TITLE : 1S // MELEWATKANMU
AUTHOR : EVERG
GENRE : FRIENDSHIP,DRAMA (?)
Main CAST :
·
LEE TAEMIN
·
CHOI MINHO
Support Cast :
·
LEE JINKI
·
KEY
·
KIM JONGHYUN
WARNING :
DON’T LIKE DON’T READ, NO COPAS, banyak miss typo
NOTE !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Bila ada karakter idol kalian yang
tidak biasa itu karena tunturan peran :p. Jangan marah ke author.. marah saja
ke orang lain di samping anda Hehehe
HAPPY READING
RCL Please
^^^
Andai waktu bisa diulang
MELEWATKANMU
Alunan musik di sebuah kafe mengalun
lembut. Cahaya matahari yang berubah orange menembus kaca dinding kafe itu. Lembayung
indah yang sama seperti hari sebelumnya, waktu sudah bergulir cepat sekali. Namun
lelaki yang duduk dekat dengan jendela belum beranjak. Padahal buku novel yang
dibawanya sudah selesai dibaca, juga machiato dan banana cake pesanan keduanya
pun telah habis.
“Apakah anda mau memesan lagi, tuan?”
Wajah lelaki itu terangkat, tersenyum. Melirik
jam tangannya. “Mungkin aku akan berada di sini setengah jam lagi. bisa aku
pesan salad buah dan air mineral saja?” Pelayan itu mengulang pesanan, membungkuk
lalu meninggalkan lelaki itu. senyumnya hilang, lelaki itu –Taemin- memandang
ke luar jendela. Menopang kepalanya di telapak tangan kanan. Memandangi langit
yang berwarna orange.
Tak lama pesanannya pun datang. Taemin mengucapkan
terima kasih lalu meletakkan segelas air mineral dan semangkuk salad buah
sedikit jauh. Kembali pada posisi sebelumnya, memandang ke luar jendela.
Beberapa menit berlalu, posisi Taemin tak
berubah hingga dia mendengar suara deheman. Taemin tak memedulikannya, mungkin
itu bukan ditujukan untuknya. Mengingat dia tak memiliki janji dengan siapapun
di tempat ini. Dan disini tak hanya ada dirinya.
“Lee Taemin, hello.” Dilanjutkan dengan
suara ketikan pelan di meja.
Dengan mendengus, Taemin mengalihkan
pandangannya. Matanya membulat sempurna saat mendapati siapa sosok yang berdiri
di samping mejanya. Orang itu tinggi dengan rambut hitam. Mata bulan purnama
dan bibir merah yang tersenyum lebar. Jari-jari panjangnya bergerak melambai ke
arahnya. “Boleh aku duduk bergabung denganmu?” Taemin hanya mengangguk tanpa
bisa berkata sepatah katapun. Mengubah posisi
duduknya menjadi tegak, memandang tanpa berkedip orang di hadapannya.
“Kau seperti hendak memakanku, Taemin.” Orang
itu kembali tertawa. “Atau kau ingin menandingi mataku yang bulat ini?” Memasang
wajah seolah terkejut.
Taemin hanya tersenyum tipis, “Aku hanya
sangat terkejut bertemu denganmu lagi Choi Minho.”Orang yang dipanggil Choi
MinHo itu mengangguk. “Ah, kau mau memesan apa?”Menyerahkan buku menu,
mengangkat tangannya. Pelayan -yang sebelumnya datang menanyakan apa Taemin mau
memesan lagi- datang menghampiri.
“Kau yang traktir, ya.” Minho kembali
tersenyum sambil melihat buku menu. Taemin hanya tersenyum tipis –lagi-. Kau sekarang suka sekali tersenyum, Minho,ucap
Taemin dalam hati.
Setelah pelayan itu pergi, Minho duduk
bersandar ke sandaran kursi lalu melipat kedua tangannya ke meja. “Apa yang
menarik hingga kau tak lepas memandangi langit, Taemin?” Kepala MinHo mengawasi
ke arah langit yang kini sudah berubah gelap.
“Aku hanya suka melakukannya. Tak ada
alasan yang khusus.” Pembicaraan pun terputus saat pelayan kembali datang
membawa pesanan Minho.
“Kau hanya memesan itu, Taemin?” Minho
meminum ekspressonya.
“Aku sudah memesan sebelumnya. Aku sudah
berada di sini sejak dua jam yang lalu.”
Mata Minho membulat.“Apa yang kau lakukan
disini selama itu, sendirian.”
Taemin terkekeh, “Hanya duduk menikmati
lagu, membaca novel dan menikmati langit yang berubah dan orange menjadi
menghitam. Sendirian? Aku sudah terbiasa sendirian.” Bibir Taemin melengkung
hingga ujung telinganya. Menyendokkan salad buah dan memasukkan ke dalam mulut.
Wajah Minho berubah dingin, “Bagaimana
kabarmu, Taemin? Berapa lama ya, kita tak bertemu.” Minho mengaduk-aduk
ekspresonya. Memandang Taemin dengan sorot mata yang tak berbinar seperti
sebelumnya.
“Kabarku baik. Berapa lama kita tak
bertemu?” Meletakkan telunjuknya di bibirnya. “Molla, aku tak menghitungnya.”
“Senang bertemu lagi denganmu, Taemin.” Taemin
hanya mengangguk lalu kembali melihat ke arah kaca. Memandangi jalanan di
samping kafe yang mulai dipenuhi orang-orang yang pulang kerja. Suasana antara
Taemin dan Minho berubah hening dan canggung. Minho sesekali melirik Taemin
dengan menghela nafas.”Suasana seperti ini terasa aneh.” Minho tersenyum pedih.
Taemin hanya tersenyum tanpa membalas
perkataan Minho atau mengalihkan padangannya. “Apa kau sering bertemu dengan
Key, Jonghyun atau Jinki Hyung?”Tanya Minho lagi.
Pandangan Taemin pun teralihkan, “Tak
terlalu sering. Aku lebih sering berkomunikasi dengan Jonghyun Hyung. Dia kini menjadi composer lagu, seperti impiannya. Jinki hyung yang kutahu kini sibuk dengan
restoran ayam dan dagingnya, Key hyung sudah
menikah. Dan seorang Choi Minho sekarang adalah seorang aktor terkenal. Apa kau
sedang tak sibuk hem, hingga bisa duduk bersamaku disini?”
“Kau sendiri, Taemin? Kau bekerja apa
sekarang?”
“Aku?” Menunjuk wajahnya sendiri dengan
jari telunjuk. Tertawa kecil. “Hanya menikmati hidup. Pekerjaanku tak sepenting
kalian.”
Minho hanya memandang wajah Taemin yang
sedang tersenyum lebar di hadapannya dengan wajah sedih. Senyum itu bukan senyum
Taemin yang dia tahu Minho semenjak mengenal dan bersahabat dengan Taemin. Terasa
kaku dan palsu. “Taemin sebenarnya, aku-“ perkataan Minho terputus saat dering
ponselnya mengganggu. Berdecak sebal melihat id pemanggil namun tetap menjawab
panggilan telepon itu. Minho hanya menjawab “hmm” lalu meletakkan kembali ponselnya
ke dalam saku celana, berdiri.
“Aku harus pergi. Pekerjaan-“
“Ya, aku tahu. Hati-hati dijalan.” Taemin
melambaikan tangannya lalu memandang ke arah luar,
“Aku akan menghubungimu.” Kemudian Minho
pergi, setengah berlari menuju pintu keluar, Taemin melihat dengan sorot mata
dingin Minho yang masuk ke dalam mobil mewah berwarna putih lalu meninggalkan kafe.
^^^^
Taemin yang sudah memakai piyama dan
hendak tidur terusik dengan suara notifikasi pesan dari ponselnya. Berdecak siapa
yang mengiriminya pesan dijam 11 malam seperti ini. Awas saja kalau itu hanya pesan dari operator.
