.showpageArea a { text-decoration:underline; } .showpageNum a { text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; margin:0 3px; padding:3px; } .showpageNum a:hover { border: 1px solid #cccccc; background-color:#cccccc; } .showpagePoint { color:#333; text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; background: #cccccc; margin:0 3px; padding:3px; } .showpageOf { text-decoration:none; padding:3px; margin: 0 3px 0 0; } .showpage a { text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; padding:3px; } .showpage a:hover { text-decoration:none; } .showpageNum a:link,.showpage a:link { text-decoration:none; color:#333333; }

Flash Labels by Way2Blogging

Kamis, 29 Mei 2014

1S // [2MIN] MELEWATKANMU


TITLE : 1S // MELEWATKANMU

AUTHOR     : EVERG

GENRE : FRIENDSHIP,DRAMA (?)

Main CAST       :
·         LEE TAEMIN

·         CHOI MINHO



Support Cast    :
·         LEE JINKI

·         KEY

·         KIM JONGHYUN

WARNING    :
DON’T LIKE DON’T READ, NO COPAS, banyak miss typo

NOTE !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Bila ada karakter idol kalian yang tidak biasa itu karena tunturan peran :p. Jangan marah ke author.. marah saja ke orang lain di samping anda Hehehe

HAPPY READING

RCL Please
^^^
Andai waktu bisa diulang
Sayangnya, itu hal paling mustahil terjadi


MELEWATKANMU

Alunan musik di sebuah kafe mengalun lembut. Cahaya matahari yang berubah orange menembus kaca dinding kafe itu. Lembayung indah yang sama seperti hari sebelumnya, waktu sudah bergulir cepat sekali. Namun lelaki yang duduk dekat dengan jendela belum beranjak. Padahal buku novel yang dibawanya sudah selesai dibaca, juga machiato dan banana cake pesanan keduanya pun telah habis.

“Apakah anda mau memesan lagi, tuan?”

Wajah lelaki itu terangkat, tersenyum. Melirik jam tangannya. “Mungkin aku akan berada di sini setengah jam lagi. bisa aku pesan salad buah dan air mineral saja?” Pelayan itu mengulang pesanan, membungkuk lalu meninggalkan lelaki itu. senyumnya hilang, lelaki itu –Taemin- memandang ke luar jendela. Menopang kepalanya di telapak tangan kanan. Memandangi langit yang berwarna orange.

Tak lama pesanannya pun datang. Taemin mengucapkan terima kasih lalu meletakkan segelas air mineral dan semangkuk salad buah sedikit jauh. Kembali pada posisi sebelumnya, memandang ke luar jendela.

Beberapa menit berlalu, posisi Taemin tak berubah hingga dia mendengar suara deheman. Taemin tak memedulikannya, mungkin itu bukan ditujukan untuknya. Mengingat dia tak memiliki janji dengan siapapun di tempat ini. Dan disini tak hanya ada dirinya.

“Lee Taemin, hello.” Dilanjutkan dengan suara ketikan pelan di meja.

Dengan mendengus, Taemin mengalihkan pandangannya. Matanya membulat sempurna saat mendapati siapa sosok yang berdiri di samping mejanya. Orang itu tinggi dengan rambut hitam. Mata bulan purnama dan bibir merah yang tersenyum lebar. Jari-jari panjangnya bergerak melambai ke arahnya. “Boleh aku duduk bergabung denganmu?” Taemin hanya mengangguk tanpa bisa berkata sepatah  katapun. Mengubah posisi duduknya menjadi tegak, memandang tanpa berkedip orang di hadapannya.

“Kau seperti hendak memakanku, Taemin.” Orang itu kembali tertawa. “Atau kau ingin menandingi mataku yang bulat ini?” Memasang wajah seolah terkejut.

Taemin hanya tersenyum tipis, “Aku hanya sangat terkejut bertemu denganmu lagi Choi Minho.”Orang yang dipanggil Choi MinHo itu mengangguk. “Ah, kau mau memesan apa?”Menyerahkan buku menu, mengangkat tangannya. Pelayan -yang sebelumnya datang menanyakan apa Taemin mau memesan lagi- datang menghampiri.

