkan kepalanya lalu menatap Key yang kini
telah berbaring sambil menutup rapat kedua matanya. Pure hendak menyentuh
kening Key yang berkerut namun segera diurungkan.
Menghela nafas
lalu duduk di samping Key dengan melipat kedua kakinya. “Apa yang harus aku
lakukan?” Pure menghela nafas –lagi-. Dia tak memiliki buku pedoman seperti
Taemin ataupun daftar tugas yang bisa dilakukan untuk menjadi guardian angel seorang manusia. Dan
perkataan dewan majelis soal berbuat sesukanya membuat kepala Pure
berdenyut-denyut.
“Melakukan
sesukanya itu seperti apa?” Pure melirik ke arah Key lagi, lalu mengikuti Key
yang berbaring. Ia mendekatkan tangannya di samping tangan Key. Memandangi Key
membuat denyutan di kepalanya seketika menghilang. Pure pun itu menutup
matanya.
^^^^
Key sedang duduk
di sebuah padang rumput yang ditumbuhi ilalang tinggi. Bersandar di salah satu
pohon tinggi di padang rumput itu. Membiarkan angin menyapu wajahnya. Suara
ilalang yang digoyangkan angin terdengar menentramkan hati.
Menghela nafas
berulang saat wajah Jihyun berkelebat di pikiranya. Pertengkaran seperti
sebelumnya terjadi kareba bahasan yang sama.
Setelah orang
yang melihat rumahnya pergi, Jihyun datang ke rumah Key. Gadis itu memasuki
rumah Key sambil sesekali berteriak memanggil nama Key. Hingga akhirnya gadis
itu menemukan Key yang sedang menyirami bunga mawar milik Ibunya.
“Kau disini
teryata,” Jihyun langsung saja meletakkan tas yang dibawanya di atas meja yang
terletak di samping taman mawar. Duduk menyandarkan punggungnya di kuri. “Tadi
ada yang datang melihat rumahmu? Siapa yang kau pilih untuk membeli rumahmu?”
“Mereka akan membangun
kolam renang di taman mawar ini, jadi aku menolak tawaran mereka.” Key
tersenyum tipis sambil menyirami mawar berwarna merah dan orange.
Jihyun memajukan
tubuhnya, menopang dagu dengan telapak tangan kanannya. Terus menatap Key yang
kini sedang menggunting batang mawar yang mengering. “Lalu sampai kapan aku
harus menunggu? Orang itu terus menggangguku.” Nada suara Jihyun sedikit
meninggi.
Key meletakkan
penyiram tanamannya. Mencuci kedua tangannya dengan air kran. Kemudian berjalan
mendekati Jihyun, duduk di hadapan Jihyun. “Pindahlah kemari, aku akan selau
menjagamu. Kau tahu kan betapa berharganya rumah ini sama pentingnya dengan
dirimu.” Key tersenyum lembut. Kedua mata lancipnya menatap Jihyun teduh.
Jihyun
menyandarkan kembali punggungnya ke sandaran kursi. “Selau ada yang lebih
penting dari yang lain. Kalau kau ingin mempertahankan rumah ini, lakukanlah. Aku
bisa menyelesaikan masalahku tanpa campur tangan darimu.” Jihyun mengambil
tasnya lalu meninggalkan Key yang duduk mematung.
20 menit berlalu
dan Key masih duduk di tempat yang sama. Memandang pantulan taman mawar pada
kaca di hadapannya. Getaran pada saku celananya membuat Key segera mengambil
ponselnya lalu beranjak dari kursi dan masuk ke dalam mobil. Melajukan
mobilnya dengan kecepatan penuh. Beberapa kali membunyikan klakson dengan tidak
sabar saat ada mobil yang menurutnya berjalan begitu lambat. Memukul stir saat
lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah.
Saat mobil Key
berhenti pada sebuah perempatan lampu merah, rasanya mata Key ingin keluar dar
tempatnya. Di hadapannya saat ini Jihyun sedang menyebrang jalan bersama
seorang lelaki sambil memakan es krim. Dan lelaki itu menggoda Jihyun dengan
menempelkan es sedikit es krim d hidung Jihyun. Setelahnya mereka berciuman di
tengah zebra cross.
Key terus
menatap mereka walaupun lampu lalu lintas sudah berubah hijau. Karena mobil di
belakangnya terus membunyikan klakson akhirnya Key pun melajukan mobilnya.
Meninggalkan Jihyun dan lelaki itu begitu saja. ”Bukan begitu cara membuat
seseorang pergi.”
