.showpageArea a { text-decoration:underline; } .showpageNum a { text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; margin:0 3px; padding:3px; } .showpageNum a:hover { border: 1px solid #cccccc; background-color:#cccccc; } .showpagePoint { color:#333; text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; background: #cccccc; margin:0 3px; padding:3px; } .showpageOf { text-decoration:none; padding:3px; margin: 0 3px 0 0; } .showpage a { text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; padding:3px; } .showpage a:hover { text-decoration:none; } .showpageNum a:link,.showpage a:link { text-decoration:none; color:#333333; }

Flash Labels by Way2Blogging

Jumat, 07 Maret 2014

[REQ FF] YOU DONT KNOW // PART 2



TITLE            :  [REQ FF] YOU DONT KNOW // PART 2

AUTHOR      : EVERG

GENRE         : ROMANCE, OOC, FRIENDSHIP

RATING        : PG 17

MAIN CAST             :
·         THUNDER MBLAQ as THUNDER

·         ADIASTY as PARK AH JUNG

SUPPORT CAST     :
LIAT SENDIRI

WARNING   :
Karakter tokoh di sini berbeda jauh dari aslinya, Abal-abal, , DONT LIKE DONT READ, NO COPAS, banyak miss typo

READ my FF and give me your FEEDBACK  about this FF

DISCLAIMER          :
 FF ini milik ku. Bukan hasil tambal sulam dari author lain. Hasil pertapaan yang panjang dan hasilnya tetap seperti ini.

RCL Please

EPISODE SEBELUMNYA

PART 1 

-HAPPY READING-
^^^

Mungkin orang-orang akan berkata aku menjadi bodoh karena cinta. Namun bila karena ini aku merasakan betapa bahagianya bersamamu. Aku rela menjadi orang bodoh selamanya. –Aku-

Ah Jung dengan senyum lebar berjalan menyusuri koridor fakultas hukum. Berjalan sambil bersenandung, sesekali melirik tas kecil di tangan kanannya. Thunder pasti akan terkejut. Ah Jung terhenti sebentar, meletakkan tas kecil berisi bekal di atas kursi panjang di koridor itu. Membuka tasnya dam mengambil buku note kecil. “Dia seharusnya ada di sini.” Ah Jung melihat buku notenya sekali lagi sebelum matanya meneliti sekelilingnya. Seharusnya sekarang dia sudah keluar kelas tapi kenapa sepi sekali?

Ah Jung memasukkan kembali notenya ke dalam tas. Menduduki kursi panjang itu. Menepuk-nepuk tas kecil di sampingnya. “Jika sepuluh menit dia tak juga terlihat, ya sudah.” Melihat jam tangannya, 15 menit lagi ia akan ada kuliah.

Tangan Ah Jung yang hendak terangkat segera diturunkannya. Saat matanya menangkap sosok Thunder yang sedang berjalan bersama seorang gadis berambut cokelat panjang. Gadis itu sedang berbicara sedangkan Thunder di sampingnya hanya berjalan sambil fokus membaca buku di tangan kanannya. Gadis berambut coklat itu berhenti lalu menarik lengan Thunder. Thunder menutup bukunya dan memandang gadis itu. Setelahnya, Thunder menggeleng dan meninggalkan sang gadis yang sibuk menghentakkan kakinya.

Ah Jung hanya menatapnya dari kejauhan. Matanya tak lepas memandangi Thunder yang kembali berjalan. Pandangannya lurus ke depan. Dia pasti tak menyadari kehadiranku. Dan benar, Thunder melewatinya begitu saja. Ah Jung meniup poninya. Membawa tas kecilnya dan berjalan mengikuti Thunder.

“Walau kau sudah menjadi kekasihku, kau tetap suka mengikutiku  diam-diam.” Thunder tiba-tiba berhenti lalu berbalik. Ah Jung yang sedari tadi mengikuti Thunder dengan otak yang sibuk menebak-nebak apa yang dibicarakan Thunder dengan gadis tadi, tak ayal menabrak dada Thunder begitu saja. Thunder menjauhkan tubuh Ah Jung darinya. “Jangan berjalan kalau kau sibuk memikirkan hal lain.” Thunder memukul pelan puncak kepala Ah Jung dengan buku tebal di tangannya. Ah Jung mengelus kepalanya sambil memicingkan mata.

Setelahnya Ah Jung menggerakkan tas kecil birunya di hadapan Thunder. Kening Thunder berkerut. Sebelum Thunder sempat membuka mulutnya, Ah Jung sudah menarik Thunder menuju kursi kayu di taman fakultas hukum. Menepuk tempat kosong di sampingnya. Saat Thunder sudah duduk, Ah Jung mengeluarkan kotak-kotak bekal dari dalam tas biru itu.

“Kau pasti belum makan sejak pagi, kan? Selamat menikmati,” Ah Jung memberikan sumpit pada Thunder. Thunder mulai memakan satu per satu makanan yang dibuat Ah Jung. Ah Jung menatap Thunder dengan lekat, setelah mengunyah beberapa detik Thunder mengacungkan jempolnya. Ah Jung bertepuk tangan. “Selalu saja kau sibuk dengan buku tebalmu itu. bahkan gadis cantik yang berbicara tadi tak kau pedulikan. Kebiasaan yang buruk.” Ah Jung tersenyum kecil sambil memandang ke arah lain.

Thunder menghentikan aktivitasnya makan, memandang Ah Jung sejenak lalu kembali meneruskan makannya. Ah Jung yang tak mendengar apapun dari Thunder hanya melirik sebentar. Di dalam hatinya, Ah Jung menggerutu. Lelaki ini, tau tidak sih apa maksud perkataannya tadi.

“A-“

“Dia mengajakku menonton film bersama.” Mata Ah Jung membesar, sedang Thunder meminum air mineral yang dibawa Ah Jung dengan tenang. “Terima kasih, lain kali kau tak usah begitu repot.” Thunder memasukkan kembali kotak bekal dan botol air mineral ke daam tas biru. Lalu setelahnya dia berdiri, memakai tas ransel dan tak lupa menggenggam buku tebalnya.

“Lalu apa jawabanmu?” Thunder yang hendak melangkah, berbalik. Menatap gadis berambut lurus panjang yang masih duduk itu lekat. Ah Jung sedang menatapnya tanpa berkedip.

“Aku terlalu sibuk hanya untuk menonton film seperti itu.” Thunder menggerakkan buku yang digenggamnya. Ah Jung berdecak. Thunder mengelus kepala Ah Jung sambil tersenyum tipis. Mata Ah Jung kembali tak berkedip menatap senyum Thunder. Jantungnya berdebar cepat.

“Kalau aku yang mengajakmu, apa kau akan mengabulkannya?” tanya Ah Jung pelan. Tangannya menahan lengan Thunder yang lagi-lagi harus menunda kepergiannya.

“Tergantung.” Ah Jung memiringkan kepalanya. “Tergantung apakah penawaranmu lebih menarik dari ini.”Thunder menggoyangkan buku tebalnya lagi. Thunder melepaskan genggaman Ah Jung di lengannya dengan lembut. “Aku harus pergi, semoga harimu menyenangkan.” Thunder berjalan meninggalkan Ah Jung sambil melambaikan tangan.

“Lebih baik aku terlahir menjadi sebuah buku saja kalau seperti ini.”
^^^
Ah Jung membaringkan kepalanya di meja kantin. Bibirnya sibuk meniup-niup poni hitamnya. Keadaan kantin sedang sepi. Mengingat sekarang para mahasiswa sedang sibuk di kelasnya masing-masing. Dan Ah Jung harus rela berdiam di kantin setelah ia melewatkan kuliahnya hari ini.

Ah Jung mendonggak saat pipi kanannya merasa dingin. Terlihat seorang lelaki berdiri di sampingnya sambil menggoyangkan sekaleng coke. Saat tersenyum, terlihat lesung pipi kecil lelaki itu. Lelaki itu membuka kaleng coke sebelum meletakkannya di hadapan Ah Jung.

“Gomawo.” Ah Jung mengangkat kaleng cokenya. “Ada apa seorang Lee Joon berada di kantin di jam seperti ini?”

“Kau sendiri?” ucap lelaki bernama Lee Joon itu sambil menenggak coke miliknya. Ah Jung mengangkat kedua bahunya lemah. “Ah, kau membolos.” Joon menyentuh ujung hidung Ah Jung. “Sejak kapan kau suka membolos, Ah Jung?” Joon mengerakkan telunjuknya ke kanan dan kiri.

“Aku tidak membolos dengan sengaja. Karena menemani makan siang seseorang, aku-“ Perkataan Ah Jung terhenti saat seorang gadis menghampiri mereka dan mengebrak meja mereka begitu saja. Gadis berambut coklat yang tadi.

“Wow, Jieun, santai.” Joon meminum cokenya lagi dan memandang Jien –gadis berambut cokelat- dengan mata yang terbelalak. “Gadis manis sepertimu ternyata bisa membuat kantin ini berguncang,  ya.” Tawa Joon dibalas dengan delik tajam Jieun.

“Kau!” Jieun menunjuk wajah Ah Jung dengan geram, membuat Ah Jung sedikit memundurkan wajahnya. “Apa benar  kau dan Thunder berpacaran? Kenapa bisa dia menerima gadis sepertimu? Dia menolakku berulang kali, dan kau- hah, gadis seperti kau malah mendapatkannya?” Jieun terus berbicara seakan tak membutuhkan oksigen untuk bernafas. Jieun memandang Ah Jung dari kepala hingga kakinya. Joon yang mendengarnya pun terbelalak. “Dan apa karena kau juga, dia menolak ajakanku untuk menonton film? Yak, aku membencimu!” Jieun mengambil coke milik Ah Jun dan tersenyum licik. Ah Jung menutup matanya. Joon yang hendak menghalangi Jieun pun didorong begitu saja.

Ah Jung pasrah saat wajahnya terasa sedikit basah, sedikit? Dengan perlahan Ah Jung membuka matanya, mulutnya mengganga. Seseorang lain ternyata sudah lebih dulu menyiram Jieun. Kaleng coke yang dipegang Jieun pun jatuh begitu saja ke lantai.

“Bagaimana, apakah kepalamu sudah lebih dingin?” Seorang gadis mengacungkan jempolnya pada Ah Jung. Setelahnya ia melempar botol mineral yang telah kosong itu ke samping Jieun dengan keras. “Setidaknya rambut indahmu itu tak akan lengket. Hush,” Gadis yang menyiram Jieun menggerakkan tangannya. Jieun mengepalkan kedua tangannya, terdengar gemerutuk giginya. “Apa lagi yang kau tunggu, hah?” Jieun menghentakkan kakinya, berlalu pergi.

Ah Jung mengejapkan kedua matanya. “Min Young, kau-“ Ah Jung menunjuk ke arah Min Young dan Jieun bergantian. Sedang Min Young duduk di samping Ah Jung dengan tenang. Min Young menatap Joon yang  juga masih terpaku menatapnya. Joon tersenyum kecil sambil menggaruk kepalanya.

Tak lama setelah itu Mae Ri dan Hwe Ji datang menghampiri mereka. Sibuk bertanya mengapa Ah Jung tak mengikuti kuliah hari ini. “Wowo, sepertinya pertemuan para gadis akan dimulai. Sampai jumpa lagi Ah Jung. Kau berhutang penjelasan mengenai hal tadi padaku.” Joon mengedipkan sebelah matanya dan berlalu pergi.

“Apa yang dilakukannya? Apa kau bolos bersama Joon? Penjelasan hal tadi, apa itu?” tanya Hwe Ji. Ah Jung hanya menghela nafas panjang.

“Jieun hampir saja menyiramnya tadi.” Ucap Min Young tenang sambil memakan kentang goreng yang entah sejak kapan dipesannya. Hwe Ji dan Mae Ri memandang Min Young meminta penjelasan. Tapi Min Young mendorong bahu Ah Jung untuk menjawabnya.

“Jieun datang saat aku sedang bersama Joon, dia bertanya apa aku adalah pacar Thunder. Berkata aku tak pantas untuk Thunder, sedang dia terus ditolak. Saat ia hendak menyiramku dengan coke, Min Young sudah menyiramnya lebih dulu. Aku berterima kasih soal itu.”

Hwe Ji dan Mae Ri pun duduk bergabung dengan Min Young dan Ah Jung. “Tak ku sangka lelaki seperti Thunder dikelilingi banyak gadis juga. Para gadis yang menakutkan.”

“Bukankah Joon lebih manis dari Thunder? Tak sadarkah kau, Joon menyukaimu?” ucapan Hwe Jin membuat Min Young dan Mae Ri menatap Hwe Ji. “Ia begitu perhatian dan saat kau membutuhkan bantuannya, Joon pasti ada di sampingmu.”

“Tapi tadi Joon hanyad iam saja.” Potong Min Young.

“Ya, tapi aku tak bisa membohongi hatiku kalau aku lebih mencintai Thunder.”

Ketiga sahabatnya hanya mengangguk. Siapa pun akan susah berbicara dengan seseorang yang sedang  jatuh cinta. Segala hal terlihat begitu indah. Hal-hal yang dulu dianggap tolol bisa begitu saja dilakukan bila sedang jatuh cinta. Mereka pun sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sampai akhirnya Hwe Jin mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

“Aku mempunyai dua tiket film untuk kau dan Thunder. Ajaklah dia menonton bersama kami. Kita juga kan ingin tahu bagaimana Thunder, hingga kau bisa begitu jatuh hati padanya.” Hwe Ji terkikik, meletakkan kedua tiket itu di tangan Ah Jung.

“Aku tak janji bisa mengajaknya menonton. Baru saja tadi Jieun ditolak saat mengajak Thunder menonton bersama.” Ah Jung menghela nafasnya lagi. “Aku harus lebih menarik dari buku baru dia mau menonton bersamaku.”

“Hah, perkataan bodoh macam apa itu. Spakah orang jenius seperti dirinya hanya mau bergaul dengan buku-buku tebal dan perpustakaan?” Mae Ri berdecak. Memasang wajah hendak muntah.  “Bersiap-siaplah kau berubah aneh seperti dirinya.”  Mae Ri menepuk bahu Ah Jung. Ah Jung kembali membaringkan kepalanya di meja. Ketiga sahabatnya hanya bisa menatapnya prihatin.

Hwe Ji dan Mae Ri beralih menatap Min Young. Min Young segera melihat ke arah lain saat ditatap seperti itu. Ponsel Min Young bergetar, ia membuka pesan di ponselnya dan menggeleng ke arah Mae Ri dan Hwe Jin. Jangan coba-coba kabur, tulis pesan selanjutnya.
^^^

Min Young pasrah saat kedua temannya mengunci pintu kamarnya. Saat ini mereka sedang berada di kamar Min Young. Dan Min Young tak bisa berbuat apapun bila Hwe Ji dan Mae Ri sudah seperti ini.

“Kau harus membantu Ah Jung.” Ucap Mae Ri sambil meneliti keadaan kamar Min Young. Foto itu sudah tak ada lagi, pikir Mae Ri.

“Kalau bukan rencana yang satu itu, aku dengan senang hati akan melakukannya.” Min Young membaringkan tubuhnya dan menekuk tubuhnya begitu saja.

“Kau pikir ada cara lain?” Mae Ri berbaring di samping  Min Young.

“Ayolah, kau tega melihat Ah Jung murung begitu. Bagaimana kalau orang lain pun menilai hal yang sama. Bahwa Ah Jung hanya dipermainkan oleh Thunder. Ayolah,” Hwe Ji menggoyangkan lengan kanan Min Young.

“Sepertinya Min Young masih menganggap hal itu penting.” Mae Ri menatap langit kamat Min Young.

“Tidak,” ucap Min Young cepat.

“Kalau begitu buktikan.” Min Young hanya bisa menutup wajahnya dengan bantal.
^^^
     tebece

Tidak ada komentar:

Posting Komentar