“Kau yang traktir, ya.” Minho kembali tersenyum sambil melihat buku menu. Taemin hanya tersenyum tipis –lagi-. Kau sekarang suka sekali tersenyum, Minho,ucap Taemin dalam hati.

Setelah pelayan itu pergi, Minho duduk bersandar ke sandaran kursi lalu melipat kedua tangannya ke meja. “Apa yang menarik hingga kau tak lepas memandangi langit, Taemin?” Kepala MinHo mengawasi ke arah langit yang kini sudah berubah gelap.

“Aku hanya suka melakukannya. Tak ada alasan yang khusus.” Pembicaraan pun terputus saat pelayan kembali datang membawa pesanan Minho.

“Kau hanya memesan itu, Taemin?” Minho meminum ekspressonya.

“Aku sudah memesan sebelumnya. Aku sudah berada di sini sejak dua jam yang lalu.”

Mata Minho membulat.“Apa yang kau lakukan disini selama itu, sendirian.”

Taemin terkekeh, “Hanya duduk menikmati lagu, membaca novel dan menikmati langit yang berubah dan orange menjadi menghitam. Sendirian? Aku sudah terbiasa sendirian.” Bibir Taemin melengkung hingga ujung telinganya. Menyendokkan salad buah dan memasukkan ke dalam mulut.

Wajah Minho berubah dingin, “Bagaimana kabarmu, Taemin? Berapa lama ya, kita tak bertemu.” Minho mengaduk-aduk ekspresonya. Memandang Taemin dengan sorot mata yang tak berbinar seperti sebelumnya.

“Kabarku baik. Berapa lama kita tak bertemu?” Meletakkan telunjuknya di bibirnya. “Molla, aku tak menghitungnya.”

“Senang bertemu lagi denganmu, Taemin.” Taemin hanya mengangguk lalu kembali melihat ke arah kaca. Memandangi jalanan di samping kafe yang mulai dipenuhi orang-orang yang pulang kerja. Suasana antara Taemin dan Minho berubah hening dan canggung. Minho sesekali melirik Taemin dengan menghela nafas.”Suasana seperti ini terasa aneh.” Minho tersenyum pedih.

Taemin hanya tersenyum tanpa membalas perkataan Minho atau mengalihkan padangannya. “Apa kau sering bertemu dengan Key, Jonghyun atau Jinki Hyung?”Tanya Minho lagi.

Pandangan Taemin pun teralihkan, “Tak terlalu sering. Aku lebih sering berkomunikasi dengan Jonghyun Hyung. Dia kini menjadi composer lagu, seperti impiannya. Jinki hyung yang kutahu kini sibuk dengan restoran ayam dan dagingnya, Key hyung sudah menikah. Dan seorang Choi Minho sekarang adalah seorang aktor terkenal. Apa kau sedang tak sibuk hem, hingga bisa duduk bersamaku disini?”

“Kau sendiri, Taemin? Kau bekerja apa sekarang?”

“Aku?” Menunjuk wajahnya sendiri dengan jari telunjuk. Tertawa kecil. “Hanya menikmati hidup. Pekerjaanku tak sepenting kalian.”

Minho hanya memandang wajah Taemin yang sedang tersenyum lebar di hadapannya dengan wajah sedih. Senyum itu bukan senyum Taemin yang dia tahu Minho semenjak mengenal dan bersahabat dengan Taemin. Terasa kaku dan palsu. “Taemin sebenarnya, aku-“ perkataan Minho terputus saat dering ponselnya mengganggu. Berdecak sebal melihat id pemanggil namun tetap menjawab panggilan telepon itu. Minho hanya menjawab “hmm” lalu meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, berdiri.

“Aku harus pergi. Pekerjaan-“

“Ya, aku tahu. Hati-hati dijalan.” Taemin melambaikan tangannya lalu memandang ke arah luar,

“Aku akan menghubungimu.” Kemudian Minho pergi, setengah berlari menuju pintu keluar, Taemin melihat dengan sorot mata dingin Minho yang masuk ke dalam mobil mewah berwarna putih lalu meninggalkan kafe.
^^^^
Taemin yang sudah memakai piyama dan hendak tidur terusik dengan suara notifikasi pesan dari ponselnya. Berdecak siapa yang mengiriminya pesan dijam 11 malam seperti ini. Awas saja kalau itu hanya pesan dari operator.

Taemin ini aku Minho. Maaf mengganggu malam-malam seperti ini. Aku ingin meminta maaf padamu atas masa-masa lalu dimana aku mengacuhkanmu. Aku sungguh minta maaf. Aku sangat membutuhkanmu Taemin. Aku ingin kau menjadi sahabatku lagi, seperti dulu. Aku tak tahu harus bercerita pada siapa lagi. aku hancur Taemin. Bantu aku, selamatkan aku.

Lagi-lagi senyum tipis Taemin terlihat. Bibirnya melengkung namun iris cokelatnya sangat redup. Sesuatu dalam dadanya terasa teriris lagi. Menjadi sahabat lagi? Ingat dia kita pernah bersahabat. Mata Taemin beralih pada figura foto dimana terdapat foto mereka, berlima. Foto yang mereka banggakan atas nama persahabatan hingga mati. Yang lama-kelamaan terkikis dan menghilang.

“Kita akan menjodohkan anak kita nanti, ya.” Ucapan yang dikatakan Jonghyun dan dibalas dengan suara tawa empat orang yang lain. Ya, waktu itu mereka masih memakai seragam sekolah, masih terlau muda dan naif. Tak menyadari bahwa dunia berubah dan semua itu gampang terhapus dan dilupakan.

Waktu, lingkungan baru, teman-teman baru bahkan cinta baru mudah menghapuskan sebuah nama persahabatan yang awalnya diagung-angungkan. Jangan terlau bodoh dan menampik. Ya, itu dulu yang ditampik Taemin. Dan nyatanya dia menyerah dan berusaha menerima semuanya. Persahabatan tak bisa selamanya bertahan hingga mati seperti kata orang-orang.

“Tak ada mantan sahabat, bukan?” Taemin meletakkan kembali figura foto itu di meja samping tempat tidurnya. Berbaring menatap langit-langit kamar. Mengambil ponselnya lalu menekan replay, mata Taemin memandang sejenak kursor yang berkedip-kedip. Lalu akhirnya jemarinya menekan huruf-per huruf.

Kalau kau mau bercerita kau bisa mengirimiku pesan atau kita bisa bertemu. Aku selalu ada di tempat yang sama, Hyung.

Taemin meletakkan ponselnya di bawah bantal kepala. Kepalanya berdenyut saat memorinya mengulangi masa dimana persahabatannya perlahan-lahan memudar lalu menjadi sejarah di hidupnya.

Waktu itu bulan desember tanggal sembilan, tepat di hari ulang tahun Minho. Taemin dan tiga hyungnya yang lain sedang tersenyum-senyum membayangkan jika Minho datang dan mengetahui pesta kejutan ulang tahun.

Taemin berdiri di tengah ruangan, memandangi dekorasi yang hampir selesai. Tertawa saat melihat Key yang memakai celemek sedang memukul kepala Jonghyun dengan spatula saat lelaki itu terus memakan sosis panggang buatan Key. Berjalan menghampiri Jinki yang sibuk menatap meja makan.

Empat orang itu pun duduk di meja yang sudah tertata dengan wajah berseri. Menunggu waktu kedatangan Minho. Detak jarum pun tak henti berputar, waktu terus berjalan dan tak terasa waktu janji Minho untuk datang sudah terlewat. Taemin menguap, “Hyung, apa Minho Hyung belum datang?”

Jonghyun dan Jinki saling berpandangan. “Key sedang berusaha menghubungi, Minho.” Jinki menepuk pundak Taemin. Berdiri lalu menegak minuman mineral dari dalam kulkas.