Taemin ini aku Minho. Maaf mengganggu malam-malam
seperti ini. Aku ingin meminta maaf padamu atas masa-masa lalu dimana aku
mengacuhkanmu. Aku sungguh minta maaf. Aku sangat membutuhkanmu Taemin. Aku ingin
kau menjadi sahabatku lagi, seperti dulu. Aku tak tahu harus bercerita pada
siapa lagi. aku hancur Taemin. Bantu aku, selamatkan aku.
Lagi-lagi senyum tipis Taemin terlihat. Bibirnya
melengkung namun iris cokelatnya sangat redup. Sesuatu dalam dadanya terasa
teriris lagi. Menjadi sahabat lagi? Ingat
dia kita pernah bersahabat. Mata Taemin beralih pada figura foto dimana
terdapat foto mereka, berlima. Foto yang mereka banggakan atas nama
persahabatan hingga mati. Yang lama-kelamaan terkikis dan menghilang.
“Kita akan menjodohkan anak kita nanti, ya.” Ucapan yang dikatakan Jonghyun dan dibalas dengan suara tawa empat
orang yang lain. Ya, waktu itu mereka masih memakai seragam sekolah, masih
terlau muda dan naif. Tak menyadari bahwa dunia berubah dan semua itu gampang
terhapus dan dilupakan.
Waktu, lingkungan baru, teman-teman baru
bahkan cinta baru mudah menghapuskan sebuah nama persahabatan yang awalnya
diagung-angungkan. Jangan terlau bodoh dan menampik. Ya, itu dulu yang ditampik
Taemin. Dan nyatanya dia menyerah dan berusaha menerima semuanya. Persahabatan tak
bisa selamanya bertahan hingga mati seperti kata orang-orang.
“Tak ada mantan sahabat, bukan?” Taemin
meletakkan kembali figura foto itu di meja samping tempat tidurnya. Berbaring menatap
langit-langit kamar. Mengambil ponselnya lalu menekan replay, mata Taemin memandang sejenak kursor yang berkedip-kedip. Lalu
akhirnya jemarinya menekan huruf-per huruf.
Kalau kau mau bercerita kau bisa mengirimiku pesan
atau kita bisa bertemu. Aku selalu ada di tempat yang sama, Hyung.
Taemin meletakkan ponselnya di bawah bantal
kepala. Kepalanya berdenyut saat memorinya mengulangi masa dimana
persahabatannya perlahan-lahan memudar lalu menjadi sejarah di hidupnya.
Waktu itu bulan desember tanggal sembilan, tepat
di hari ulang tahun Minho. Taemin dan tiga hyungnya yang lain sedang
tersenyum-senyum membayangkan jika Minho datang dan mengetahui pesta kejutan
ulang tahun.
Taemin berdiri di tengah ruangan, memandangi
dekorasi yang hampir selesai. Tertawa saat melihat Key yang memakai celemek
sedang memukul kepala Jonghyun dengan spatula saat lelaki itu terus memakan
sosis panggang buatan Key. Berjalan menghampiri Jinki yang sibuk menatap meja
makan.
Empat orang itu pun duduk di meja yang sudah
tertata dengan wajah berseri. Menunggu waktu kedatangan Minho. Detak jarum pun
tak henti berputar, waktu terus berjalan dan tak terasa waktu janji Minho untuk
datang sudah terlewat. Taemin menguap, “Hyung, apa Minho Hyung belum datang?”
Jonghyun dan Jinki saling berpandangan. “Key
sedang berusaha menghubungi, Minho.” Jinki menepuk pundak Taemin. Berdiri lalu
menegak minuman mineral dari dalam kulkas.
“Awas saja, kalau dia datang aku akan menjitak
kepalanya. Gara-gara dia aku harus menyiksa perutku menahan lapar.” Taemin tak
bisa tertawa melihat wajah Jonghyun yang dipasang sok menderita. Memandang jam
dinding. Hyung kau dimana?
Key datang lalu berbisik pada Jinki. Mata Jinki
dan Key pun memandang Taemin yang sedang membaringkan kepalanya di atas meja. Jinki
hendak menahan Key, namun Key buru-buru berjalan menghampiri Taemin.
“Dia tidak akan datang. Dia sedang merayakan ulang
tahunnya bersama teman artis dan kru filmnya. Sekaligus merayakan film debutnya
yang sukses besar.”
Taemin terbahak,Jonghyun mendesis kemudian
menggerutu. Taemin langsung berdirilalu mengambil kue ulang tahun Minho di atas
meja. Menyalakan satu persatu lilin lalu meniupya. Tersenyum miring,
dilemparkannya kue itu ke dinding. Berjalan menuju kamarnya, lalu tidur.
Itu kekecewaan pertama dan ternyata belum selesai.
Setelah pagi Taemin bangun dia sudah melihat rumahnya kembali rapi. Seakan semalam
dia hanya bermimpi buruk. Namun saat dia melihat kalender, hari ini tanggal 10
desember berarti kemarin bukan mimpi.
Taemin meminum air mineral lalu duduk di meja
dapur. Membaca note dari Key bahwa dia sudah membuatkan Taemin sarapan. Dan nanti
malam dia akan menginap di rumah Taemin. Meletakkan begitu saja note itu
kembali lalu ke kamar mandi. Dan malamnya, Key tak datang, mengatakan bahwa dia
tiba-tiba mendapat pekerjaan tambahan. Namun, saat Taemin membuka akun
sosialnya, Key mengupload fotonya sedang pergi menonton film bersama
kekasihnya. Taemin hanya bisa tertawa.
Dan setelahnya, bagaimana pun Taemin berusaha
untuk membuat persahabatan mereka kembali seerat dulu, seramai dan
semenyenangkan dulu, tak ada yang berhasil. Lama kelamaan mereka semakin sibuk
dengan dunianya begitu pun Taemin. Dia berusaha menahan semuanya, kesendirian,
sakit dan berjalan di kakinya sendiri. Kini sudah tak ada Jinki yang
melindunginya seperti seorang Ayah, Key yang selalu berada di sampingnya bila
dia lupa sesuatu, atau Minho yang seperti kakak lelaki yang selalu siap
membelanya. Hanya ada Jonghyun yang bisa membuat tingkah bodoh untuk membuatnya
tertawa. Ya, Taemin berusaha untuk berdiri dengan tegak. Beruntungnya Tuhan masih
menyisakan Jonghyun untuknya.
Taemin yang kekanakan yang selalu tersenyum, yang
merasa selalu di lindungi Hyungnya kini mulai belajar untuk bisa membangun
menaranya sendiri. Dia sudah lelah hancur sendirian atas pilar-pilar
persahabatan yang masih dipegangnya kuat. Saat orang-orang itu memilih sesuatu
yang lebih berharga dari persahabatan mereka yaitu cinta.
“Persahabatan
lebih penting dari kekasih. Jangan sampai kita lebih memilih dari pada sahabat sendiri.
Sahabat akan selalu ada di kapanpun sahabatnya membutuhkannya.”
Saat
mengingat kata-kata itu Taemin rasanya ingin tertawa saat keras di depan wajah
mereka“BOHONG!. Yang dia pelajari sekarang orang akan lebih memilih cinta
daripada sahabatnya sendiri. Seperti Key yang berbohong untuk bisa pergi ke
bioskop bersama kekasihnya. Seperti Minho yang lebih mempercayai pacarnya dari
pada mendengar ucapan Taemin yang sebenarnya. Lagi-lagi Taemin hanya bisa
tersenyum melihatnya.
Dan saat
mereka tersakiti, mereka datang dengan segala keluh kesah membuat Taemin tak
bisa tidur semalaman. Merongrong dirinya untuk memberikan segala masukan
padanya. menelpon mereka setiap malam untuk menghibur mereka. lalu setelah luka
mereka kembali baik, didatangi cinta baru, Taemin seakan daun coklat yang harus
ditup angin kencang. Menjauh dan melebur dengan tanah. Sahabat apakah
diperlakukan seperti itu?
Lebih
buruk dari tempat sampah. Tempat sampah masih dihargai pemiliknya. Dibersihkan dan
dijaga agar tak cepat rusak. Sedangkan dirinya hanya didatangi saat mereka
sedih dan terluka dan tak dikenal saat mereka bahagia. Lama kelamaan Taemin
terbiasa. Terbiasa menahan sakitnya, terbiasa menyelesaikan masalahnya,
terbiasa sendirian menikmati kesendiriannya.
Dengan
bertubi-tubinya diperlakukan seperti itu, bukankah Taemin berhak untuk pergi
dari sumber rasa tak menyenangkan. Untuk itu, Taemin perlahan-lahan mundur. Membangun
sebuah dinding menara yang kuat, tinggi dan tak tertembus. Dia behak untuk
memilih untuk tak tersakiti. Kalau mereka bisa, Taemin pun bisa. Lagi pula dia
masih hidup walaupun ketiga orang yang pernah menjadi sahabatnya itu tak ada
lagi. Tak pernah ada mantan sahabatkan? Jadi mereka bagi Taemin hanya teman
biasa.
Dan dimulailah
kehidupan baru Taemin, seperti katanya, menikmati kehidupan. Melakukan apa yang
disukainya. Membaca novel, berlama-lama di kafe, memandang langit, menari. Segala
hal yang membuatnya bahagia. terkadang bertemu Jonghyun dan mengisenginya. Hidupnya
terasa lebih baik. Tanpa terlalu memposisikan seseorang dalam tingkat yang
berharga, lebih baik.
Hingga
tiba-tiba Minho datang dan mengatakan dirinya membutuhkan Taemin. Sudah sangat
hancur dan meminta Taemin menyelamatkannya. Merasa menyesal karena dulu
mengacuhkan Taemin. Meminta Taemin untuk menjadi sahabatnya lagi, seperti dulu.
“Haruskah?
Tidak terasa sakit hanya haruskah aku kembali memposisikannya sebagai sahabat?”
Taemin menghela nafas. “Aku akan menjadi tempat kau berkeluh kesah Minho Hyung.
Tanpa ada embel-embel sahabat atau apapun. Terkadang seseorang hanya perlu
didengarkan.”
Taemin
mengcheck ponselnya, tak ada balasan. Sudah pukul 1 pagi, Taemin menguap. “Kau
yang membutuhkanku, jadi terserah padamu saja.” Taemin pun menutup kedua matanya
lalu terlelap.
^^^^
Saat seseorang terasa berubah jangan pernah kau bertanya
mengapa dia berubah. Karena kau tak pernah menyadari bahwa kaulah yang
membuatnya berubah.
Rasa sakit dapat mengubah seseorang, membuatnya belajar
bahwa orang yang menciptakan rasa sakit itu tak terlalu baik untuk bersama. Bagaimana
pun tak ada orang yang menikmati rasa sakit. Seperti Taemin dia berhak
meninggalkan sumber rasa sakitnya dan tak kembali. Bila dia terus pada rasa
sakit dan menikmati tersakiti dia lebih dari keledai yang dungu.
Bagaimanapun suatu hubungan, mau keluarga, persahabatan
bahkan cinta tak ada yang setulus memberi tanpa menerima yang sama. Munafik sekai
kalau kau mau memberikan segalanya tanpa mendapatkan yang sama. Kecuali matahari,
yang memberikan cahaya tanpa diberi imbalan yang sama. Sayangnya matahari itu
bukan manusia.
Waktu tak bisa diulang jadi jangan sakiti siapapun. Saat kau
akan menyesali dia tak akan pernah kembali.
.
.
.
.
THE END
READ
LIKE
SO,
COMMENT
PPYONG~




Tidak ada komentar:
Posting Komentar