Key menyentuh
dadanya, terasa debaran keras di dalam sana. Rasa sesak dan ngilu menyertai
setiap debaran itu. key mencengram kemejanya, bukankah dia sudah terbiasa
dengan ini? Bukankah dia sudah berjanji untuk selalu membuat Jihyun bahagia?
tapi, rasanya tak bisa setulus itu.
Seketika Key berdiri saat merasakan sentuhan di pipi kanannya. Mata Key terbelalak saat
melihat sosok di sampingnya. Seorang gadis berambut hitam panjang dengan sayap
abu-abu tersenyum memandangnya. Key pun memundurkan tubuhnya perlahan.
“Ini
benar-benar, Key? Aku bahkan bisa menyentuhnya!” Gadis itu melihat telapak
tangannya yang sudah menyentuh pipi Key dengan kedua mata yang membulat.
Kembali menatap wajah Key dengan iris mata birunya yang semakin berbinar. Lalu
merangkak hendak mendekati Key. Key kembali mundur. “Aneh, kenapa Key mundur
seperti itu? Apa itu salah satu permainan manusia?” ucap gadis itu lagi.
mendengarnya membuat Key semakin ingin berlari pergi dari tempat entah apa ini.
Namun kakinya terlalu berar untuk diangkat.
“Sekarang aku
dimana? Bukankah tadi aku berbaring di ruang tengah rumah Key?” Gadis itu
menatap sekeliling. Ilalang bergerak tertiup angin.
“Kau siapa? Kau
mengenalku?”
“Kau bisa
melihatku?” Gadis itu terbelak lebih lebar dari sebelumnya. Mendekati Key
dnegan cepat lalu menatap lekat mata Key. Spontan, Key mendorong kedua bahu
gadis itu, membuat sang gadis terbaring begitu saja di rerumputan. “Bahkan dia
bisa menyentuhku.” Pekik gadis itu dengan tubuh kaku. “Wah, aku harus
menanyakan hal ini pada master Taemin.”
Gumamnya.
“Kau siapa? Kau
bilang kau berada di ruang tengah rumahku? Bagaimana bisa? Lalu tempat apa ini?”
Rentetan
pertanyaan Key membuat gadis itu terbangun dan duduk bersila di hadapan Key.
Key langsung emngangkat salah satu tangannya untuk membuat gadis itu tidak
mendekatinya lebih jauh.
“Aku Pure,” Pure
membungkukkan tubuhnya. “Aku juga tak tahu mengapa kita berada di tempat ini.
Dan mengapa aku bisa berkomunikasi denganmu. Aku hanya angel tingkat dasar dan aku-“ Gadis bernama Pure itu segera menutup
mulutnya dengan telapak tangan saat mendengar pekikan Key.
“Ini gila! Angel tingkat dasar? Kau pikir aku akan
percaya?” Teriak Key. Saat melihat sepasang sayap abu-abu di punggung Pure
langsung saja bibir Key terkatup. Key pun menampar kedua pipinya berulang kali.
Pure hendak menghentikan Key namun saat mengingat perintah Key untuk tak
mendekatinya, Pure berusaha menahan dorongan untuk mendekati Key. “Tak terasa
sakit, aku pasti sedang bermimpi.” Key menghela nafas lega lalu kembali duduk
di rerumputan. “Ini hanya mimpi,” ulangnya lagi.
“Apa kau takut
padaku?” Pure menatap Key takut-takut. Mata Key yang lancip tiba-tiba menatap
ke arahnya, membuat Pure menelan ludahnya dengan susah payah. Kemudian
dilihatnya Key tersenyum tipis.
“Ini hanya mimpi
bukan? Jadi kau tak akan membuatku takut. Lagi pula wajahmu tak seperti hantu
jadi mimpi ini lebih tepat dibilang aneh daripada menyeramkan.” Key menepuk
tempat kosong di samping tempatnya duduk.
Pure menunjuk
wajahnya, Key mengangguk. Perlahan Pure duduk di samping Key, angin lembut pun
berhembus. “Apa ini sayap asli?” Key tertawa sambil menyentuh sayap abu-abu milik
Pure. “Di mimpi kau bisa menjadi siapapun, keren sekali.” Key tersenyum lembut
lalu berbaring. Menjadikan kedua lengannya sebagai alas kepala.
“Aku lega senyum
itu ada lagi.” ucap Pure tanpa sadar. Key melirik sebentar kearah Pure lalu
kembali menatap langit.
“Apa kita pernah
bertemu sebelumnya? Namamu itu asing untuk orang Korea. Bagaimana bisa kau
seakan tahu diriku? Rasanya tak enak saat orang lain mengingatmu sedangkan
dirimu sendiri tidak.”