“Awas saja, kalau dia datang aku akan menjitak kepalanya. Gara-gara dia aku harus menyiksa perutku menahan lapar.” Taemin tak bisa tertawa melihat wajah Jonghyun yang dipasang sok menderita. Memandang jam dinding. Hyung kau dimana?

Key datang lalu berbisik pada Jinki. Mata Jinki dan Key pun memandang Taemin yang sedang membaringkan kepalanya di atas meja. Jinki hendak menahan Key, namun Key buru-buru berjalan menghampiri Taemin.

“Dia tidak akan datang. Dia sedang merayakan ulang tahunnya bersama teman artis dan kru filmnya. Sekaligus merayakan film debutnya yang sukses besar.”

Taemin terbahak,Jonghyun mendesis kemudian menggerutu. Taemin langsung berdirilalu mengambil kue ulang tahun Minho di atas meja. Menyalakan satu persatu lilin lalu meniupya. Tersenyum miring, dilemparkannya kue itu ke dinding. Berjalan menuju kamarnya, lalu tidur.

Itu kekecewaan pertama dan ternyata belum selesai. Setelah pagi Taemin bangun dia sudah melihat rumahnya kembali rapi. Seakan semalam dia hanya bermimpi buruk. Namun saat dia melihat kalender, hari ini tanggal 10 desember berarti kemarin bukan mimpi.

Taemin meminum air mineral lalu duduk di meja dapur. Membaca note dari Key bahwa dia sudah membuatkan Taemin sarapan. Dan nanti malam dia akan menginap di rumah Taemin. Meletakkan begitu saja note itu kembali lalu ke kamar mandi. Dan malamnya, Key tak datang, mengatakan bahwa dia tiba-tiba mendapat pekerjaan tambahan. Namun, saat Taemin membuka akun sosialnya, Key mengupload fotonya sedang pergi menonton film bersama kekasihnya. Taemin hanya bisa tertawa.


Dan setelahnya, bagaimana pun Taemin berusaha untuk membuat persahabatan mereka kembali seerat dulu, seramai dan semenyenangkan dulu, tak ada yang berhasil. Lama kelamaan mereka semakin sibuk dengan dunianya begitu pun Taemin. Dia berusaha menahan semuanya, kesendirian, sakit dan berjalan di kakinya sendiri. Kini sudah tak ada Jinki yang melindunginya seperti seorang Ayah, Key yang selalu berada di sampingnya bila dia lupa sesuatu, atau Minho yang seperti kakak lelaki yang selalu siap membelanya. Hanya ada Jonghyun yang bisa membuat tingkah bodoh untuk membuatnya tertawa. Ya, Taemin berusaha untuk berdiri dengan tegak. Beruntungnya Tuhan masih menyisakan Jonghyun untuknya.

Taemin yang kekanakan yang selalu tersenyum, yang merasa selalu di lindungi Hyungnya kini mulai belajar untuk bisa membangun menaranya sendiri. Dia sudah lelah hancur sendirian atas pilar-pilar persahabatan yang masih dipegangnya kuat. Saat orang-orang itu memilih sesuatu yang lebih berharga dari persahabatan mereka yaitu cinta.

“Persahabatan lebih penting dari kekasih. Jangan sampai kita lebih memilih dari pada sahabat sendiri. Sahabat akan selalu ada di kapanpun sahabatnya membutuhkannya.”

Saat mengingat kata-kata itu Taemin rasanya ingin tertawa saat keras di depan wajah mereka“BOHONG!. Yang dia pelajari sekarang orang akan lebih memilih cinta daripada sahabatnya sendiri. Seperti Key yang berbohong untuk bisa pergi ke bioskop bersama kekasihnya. Seperti Minho yang lebih mempercayai pacarnya dari pada mendengar ucapan Taemin yang sebenarnya. Lagi-lagi Taemin hanya bisa tersenyum melihatnya.

Dan saat mereka tersakiti, mereka datang dengan segala keluh kesah membuat Taemin tak bisa tidur semalaman. Merongrong dirinya untuk memberikan segala masukan padanya. menelpon mereka setiap malam untuk menghibur mereka. lalu setelah luka mereka kembali baik, didatangi cinta baru, Taemin seakan daun coklat yang harus ditup angin kencang. Menjauh dan melebur dengan tanah. Sahabat apakah diperlakukan seperti itu?

Lebih buruk dari tempat sampah. Tempat sampah masih dihargai pemiliknya. Dibersihkan dan dijaga agar tak cepat rusak. Sedangkan dirinya hanya didatangi saat mereka sedih dan terluka dan tak dikenal saat mereka bahagia. Lama kelamaan Taemin terbiasa. Terbiasa menahan sakitnya, terbiasa menyelesaikan masalahnya, terbiasa sendirian menikmati kesendiriannya.

Dengan bertubi-tubinya diperlakukan seperti itu, bukankah Taemin berhak untuk pergi dari sumber rasa tak menyenangkan. Untuk itu, Taemin perlahan-lahan mundur. Membangun sebuah dinding menara yang kuat, tinggi dan tak tertembus. Dia behak untuk memilih untuk tak tersakiti. Kalau mereka bisa, Taemin pun bisa. Lagi pula dia masih hidup walaupun ketiga orang yang pernah menjadi sahabatnya itu tak ada lagi. Tak pernah ada mantan sahabatkan? Jadi mereka bagi Taemin hanya teman biasa.

Dan dimulailah kehidupan baru Taemin, seperti katanya, menikmati kehidupan. Melakukan apa yang disukainya. Membaca novel, berlama-lama di kafe, memandang langit, menari. Segala hal yang membuatnya bahagia. terkadang bertemu Jonghyun dan mengisenginya. Hidupnya terasa lebih baik. Tanpa terlalu memposisikan seseorang dalam tingkat yang berharga, lebih baik.

Hingga tiba-tiba Minho datang dan mengatakan dirinya membutuhkan Taemin. Sudah sangat hancur dan meminta Taemin menyelamatkannya. Merasa menyesal karena dulu mengacuhkan Taemin. Meminta Taemin untuk menjadi sahabatnya lagi, seperti dulu.

“Haruskah? Tidak terasa sakit hanya haruskah aku kembali memposisikannya sebagai sahabat?” Taemin menghela nafas. “Aku akan menjadi tempat kau berkeluh kesah Minho Hyung. Tanpa ada embel-embel sahabat atau apapun. Terkadang seseorang hanya perlu didengarkan.”

Taemin mengcheck ponselnya, tak ada balasan. Sudah pukul 1 pagi, Taemin menguap. “Kau yang membutuhkanku, jadi terserah padamu saja.” Taemin pun menutup kedua matanya lalu terlelap.
^^^^
Saat seseorang terasa berubah jangan pernah kau bertanya mengapa dia berubah. Karena kau tak pernah menyadari bahwa kaulah yang membuatnya berubah.

Rasa sakit dapat mengubah seseorang, membuatnya belajar bahwa orang yang menciptakan rasa sakit itu tak terlalu baik untuk bersama. Bagaimana pun tak ada orang yang menikmati rasa sakit. Seperti Taemin dia berhak meninggalkan sumber rasa sakitnya dan tak kembali. Bila dia terus pada rasa sakit dan menikmati tersakiti dia lebih dari keledai yang dungu.

Bagaimanapun suatu hubungan, mau keluarga, persahabatan bahkan cinta tak ada yang setulus memberi tanpa menerima yang sama. Munafik sekai kalau kau mau memberikan segalanya tanpa mendapatkan yang sama. Kecuali matahari, yang memberikan cahaya tanpa diberi imbalan yang sama. Sayangnya matahari itu bukan manusia.
Waktu tak bisa diulang jadi jangan sakiti siapapun. Saat kau akan menyesali dia tak akan pernah kembali.
.
.
.
.
THE END

READ

LIKE

SO, COMMENT


PPYONG~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar