.showpageArea a { text-decoration:underline; } .showpageNum a { text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; margin:0 3px; padding:3px; } .showpageNum a:hover { border: 1px solid #cccccc; background-color:#cccccc; } .showpagePoint { color:#333; text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; background: #cccccc; margin:0 3px; padding:3px; } .showpageOf { text-decoration:none; padding:3px; margin: 0 3px 0 0; } .showpage a { text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; padding:3px; } .showpage a:hover { text-decoration:none; } .showpageNum a:link,.showpage a:link { text-decoration:none; color:#333333; }

Flash Labels by Way2Blogging

Jumat, 04 April 2014

[SHORT STORY] Things That I Couldn’t Say



Things That I Couldn’t Say

                Hujan seperti ini terkadang membuatku teringat dengan orang itu.  Dan tanpa sengaja kedua mataku menatap sepasang mata lain yang juga menatapku. Aku ingin memberikan senyum padanya, tapi yang aku lakukan malah mengalihkan pandanganku. Dan mengeratkan genggaman tanganku di mantel merah yang ku kenakan.


Beberapa menit setelahnya, aku memberanikan diriku untuk melihat ke arahnya lagi. Dan orang itu berjalan menghampiriku dan duduk tak jauh dari tempat dudukku saat ini. Aku tak bisa duduk dengan tenang, namun aku lega saat dirinya kini sibuk berbincang dengan teman di sampingnya.

Aku menatapnya lekat dari samping. Apa dia sekarang baik-baik saja? Apa dia membenciku? Apa dia memaafkanku?  Beribu pertanyaan lain ingin aku teriakan padanya. lebih baik dia memarahi dan memukulku daripada dia mendiamkanku seperti ini. Membuatku semakin merasa menjadi orang  yang jahat. Namun dalam hatiku aku merasa, lebih baik dia memiliki rasa benci padaku. Mungkin, dengan begitu rasa bersalah yang menekan dadanya akan berkurang lalu pergi.

Aku tersenyum lalu beranjak dari tempat dudukku. Hujan sudah berhenti, matahari mulai menampakkan cahaya. Aku menutup mataku, “Tuhan aku mohon, maafkan aku”.

Aku membuka mataku dan menyadari pipiku basah. Menghapus cairan yang membasahi mataku dan mendudukkan tubuhku. Menatap keluar jendela, hari masih gelap, hanya suara rintik hujan yang memecah kesunyian,

“Lagi, lagi hujan.” Aku tersenyum getir dan membaringkan tubuhku kembali. Menyelimuti tubuhku hingga menutupi kepala. Membaca pesan terakhirku padanya. “Kak, kita mulai semuanya dari awal. Mulai dari berteman.”

^^^^

Waktu itu bulan Desember. Bulan dimana aku dan teman-temanku disibukkan dengan tugas praktek kampus. Dan karena tugas itu pula aku bertemu dengannya. Lelaki yang sangat unik di mataku.

Dari wajahnya saat kami pertama kali bertemu, dia terlihat dingin dan menakutkan. Aku sedikit canggung karenanya. Namun perlahan-lahan kami bisa berbincang dan tersenyum bersama, dan karena itu pun tugasku selesai dengan baik.

Kenapa aku mengatakan dia unik? Karena baru kali itu aku melihat lelaki yang begitu grogi bertemu dengan orang lain. Bibinya yang sibuk mengerutui temanku, karena dia yang mengajak lelaki itu kemari. Untuk membantu tugas kami. Aku tertawa, melihat semua tingkahnya.

Hari itu pun ditutup dengan kami pulang bersama. Aku memboncengnya pulang menggunakan motorkku. Dia sempat protes, namun aku mengabaikannya. Tangannya saja gemetaran saat kami bersalaman, bagaimana kalau dia yang mengendarai motorku? Ditambah dia tak mengetahui jalan pulang dari kampusku.

Langit kala itu sudah berubah gelap, lembayung yang menghiasi langit terhapus perlahan-lahan. Rintik-rintik hujan perlahan turun. Namun kami mengabaikannya, sibuk dengan candaan dan tawaan yang aku tak tau bahwa itu adalah awal dari musim hujan yang tak berhenti turun. Kala itu kami mengira tawa itu adalah tanda awal yang indah.
^^^^

Aku memandanginya yang berada lurus di hadapanku. Lalu lalang orang yang berada di sekeliling kami terabaikan dengan suara-suara yang berteriak di telinga dan kepalaku. Sedangkan dia yang berada di hadapanku hanya berdiri mematung. Aku memberinya tatapan memohon. Katakan saja satu hal, menghempaskanku atau menarikku kembali. Tapi dia hanya berdiri tanpa mengatakan apapun. “Selamatkan aku.” Aku berbisik.

