TITLE : [REQ FF] YOU DONT KNOW // PART 2
AUTHOR :
EVERG
GENRE :
ROMANCE, OOC, FRIENDSHIP
RATING :
PG 17
MAIN CAST :
·
THUNDER
MBLAQ as THUNDER
·
ADIASTY
as PARK AH JUNG
SUPPORT CAST :
LIAT SENDIRI
WARNING :
Karakter tokoh
di sini berbeda jauh dari aslinya, Abal-abal, , DON’T LIKE DON’T READ, NO COPAS, banyak miss typo
READ my FF and give me your FEEDBACK about this FF
DISCLAIMER :
FF ini milik ku. Bukan hasil tambal sulam dari
author lain. Hasil pertapaan yang panjang dan hasilnya tetap seperti ini.
RCL Please
-HAPPY READING-
^^^
Mungkin
orang-orang akan berkata aku menjadi bodoh karena cinta. Namun bila karena ini
aku merasakan betapa bahagianya bersamamu. Aku rela menjadi orang bodoh
selamanya. –Aku-
Ah
Jung dengan senyum lebar berjalan menyusuri koridor fakultas hukum. Berjalan
sambil bersenandung, sesekali melirik tas kecil di tangan kanannya. Thunder pasti akan terkejut. Ah Jung
terhenti sebentar, meletakkan tas kecil berisi bekal di atas kursi panjang di
koridor itu. Membuka tasnya dam mengambil buku note kecil. “Dia seharusnya ada
di sini.” Ah Jung melihat buku notenya sekali lagi sebelum matanya meneliti
sekelilingnya. Seharusnya sekarang dia
sudah keluar kelas tapi kenapa sepi sekali?
Ah
Jung memasukkan kembali notenya ke dalam tas. Menduduki kursi panjang itu. Menepuk-nepuk
tas kecil di sampingnya. “Jika sepuluh menit dia tak juga terlihat, ya sudah.”
Melihat jam tangannya, 15 menit lagi ia akan ada kuliah.
Tangan
Ah Jung yang hendak terangkat segera diturunkannya. Saat matanya menangkap
sosok Thunder yang sedang berjalan bersama seorang gadis berambut cokelat
panjang. Gadis itu sedang berbicara sedangkan Thunder di sampingnya hanya
berjalan sambil fokus membaca buku di tangan kanannya. Gadis berambut coklat
itu berhenti lalu menarik lengan Thunder. Thunder menutup bukunya dan memandang
gadis itu. Setelahnya, Thunder menggeleng dan meninggalkan sang gadis yang
sibuk menghentakkan kakinya.
Ah
Jung hanya menatapnya dari kejauhan. Matanya tak lepas memandangi Thunder yang
kembali berjalan. Pandangannya lurus ke depan. Dia pasti tak menyadari kehadiranku. Dan benar, Thunder melewatinya
begitu saja. Ah Jung meniup poninya. Membawa tas kecilnya dan berjalan
mengikuti Thunder.
“Walau
kau sudah menjadi kekasihku, kau tetap suka mengikutiku diam-diam.” Thunder tiba-tiba berhenti lalu
berbalik. Ah Jung yang sedari tadi mengikuti Thunder dengan otak yang sibuk
menebak-nebak apa yang dibicarakan Thunder dengan gadis tadi, tak ayal menabrak
dada Thunder begitu saja. Thunder menjauhkan tubuh Ah Jung darinya. “Jangan
berjalan kalau kau sibuk memikirkan hal lain.” Thunder memukul pelan puncak
kepala Ah Jung dengan buku tebal di tangannya. Ah Jung mengelus kepalanya
sambil memicingkan mata.
Setelahnya
Ah Jung menggerakkan tas kecil birunya di hadapan Thunder. Kening Thunder
berkerut. Sebelum Thunder sempat membuka mulutnya, Ah Jung sudah menarik
Thunder menuju kursi kayu di taman fakultas hukum. Menepuk tempat kosong di
sampingnya. Saat Thunder sudah duduk, Ah Jung mengeluarkan kotak-kotak bekal
dari dalam tas biru itu.
“Kau
pasti belum makan sejak pagi, kan? Selamat menikmati,” Ah Jung memberikan
sumpit pada Thunder. Thunder mulai memakan satu per satu makanan yang dibuat Ah
Jung. Ah Jung menatap Thunder dengan lekat, setelah mengunyah beberapa detik
Thunder mengacungkan jempolnya. Ah Jung bertepuk tangan. “Selalu saja kau sibuk
dengan buku tebalmu itu. bahkan gadis cantik yang berbicara tadi tak kau
pedulikan. Kebiasaan yang buruk.” Ah Jung tersenyum kecil sambil memandang ke
arah lain.
Thunder
menghentikan aktivitasnya makan, memandang Ah Jung sejenak lalu kembali
meneruskan makannya. Ah Jung yang tak mendengar apapun dari Thunder hanya
melirik sebentar. Di dalam hatinya, Ah Jung menggerutu. Lelaki ini, tau tidak sih apa maksud perkataannya tadi.
“A-“
“Dia
mengajakku menonton film bersama.” Mata Ah Jung membesar, sedang Thunder
meminum air mineral yang dibawa Ah Jung dengan tenang. “Terima kasih, lain kali
kau tak usah begitu repot.” Thunder memasukkan kembali kotak bekal dan botol
air mineral ke daam tas biru. Lalu setelahnya dia berdiri, memakai tas ransel
dan tak lupa menggenggam buku tebalnya.
“Lalu
apa jawabanmu?” Thunder yang hendak melangkah, berbalik. Menatap gadis berambut
lurus panjang yang masih duduk itu lekat. Ah Jung sedang menatapnya tanpa
berkedip.
“Aku
terlalu sibuk hanya untuk menonton film seperti itu.” Thunder menggerakkan buku
yang digenggamnya. Ah Jung berdecak. Thunder mengelus kepala Ah Jung sambil
tersenyum tipis. Mata Ah Jung kembali tak berkedip menatap senyum Thunder.
Jantungnya berdebar cepat.
“Kalau
aku yang mengajakmu, apa kau akan mengabulkannya?” tanya Ah Jung pelan.
Tangannya menahan lengan Thunder yang lagi-lagi harus menunda kepergiannya.
“Tergantung.”
Ah Jung memiringkan kepalanya. “Tergantung apakah penawaranmu lebih menarik
dari ini.”Thunder menggoyangkan buku tebalnya lagi. Thunder melepaskan
genggaman Ah Jung di lengannya dengan lembut. “Aku harus pergi, semoga harimu
menyenangkan.” Thunder berjalan meninggalkan Ah Jung sambil melambaikan tangan.
“Lebih
baik aku terlahir menjadi sebuah buku saja kalau seperti ini.”
^^^
Ah
Jung membaringkan kepalanya di meja kantin. Bibirnya sibuk meniup-niup poni
hitamnya. Keadaan kantin sedang sepi. Mengingat sekarang para mahasiswa sedang
sibuk di kelasnya masing-masing. Dan Ah Jung harus rela berdiam di kantin
setelah ia melewatkan kuliahnya hari ini.
Ah
Jung mendonggak saat pipi kanannya merasa dingin. Terlihat seorang lelaki
berdiri di sampingnya sambil menggoyangkan sekaleng coke. Saat tersenyum,
terlihat lesung pipi kecil lelaki itu. Lelaki itu membuka kaleng coke sebelum
meletakkannya di hadapan Ah Jung.
“Gomawo.”
Ah Jung mengangkat kaleng cokenya. “Ada apa seorang Lee Joon berada di kantin
di jam seperti ini?”
“Kau
sendiri?” ucap lelaki bernama Lee Joon itu sambil menenggak coke miliknya. Ah
Jung mengangkat kedua bahunya lemah. “Ah, kau membolos.” Joon menyentuh ujung
hidung Ah Jung. “Sejak kapan kau suka membolos, Ah Jung?” Joon mengerakkan
telunjuknya ke kanan dan kiri.
“Aku
tidak membolos dengan sengaja. Karena menemani makan siang seseorang, aku-“
Perkataan Ah Jung terhenti saat seorang gadis menghampiri mereka dan mengebrak
meja mereka begitu saja. Gadis berambut
coklat yang tadi.
“Wow,
Jieun, santai.” Joon meminum cokenya lagi dan memandang Jien –gadis berambut
cokelat- dengan mata yang terbelalak. “Gadis manis sepertimu ternyata bisa
membuat kantin ini berguncang, ya.” Tawa
Joon dibalas dengan delik tajam Jieun.
“Kau!”
Jieun menunjuk wajah Ah Jung dengan geram, membuat Ah Jung sedikit memundurkan
wajahnya. “Apa benar kau dan Thunder
berpacaran? Kenapa bisa dia menerima gadis sepertimu? Dia menolakku berulang kali,
dan kau- hah, gadis seperti kau malah mendapatkannya?” Jieun terus berbicara
seakan tak membutuhkan oksigen untuk bernafas. Jieun memandang Ah Jung dari
kepala hingga kakinya. Joon yang mendengarnya pun terbelalak. “Dan apa karena
kau juga, dia menolak ajakanku untuk menonton film? Yak, aku membencimu!” Jieun
mengambil coke milik Ah Jun dan tersenyum licik. Ah Jung menutup matanya. Joon
yang hendak menghalangi Jieun pun didorong begitu saja.
Ah
Jung pasrah saat wajahnya terasa sedikit basah, sedikit? Dengan perlahan Ah Jung membuka matanya, mulutnya
mengganga. Seseorang lain ternyata sudah lebih dulu menyiram Jieun. Kaleng coke
yang dipegang Jieun pun jatuh begitu saja ke lantai.
“Bagaimana,
apakah kepalamu sudah lebih dingin?” Seorang gadis mengacungkan jempolnya pada
Ah Jung. Setelahnya ia melempar botol mineral yang telah kosong itu ke samping
Jieun dengan keras. “Setidaknya rambut indahmu itu tak akan lengket. Hush,”
Gadis yang menyiram Jieun menggerakkan tangannya. Jieun mengepalkan kedua
tangannya, terdengar gemerutuk giginya. “Apa lagi yang kau tunggu, hah?” Jieun
menghentakkan kakinya, berlalu pergi.
Ah
Jung mengejapkan kedua matanya. “Min Young, kau-“ Ah Jung menunjuk ke arah Min
Young dan Jieun bergantian. Sedang Min Young duduk di samping Ah Jung dengan
tenang. Min Young menatap Joon yang juga
masih terpaku menatapnya. Joon tersenyum kecil sambil menggaruk kepalanya.
Tak
lama setelah itu Mae Ri dan Hwe Ji datang menghampiri mereka. Sibuk bertanya
mengapa Ah Jung tak mengikuti kuliah hari ini. “Wowo, sepertinya pertemuan para
gadis akan dimulai. Sampai jumpa lagi Ah Jung. Kau berhutang penjelasan
mengenai hal tadi padaku.” Joon mengedipkan sebelah matanya dan berlalu pergi.
“Apa
yang dilakukannya? Apa kau bolos bersama Joon? Penjelasan hal tadi, apa itu?” tanya
Hwe Ji. Ah Jung hanya menghela nafas panjang.
“Jieun
hampir saja menyiramnya tadi.” Ucap Min Young tenang sambil memakan kentang
goreng yang entah sejak kapan dipesannya. Hwe Ji dan Mae Ri memandang Min Young
meminta penjelasan. Tapi Min Young mendorong bahu Ah Jung untuk menjawabnya.
“Jieun
datang saat aku sedang bersama Joon, dia bertanya apa aku adalah pacar Thunder.
Berkata aku tak pantas untuk Thunder, sedang dia terus ditolak. Saat ia hendak
menyiramku dengan coke, Min Young sudah menyiramnya lebih dulu. Aku berterima
kasih soal itu.”
Hwe
Ji dan Mae Ri pun duduk bergabung dengan Min Young dan Ah Jung. “Tak ku sangka
lelaki seperti Thunder dikelilingi banyak gadis juga. Para gadis yang menakutkan.”
“Bukankah
Joon lebih manis dari Thunder? Tak sadarkah kau, Joon menyukaimu?” ucapan Hwe
Jin membuat Min Young dan Mae Ri menatap Hwe Ji. “Ia begitu perhatian dan saat
kau membutuhkan bantuannya, Joon pasti ada di sampingmu.”
“Tapi
tadi Joon hanyad iam saja.” Potong Min Young.
“Ya,
tapi aku tak bisa membohongi hatiku kalau aku lebih mencintai Thunder.”
Ketiga
sahabatnya hanya mengangguk. Siapa pun akan susah berbicara dengan seseorang
yang sedang jatuh cinta. Segala hal
terlihat begitu indah. Hal-hal yang dulu dianggap tolol bisa begitu saja
dilakukan bila sedang jatuh cinta. Mereka pun sibuk dengan pikirannya
masing-masing. Sampai akhirnya Hwe Jin mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
“Aku
mempunyai dua tiket film untuk kau dan Thunder. Ajaklah dia menonton bersama
kami. Kita juga kan ingin tahu bagaimana Thunder, hingga kau bisa begitu jatuh
hati padanya.” Hwe Ji terkikik, meletakkan kedua tiket itu di tangan Ah Jung.
“Aku
tak janji bisa mengajaknya menonton. Baru saja tadi Jieun ditolak saat mengajak
Thunder menonton bersama.” Ah Jung menghela nafasnya lagi. “Aku harus lebih
menarik dari buku baru dia mau menonton bersamaku.”
“Hah,
perkataan bodoh macam apa itu. Spakah orang jenius seperti dirinya hanya mau
bergaul dengan buku-buku tebal dan perpustakaan?” Mae Ri berdecak. Memasang
wajah hendak muntah. “Bersiap-siaplah
kau berubah aneh seperti dirinya.” Mae
Ri menepuk bahu Ah Jung. Ah Jung kembali membaringkan kepalanya di meja. Ketiga
sahabatnya hanya bisa menatapnya prihatin.
Hwe
Ji dan Mae Ri beralih menatap Min Young. Min Young segera melihat ke arah lain
saat ditatap seperti itu. Ponsel Min Young bergetar, ia membuka pesan di
ponselnya dan menggeleng ke arah Mae Ri dan Hwe Jin. Jangan coba-coba kabur, tulis
pesan selanjutnya.
^^^
Min
Young pasrah saat kedua temannya mengunci pintu kamarnya. Saat ini mereka
sedang berada di kamar Min Young. Dan Min Young tak bisa berbuat apapun bila
Hwe Ji dan Mae Ri sudah seperti ini.
“Kau
harus membantu Ah Jung.” Ucap Mae Ri sambil meneliti keadaan kamar Min Young. Foto itu sudah tak ada lagi, pikir Mae Ri.
“Kalau
bukan rencana yang satu itu, aku dengan senang hati akan melakukannya.” Min
Young membaringkan tubuhnya dan menekuk tubuhnya begitu saja.
“Kau
pikir ada cara lain?” Mae Ri berbaring di samping Min Young.
“Ayolah,
kau tega melihat Ah Jung murung begitu. Bagaimana kalau orang lain pun menilai
hal yang sama. Bahwa Ah Jung hanya dipermainkan oleh Thunder. Ayolah,” Hwe Ji
menggoyangkan lengan kanan Min Young.
“Sepertinya
Min Young masih menganggap hal itu penting.” Mae Ri menatap langit kamat Min
Young.
“Tidak,”
ucap Min Young cepat.
“Kalau
begitu buktikan.” Min Young hanya bisa menutup wajahnya dengan bantal.
^^^
tebece




Tidak ada komentar:
Posting Komentar