“Kita tak pernah
bertemu dan kau tak perlu mengenalku.” Biarkan
aku selalu menatapmu diam-diam. Pure menunduk.
“Atau
jangan-jangan kau seperti sponge bob
yang bisa datang ke mimpi seseorang untuk mengacaukan mimpi itu.” Key tertawa. “Kau
berwujud seperti ini agar tak ketahuankan bila kita bertemu di dunia nyata, bukan?
Beritahu aku bagaimana caranya.” Kekeh Key.
“Bisahlah senyum
itu selau tergambar di wajahmu, Key?” Lagi-lagi Pure berucap tanpa sadar
membuat senyum Key menghilang.
“Kau ini
sebenarnya siapa?” Key menatap iris biru Pure lekat.
Pure menggeleng,
“Kau tak mengenalku, Key. Seperti katamu, aku hanya benda asing yang datang ke
mimpimu. Tapi aku bukan untuk mengacaukan mimpi seperti spongebob itu.” Key menahan tawa melihat wajah Pure yang begitu
serius. “Melihat wajahmu yang tersenyum seperti ini jauh lebih baik.”
Key berdehem,
mengalihkan pandannya saat sorot mata Pure meredup. Dia bilang kami tidak saling mengenal tapi wajahku yang sedih mengapa
begitu mengganggu untuknya?
“Jika kau
bersedih atau sedang kesal kenapa tak kau lepaskan saja? Misalnya dengan
berteriak atau menceritakannya? Saat aku sedih aku selalu bercerita pada
gumpalan awan dan setelahnya di dalam sini terasa ringan.” Pure menyentuh dada
Key dengan telunjuknya. Melihat Key yang tak bergeming, Pure menunduk.
“Di mimpi kau
bisa berbicara apapun bukan? Kau mau mendengarkanku? Ini akan sedikit
membosankan.” Pure seketika mengangkat wajahnya dan mengangguk. melihat kedua
iris Pure kembali berbinar, membuat lengkungan tergambar di bibir Key. “Tapi
namamu terasa mengganjal, maaf. Namamu yang tak biasa membuatmu terasa semakin
asing. Dan ganjil bila kau berbicara tentang masalah pribadimu dengan orang
asing walau di dalam mimpi sekaipun.”
Kau bukan orang yang asing bagiku, Key. “Aku tak tahu
nama lain yang biasa dipakai manusia sepertimu.” Jawab Pure cepat.
Awalnya kaget
mendengar jawaban Pure. Namun saat melihat wajah polos Pure, Key tertawa
sebentar. “Oh ya, kau kan sedang menjada makhluk bersayap agar orang yang
mimpinya kau kacaukan tak mengenalmu.”
“Aku tak akan
mengacaukan mimpimu. Aku mau membantumu.” Jawab Pure dengan wajah serius. Mata
bulatnya semakin bulat.
“Aku hanya
bercanda,” Key menyentuh puncak kepala Pure, Pure tertegun. Angin berhembus
sedikit lebih kencang dibandingkan sebelumnya. “Bagaimana kalau Ah Young. Kau
akan terlihat lebih manusia.” Pure mengangguk. “Ah Young, kau mau mendengarkan
ceritaku?” Pure –yang sekarang bernama Ah Young- menganggukkan kepalanya dengan
cepat.
Key pun mulai
menceritakan alasan yang membuatnya bersedih. Sesekali Ah Young melontarkan
kekesalannya tentang tingkah Jihyun begitu saja. Terkadang membuat Key
tersenyum geli melihat Ah Young yang begitu mengebu-gebu mendengarkan
ceritanya. Mengeluarkan segalanya seperti ini terasa jauh lebih ringan. Hal-hal
yang sebelumnya terasa menyakitkan kini terlihat lucu.
“Membuatnya
bahagia bukan berarti kau selalu menuruti perkataannya.” Key Tertergun,
wajahnya menegang. “Kau juga berhak mendapatkan hal yang kau inginkan. Jika
terus seperti ini bukankah akan semakin menyiksa?”
“Aku sudah
berjanji dan-“
“Kau bodoh kau
menyiksa dirimu atas nama kebahagiaan seseorang. Itu semu, Key. Dan itu terasa
sakit lebih dari yang kau rasakan.” Mata Key terbuka lebar saat mendengar suara
Ah Young bergetar. Namun segera ditepisnya saat mata biru Ah Young menatapnya.
“Dia adalah
malaikat penyelamatku. Dan aku akan melakukan apapun demi selalu melihat
senyumannya.”
“Apa tugas
seorang guardian angel seperti itu?”
Key terdiam. Kalau memang seperti itu,
aku akan melakukan hal yang sama. Tak akan membiarkan senyummu menghilang.
“Entahlah,” ucap
Key setelah keheningan beberapa saat. Key menutup matanya, tiupan angin membuat
kedua mata Key semakin berat. Ah Young menatap wajah Key lalu berbaring di
sampingnya. Menatap awan berbagai bentuk yang bergerak di langit.
“Key, jangan
bersedih lagi.” bisik Ah Young.
“Datanglah lagi,
Young.” Key tersenyum. “Terima kasih kau takmengacaukan mimpiku.” Key tertawa
pelan tanpa membuka kedua matanya. Pure menatap wajah Key dari samping lalu
ikut menutup kedua matanya.
Dan seperti
perminataan Key, Pure akan datang sebagai Ah Young, mengunjungi Key dalam
mimpi. Saat Key kelelahan, marah, sakit karena Jihyun atau saat Key penant
dengan pekerjaan dan hidupnya. di dalam mimpi itu tidak hanya Pure yang bisa
tertawa lebar dan bahagia, Key pun merasakannya. Dan perkataan Pure seakan
mantra ajaib bagi hidupnya.
^^^^
Ruang aula
majelis kala itu hanya diisi beberapa dewan juga beberapa guardian angel pengawas, dan angel
eksekutor. Taemin –angel eksekutor-
pun berada di sana.
Suara dengusan terdengar
diantara para guardian angel yang
berada di aula. Mengingat jadwal pertemuan ini tak tertulis di buku agenda.
Mereka tiba-tiba tertarik ke portal dan berakhir di sini.
Taemin tidak
memusingkan pertemuan kali ini. Dia hanya berharap pertemuan kali ini cepat
selesai. Melihat daftar angel yang
harus dimusnahkannya membuat Taemin menghela nafas dalam. Semenjak dia mengenal
Pure, mengeksekusi angel tak bersayap
sedikit terasa mengganggu. Terkadang membayangkan Pure dalam posisi itu. Hal
yang seharusnya tak dirasakannya.
Sang ketua dewan
mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Melihat kertas daftar di tangan,
lalu mengetuk palu ke meja. Suara riuh pun menghilang.
“Terima kasih
kalian sudah hadir. Dan maaf karena pertemuan kali ini pekerjaan kalian terganggu.
Kalian adalah para angel terpilih
sehingga kalian patut hadir di pertemuan rahasia ini. Kalian harus menjaga
rahasia ini dari siapapun dan jika kalian melanggar, menjadi abu adalah hukuman
kalian.”
Suara riuh
kembali terdengar. Sang ketua dewan pun kembali mengetuk meja dengan palu.
“Ucapkan sumpah kalian.” Semua angel pun
berdiri dan mengucapkan sumpah kecuali Taemin yang masih duduk mencatat sesuatu
di buku agenda. Tubuhnya tertutupi oleh para angel yang berdiri.
“Seperti kalian
ketahui ada satu angel tanpa sayap
yang lolos tes dan dianugrahi sayap.” Para angel
pun kembali duduk dan mulai memperhatikan selubung putih yang terbentuk saat
tangan ketua dewan bergerak menyapu udara. Menampilkan Pure yang berjalan mengikuti
Key.
“Dan aku
memanggil kalian kemari untuk memilih salah satu dari kalian untu menjadi angel pengawasnya. Angel tingkat rendah
sepertinya tak diperbolehkan menjadi guardian
angel apalagi mencampuri kehidupan seorang manusia.” Kabut putih itu
menghilang, ketua dewan pun menatap satu persatu angel yang hadir.
Keriuhan
lagi-lagi terjadi. Para angel merasa
keberatan harus menjadi pengawas angel tingkat rendah. Tugas mereka jauh lebih
penting dibandingkan mengamati segala tingkah angel tingkat rendah yang harusnya dimusnahkan saja.
“Kenapa makhluk
itu lulus tes?”
“Merepotkan
saja.”
“Kenapa tidak
tangan berdarah itu saja yang mengawasinya?” Celetukkan terakhir membuat
suasana aula menjadi hening. Pandnagan pun mengarah ke sumber suara. Angel yang ditatap semua orang itu
menjadi salah tingkah.
“Maksudku kenapa
tidak angel eksekutor saja? Dia
bertugas menjaga keteraturan dan tegaknya peraturan bukan? Dan dia juga berada
di sini.” angel itu menunjuk Taemin
yang masih terpaku dnegan buku agendanya. Tak menyadari semua mata menatap ke
arahnya.
.
.
.
TEBECE
Panjang sekali ini..
Semoga comment kalian pun panjang ya
Lanjut tidak?
PPYONG~




Tidak ada komentar:
Posting Komentar