Saat aku menatap balon merah jambu yang talinya aku pegang erat, suara-suara mengganggu di sekelilingku lenyap seketika. Aku ingin menangis, karena itu. kesunyian membuatku tercekik. Mataku menutup dan jari-jariku perlahan melepaskan peganggan di tali balon itu. Aku membuka mataku saat hujan tiba-tiba turun. Dirimu peralahan menghilang bersama perginya balon itu.

“Bangunlah, kau sudah mengurung diri seharian.” Suara lembut terdengar. Yasmin –sahabatku- mengguncang tubuhku. Dia masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. Saat aku membuka mataku yang bengkak senyum lebar Yasmin menyambutku. “Bagaimana kalau kita jalan-jalan?”

“Masih hujan. Aku tak suka keluar saat hujan.” Aku kembali menutup tubuhku dengan selimut.Yasmin naik ke tempat tidur dan menarik selimutku. “Ayolah, kita bermain di bawah hujan, atau berbelanja setumpuk novel. Apa saja asal kau tak terjebak di sini.” Yasmin kembali mengguncang tubuhku. Dan saat aku tak meresponnya, Yasmin malah melompat-lompat di atas tempat tidur.
Aku menatap Yasmin yang melompat-lompat seperti kangguru. Aku sungguh ingin memeluknya dan kembali menangis, menandingi tangisan hujan. Tapi itu memalukan. Sejak kemarin aku selalu menangis saat berbicara dengannya lewat telepon.

“Aku tidak mengerti mengapa kau malah tak tau apa yang ada di hatimu.” Yasmin berhenti melompat dan menatap mataku lekat. Bahunya naik turun, dia segera turun dari tempat tidur dan meminum air mineral yang ada di meja belajarku.

 “Pilih apa yang menurutmu benar.” Ucapnya lagi. “Kalau kau merasa sakit karena kau akan mengucapkan perpisahan padanya, Itu berarti kau mulai menyukainya juga.”

Aku merasakan tubuhku kembali digucangkan. Yasmin menganggukkan kepalanya. Haruskah aku melakukannya sekarang? Semudah itukah dimulai dan diakhiri?
^^^^
Cinta pada pandangan pertama? Haruskah aku percaya pada cinta seperti itu? Jujur, aku belum pernah merasakannya. Aku jatuh cinta pada orang yang masih berada di hatiku pun bukan pada padangan pertama. Karena terlalu sering menatap hingga akhirnya jatuh dan terperangkap.

Semenjak pertemuan pertamaku dengan lelaki itu, teman-temanku sibuk mengodaku dengan postan lelaki itu tentang hari kami pulang bersama. Aku hanya tertawa sekenanya. Ini mungkin hanya candaan mereka saja, pikirku. Namun semakin lama itu menjadi kenyataan.  Dengan berbagai kecanggungan dan bantuan temannya yang juga sahabatku di kampus, kami saling terhubung. Dan cinta pada pandangan pertama itu seakan nyata untuknya dan abu-abu untukku.

Itu terlalu cepat. Pernyataan itu tertalu cepat. Dipikiranku saat itu apa yang menarik dari ku, apa yang membuatnya bisa dengan mudah mengatakan bahwa dia menyukaiku itu tak memuaskan kebinggunganku. Dan hal itu membuatku semakin tak yakin apa semua hal yang dikatakan begitu cepat bukanlah sebuah permainan. Bagaimana bisa bertemu sekali dan langsung tertarik dan itupun pada seseorang seperti aku.

Aku harus memikirkan semuanya, segalanya. Jadi aku memintanya menunggu sebentar. Untuk setidaknya aku yakin akan hal itu nyata hanya permainan saja. Karena bagiku tak ada cinta seperti itu, cinta pada pandangan pertama. Ditambah lagi aku masih memikirkan seseorang. Yang sangat berarti di hidupku. Yang masih mengisi ruang yang sangat luas di hatiku. Seseorang yang tak bisa aku lupakan walau 3 tahun sudah berlalu.

Dia mengiyakan permintaanku. Menunggu aku berpikir.  Sambil kami semakin mengenal. Pertemuan pertama, pernyataan di seminggu setelahnya, waktu yang sangat singkat. Aku mencoba bertanya ke sahabat-sahabatku. Dan semakin membuatku, berpikir semakin keras. Haruskah aku menerima uluran tanganya dan mengatakan iya? Atau melepaskan balon berbentuk hati yang diberikannya padaku? Dan akhirnya aku menerima pernyataannya. Aku berkata aku akan mencoba, mengisi hatiku dengan segala tentangnya.

Walau dia mengatakan dia bisa menunggu, namun aku tau dia tidak bisa. Bagaimana pun dia mengatakan dia akan sabar menunggu selama apapun tapi sikapnya berbanding terbalik dari yang dijanjikan. Dia tak sadar, bahwa ada beberapa sikapnya terkadang terasa menyakitkan. Segala sangkaan dan kata-kata yang mungkin tak dia sadari terkadang menyudutkanku. Semula aku berpikir ini karena kita belum saing mengenal. Permulaan hubungan yang tergesa-gesa namun disisi lain aku ingin belajar untuk memberi hal yang sama padanya. Tapi itu tak berhasil. Tuduhan yang diberikannya padaku itu menyakitkan. Dia mengatakan aku hanya menjadikannya pelampiasanku. Dan tuduhan itu membuat aku benar-benar membencinya. Untuk apa kau berkata kau ingin menjalin hubungan dengan seseorang tapi kau sama sekali tak mempercayainya. Dan bagiku itu lebih dari cukup untuk membuatku berpikir bahwa segala yang aku coba untuk mulai mencintainya pun seakan tak berguna. 


Saling tidak mengenal tapi selanjutnya berani untuk memulai sesuatu bernama cinta bukan hal yang tepat. Prasangka bisa muncul kapanpun dan itu menyakitkan. Menimbulkan kebencian dan permusuhan. Kata goodbye dibisikkan secepat kata hello terucap waktu pertama kali kita bertemu.

Orang-orang yang mengetahui tentang aku dan dia pasti mengira aku bisa begitu saja melepaskannya, bisa tak sedih karena hubungan yang begitu cepat diakhiri. Andai mereka tau berapa banya cairan bening yang membasahi bantalku. Bagaimana gemetarannya tanganku saat aku hendak mengirim pesan perpisahan itu padanya. Dan betapa sesaknya dadaku saat jalan yang berisi kenanganku dengan lelaki itu harus aku lewati setiap harinya. Membuatku ditekan rasa benci pada diriku sendiri. Maaf, aku memang bukan orang baik.

Mimpi-mimpi tentang lelaki itu selalu datang menemuiku. Membuatku semakin nyeri saat mendengar nama atau mengingat hal-hal yang berhubungan dengannya. Kisahku dengannya singkat dan menyakitkan. Sungguh, bila kita bertemu lagi, aku ingin mengatakan ini.  Kata-kata yang tersimpan dan hanya bisa aku ucapkan pada diriku sendiri. Saat kenanganmu berpendar di sekelilingku. 

Aku ingin pergi ke arahmu. Namun kenyataannya aku malah berbalik dan berlari pergi. Aku ingin berteriak dan memukulmu. Namun aku hanya tersenyum dan menghempaskan tanganmu.

Mungkin kau berpikir aku tertawa saat aku memilih untku meninggalkanmu. Tapi taukah kau, terjadi hujan lebat saat kau berkata kau tak mempercaiku. Memang kau yang lebih dulu mengatakannya. Harusnya kau sudah bisa menilai bahwa aku bukan orang yang begitu mudah percaya. Tapi mengapa kau tak berusaha membuatku yakin akan semua yang kau rasakan?

Dirimu membuatku binggung. Sikapmu menunjukkan seakan kau ingin, namun setelahnya seakan tak ingin. Memang semua butuh waktu. Tapi aku tau kau tak bisa memberikan waktu yang banyak bukan? Dan saat aku baru mencoba untuk menjalaninya perlahan-lahan. Kau tiba-tiba saja seakan menghantamku dengan pertanyaan penuh curiga.  Kau mengatakan aku hanya menjadikanmu pelampiasan saja.

Bukankah aku katakan aku ingin mencobanya? Menerima uluran tanganmu. Memulai sesuatu kembali. Meyakinkan diriku sendiri bahwa aku bisa menghapus bayang-bayang orang itu. Cukup untukku buang-buang waktu, terperangkat dalam kastil abu-abu selama 3 tahun.

Tapi pertanyaanmu ketika itu membuatku berpikir, sepertinya dalam suatu hubungan itu, harus keduanya saling menyukai. Bila hanya satu saja yang melakukannya, hubungan itu tak akan mungkin terjalin. Bahkan kesempatannya pun tak ada.

Dan itu membuatku menyesali pilihanku diawal. Berusaha untuk melindungi balon hatimu namun malah aku menggoresnya perlahan-lahan. Jadi, aku membiarkan balon itu terbang ke langit. Taukah kau aku melihat kepergian balon itu dengan pandangan terluka? Tidak, kan?

Aku membiarkanmu menganggap aku orang yang kejam. Aku berpikir, lebih baik kau membenciku seperti itu hingga aku bisa menjauhimu dan melupakanmu. Tetapi, tahukah kau, kenangan kita yang sungguh sebentar itu masih teringat saat aku melewati tempat-tempat itu. Aku hanya bisa tersenyum getir. Sekarang kau sudah menemukan kebahagiaan yang lain bukan? Aku hanya minta, maafkan aku.

Teruntuk, RFF

Bandung, Januari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar