Things That I Couldn’t Say
Hujan
seperti ini terkadang membuatku teringat dengan orang itu. Dan tanpa sengaja kedua mataku menatap
sepasang mata lain yang juga menatapku. Aku ingin memberikan senyum padanya,
tapi yang aku lakukan malah mengalihkan pandanganku. Dan mengeratkan genggaman
tanganku di mantel merah yang ku kenakan.
Beberapa menit setelahnya, aku memberanikan
diriku untuk melihat ke arahnya lagi. Dan orang itu berjalan menghampiriku dan
duduk tak jauh dari tempat dudukku saat ini. Aku tak bisa duduk dengan tenang,
namun aku lega saat dirinya kini sibuk berbincang dengan teman di sampingnya.
Aku menatapnya lekat dari samping. Apa dia
sekarang baik-baik saja? Apa dia membenciku? Apa dia memaafkanku? Beribu pertanyaan lain ingin aku teriakan
padanya. lebih baik dia memarahi dan memukulku daripada dia mendiamkanku
seperti ini. Membuatku semakin merasa menjadi orang yang jahat. Namun dalam hatiku aku merasa,
lebih baik dia memiliki rasa benci padaku. Mungkin, dengan begitu rasa bersalah
yang menekan dadanya akan berkurang lalu pergi.
Aku tersenyum lalu beranjak dari tempat
dudukku. Hujan sudah berhenti, matahari mulai menampakkan cahaya. Aku menutup
mataku, “Tuhan aku mohon, maafkan aku”.
Aku membuka
mataku dan menyadari pipiku basah. Menghapus cairan yang membasahi mataku dan
mendudukkan tubuhku. Menatap keluar jendela, hari masih gelap, hanya suara
rintik hujan yang memecah kesunyian,
“Lagi, lagi
hujan.” Aku tersenyum getir dan membaringkan tubuhku kembali. Menyelimuti
tubuhku hingga menutupi kepala. Membaca pesan terakhirku padanya. “Kak, kita mulai semuanya dari awal. Mulai
dari berteman.”
^^^^
Waktu itu
bulan Desember. Bulan dimana aku dan teman-temanku disibukkan dengan tugas
praktek kampus. Dan karena tugas itu pula aku bertemu dengannya. Lelaki yang
sangat unik di mataku.
Dari
wajahnya saat kami pertama kali bertemu, dia terlihat dingin dan menakutkan.
Aku sedikit canggung karenanya. Namun perlahan-lahan kami bisa berbincang dan
tersenyum bersama, dan karena itu pun tugasku selesai dengan baik.
Kenapa aku
mengatakan dia unik? Karena baru kali itu aku melihat lelaki yang begitu grogi
bertemu dengan orang lain. Bibinya yang sibuk mengerutui temanku, karena dia
yang mengajak lelaki itu kemari. Untuk membantu tugas kami. Aku tertawa,
melihat semua tingkahnya.
Hari itu pun
ditutup dengan kami pulang bersama. Aku memboncengnya pulang menggunakan
motorkku. Dia sempat protes, namun aku mengabaikannya. Tangannya saja gemetaran
saat kami bersalaman, bagaimana kalau dia yang mengendarai motorku? Ditambah
dia tak mengetahui jalan pulang dari kampusku.
Langit kala
itu sudah berubah gelap, lembayung yang menghiasi langit terhapus
perlahan-lahan. Rintik-rintik hujan perlahan turun. Namun kami mengabaikannya,
sibuk dengan candaan dan tawaan yang aku tak tau bahwa itu adalah awal dari
musim hujan yang tak berhenti turun. Kala itu kami mengira tawa itu adalah
tanda awal yang indah.
^^^^
Aku memandanginya yang berada lurus di
hadapanku. Lalu lalang orang yang berada di sekeliling kami terabaikan dengan
suara-suara yang berteriak di telinga dan kepalaku. Sedangkan dia yang berada
di hadapanku hanya berdiri mematung. Aku memberinya tatapan memohon. Katakan
saja satu hal, menghempaskanku atau menarikku kembali. Tapi dia hanya berdiri
tanpa mengatakan apapun. “Selamatkan aku.” Aku berbisik.
Saat aku menatap balon merah jambu yang
talinya aku pegang erat, suara-suara mengganggu di sekelilingku lenyap
seketika. Aku ingin menangis, karena itu. kesunyian membuatku tercekik. Mataku
menutup dan jari-jariku perlahan melepaskan peganggan di tali balon itu. Aku
membuka mataku saat hujan tiba-tiba turun. Dirimu peralahan menghilang bersama
perginya balon itu.
“Bangunlah,
kau sudah mengurung diri seharian.” Suara lembut terdengar. Yasmin –sahabatku-
mengguncang tubuhku. Dia masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. Saat aku
membuka mataku yang bengkak senyum lebar Yasmin menyambutku. “Bagaimana kalau
kita jalan-jalan?”
“Masih
hujan. Aku tak suka keluar saat hujan.” Aku kembali menutup tubuhku dengan
selimut.Yasmin naik ke tempat tidur dan menarik selimutku. “Ayolah, kita bermain
di bawah hujan, atau berbelanja setumpuk novel. Apa saja asal kau tak terjebak
di sini.” Yasmin kembali mengguncang tubuhku. Dan saat aku tak meresponnya,
Yasmin malah melompat-lompat di atas tempat tidur.
Aku menatap
Yasmin yang melompat-lompat seperti kangguru. Aku sungguh ingin memeluknya dan
kembali menangis, menandingi tangisan hujan. Tapi itu memalukan. Sejak kemarin
aku selalu menangis saat berbicara dengannya lewat telepon.
“Aku tidak
mengerti mengapa kau malah tak tau apa yang ada di hatimu.” Yasmin berhenti
melompat dan menatap mataku lekat. Bahunya naik turun, dia segera turun dari
tempat tidur dan meminum air mineral yang ada di meja belajarku.
“Pilih apa yang menurutmu benar.” Ucapnya
lagi. “Kalau kau merasa sakit karena kau akan mengucapkan perpisahan padanya, Itu
berarti kau mulai menyukainya juga.”
Aku
merasakan tubuhku kembali digucangkan. Yasmin menganggukkan kepalanya. Haruskah
aku melakukannya sekarang? Semudah itukah dimulai dan diakhiri?
^^^^
Cinta pada
pandangan pertama? Haruskah aku percaya pada cinta seperti itu? Jujur, aku
belum pernah merasakannya. Aku jatuh cinta pada orang yang masih berada di
hatiku pun bukan pada padangan pertama. Karena terlalu sering menatap hingga
akhirnya jatuh dan terperangkap.
Semenjak
pertemuan pertamaku dengan lelaki itu, teman-temanku sibuk mengodaku dengan
postan lelaki itu tentang hari kami pulang bersama. Aku hanya tertawa
sekenanya. Ini mungkin hanya candaan mereka saja, pikirku. Namun semakin lama
itu menjadi kenyataan. Dengan berbagai
kecanggungan dan bantuan temannya yang juga sahabatku di kampus, kami saling
terhubung. Dan cinta pada pandangan pertama itu seakan nyata untuknya dan
abu-abu untukku.
Itu terlalu
cepat. Pernyataan itu tertalu cepat. Dipikiranku saat itu apa yang menarik dari
ku, apa yang membuatnya bisa dengan mudah mengatakan bahwa dia menyukaiku itu
tak memuaskan kebinggunganku. Dan hal itu membuatku semakin tak yakin apa semua
hal yang dikatakan begitu cepat bukanlah sebuah permainan. Bagaimana bisa
bertemu sekali dan langsung tertarik dan itupun pada seseorang seperti aku.
Aku harus
memikirkan semuanya, segalanya. Jadi aku memintanya menunggu sebentar. Untuk
setidaknya aku yakin akan hal itu nyata hanya permainan saja. Karena bagiku tak
ada cinta seperti itu, cinta pada pandangan pertama. Ditambah lagi aku masih
memikirkan seseorang. Yang sangat berarti di hidupku. Yang masih mengisi ruang
yang sangat luas di hatiku. Seseorang yang tak bisa aku lupakan walau 3 tahun
sudah berlalu.
Dia
mengiyakan permintaanku. Menunggu aku berpikir. Sambil kami semakin mengenal. Pertemuan
pertama, pernyataan di seminggu setelahnya, waktu yang sangat singkat. Aku
mencoba bertanya ke sahabat-sahabatku. Dan semakin membuatku, berpikir semakin
keras. Haruskah aku menerima uluran tanganya dan mengatakan iya? Atau melepaskan
balon berbentuk hati yang diberikannya padaku? Dan akhirnya aku menerima
pernyataannya. Aku berkata aku akan mencoba, mengisi hatiku dengan segala
tentangnya.
Walau dia
mengatakan dia bisa menunggu, namun aku tau dia tidak bisa. Bagaimana pun dia
mengatakan dia akan sabar menunggu selama apapun tapi sikapnya berbanding
terbalik dari yang dijanjikan. Dia tak sadar, bahwa ada beberapa sikapnya
terkadang terasa menyakitkan. Segala sangkaan dan kata-kata yang mungkin tak
dia sadari terkadang menyudutkanku. Semula aku berpikir ini karena kita belum
saing mengenal. Permulaan hubungan yang tergesa-gesa namun disisi lain aku
ingin belajar untuk memberi hal yang sama padanya. Tapi itu tak berhasil.
Tuduhan yang diberikannya padaku itu menyakitkan. Dia mengatakan aku hanya
menjadikannya pelampiasanku. Dan tuduhan itu membuat aku benar-benar
membencinya. Untuk apa kau berkata kau ingin menjalin hubungan dengan seseorang
tapi kau sama sekali tak mempercayainya. Dan bagiku itu lebih dari cukup untuk
membuatku berpikir bahwa segala yang aku coba untuk mulai mencintainya pun
seakan tak berguna.
Saling tidak
mengenal tapi selanjutnya berani untuk memulai sesuatu bernama cinta bukan hal
yang tepat. Prasangka bisa muncul kapanpun dan itu menyakitkan. Menimbulkan
kebencian dan permusuhan. Kata goodbye dibisikkan secepat kata hello terucap
waktu pertama kali kita bertemu.
Orang-orang
yang mengetahui tentang aku dan dia pasti mengira aku bisa begitu saja
melepaskannya, bisa tak sedih karena hubungan yang begitu cepat diakhiri. Andai
mereka tau berapa banya cairan bening yang membasahi bantalku. Bagaimana
gemetarannya tanganku saat aku hendak mengirim pesan perpisahan itu padanya.
Dan betapa sesaknya dadaku saat jalan yang berisi kenanganku dengan lelaki itu
harus aku lewati setiap harinya. Membuatku ditekan rasa benci pada diriku
sendiri. Maaf, aku memang bukan orang baik.
Mimpi-mimpi
tentang lelaki itu selalu datang menemuiku. Membuatku semakin nyeri saat mendengar
nama atau mengingat hal-hal yang berhubungan dengannya. Kisahku dengannya singkat
dan menyakitkan. Sungguh, bila kita bertemu lagi, aku ingin mengatakan ini. Kata-kata yang tersimpan dan hanya bisa aku
ucapkan pada diriku sendiri. Saat kenanganmu berpendar di sekelilingku.
Aku ingin pergi ke arahmu. Namun kenyataannya
aku malah berbalik dan berlari pergi. Aku ingin berteriak dan memukulmu. Namun
aku hanya tersenyum dan menghempaskan tanganmu.
Mungkin kau berpikir aku tertawa saat aku
memilih untku meninggalkanmu. Tapi taukah kau, terjadi hujan lebat saat kau
berkata kau tak mempercaiku. Memang kau yang lebih dulu mengatakannya. Harusnya
kau sudah bisa menilai bahwa aku bukan orang yang begitu mudah percaya. Tapi
mengapa kau tak berusaha membuatku yakin akan semua yang kau rasakan?
Dirimu membuatku binggung. Sikapmu
menunjukkan seakan kau ingin, namun setelahnya seakan tak ingin. Memang semua
butuh waktu. Tapi aku tau kau tak bisa memberikan waktu yang banyak bukan? Dan
saat aku baru mencoba untuk menjalaninya perlahan-lahan. Kau tiba-tiba saja
seakan menghantamku dengan pertanyaan penuh curiga. Kau mengatakan aku hanya menjadikanmu pelampiasan
saja.
Bukankah aku katakan aku ingin mencobanya? Menerima
uluran tanganmu. Memulai sesuatu kembali. Meyakinkan diriku sendiri bahwa aku
bisa menghapus bayang-bayang orang itu. Cukup untukku buang-buang waktu,
terperangkat dalam kastil abu-abu selama 3 tahun.
Tapi pertanyaanmu ketika itu membuatku berpikir,
sepertinya dalam suatu hubungan itu, harus keduanya saling menyukai. Bila hanya
satu saja yang melakukannya, hubungan itu tak akan mungkin terjalin. Bahkan
kesempatannya pun tak ada.
Dan itu membuatku menyesali pilihanku diawal.
Berusaha untuk melindungi balon hatimu namun malah aku menggoresnya
perlahan-lahan. Jadi, aku membiarkan balon itu terbang ke langit. Taukah kau
aku melihat kepergian balon itu dengan pandangan terluka? Tidak, kan?
Aku membiarkanmu menganggap aku orang yang
kejam. Aku berpikir, lebih baik kau membenciku seperti itu hingga aku bisa
menjauhimu dan melupakanmu. Tetapi, tahukah kau, kenangan kita yang sungguh
sebentar itu masih teringat saat aku melewati tempat-tempat itu. Aku hanya bisa
tersenyum getir. Sekarang kau sudah menemukan kebahagiaan yang lain bukan? Aku hanya
minta, maafkan aku.
Teruntuk, RFF
Bandung, Januari




Tidak ada komentar:
Posting Komentar