TITLE : AYO KITA
BERPISAH
AUTHOR : EVERG
GENRE : SAD GAGAL
Main CAST :
·
LEO
VIXX
·
BANG
MINAH
WARNING :
Abal-abal,
GJ, DON’T LIKE DON’T READ, NO COPAS, banyak miss typo
RCL Please
^^^^
“Ayo kita berpisah!”
Kau
mengatakannya dengan datar. Kau masih menatap wajahku yang mungkin sekarang ini
terlihat sangat bodoh saat mendengar kau berkata seperti itu. Untung aku tidak
jadi meminum cappucinoku. Kalau tidak mungkin aku sudah mati tersedak.
Udara
di dalam kafe semakin membuat tubuhku menggigil. Padahal biasanya walaupun
musim hujan sekalipum aku tak akan merasa kedinginan di ruangan berAC seperti
ini. Karena setiap obrolan yang kita lakukan rasa hangat menyeruak di
sekeliling kita.
Aku
masih menatapmu tak berkedip, meyakinkan apa yang aku dengar tadi hanya
leluconmu yang garing seperti biasanya. Ayolah, kau tak pantas menjadi seorang
pelawak. “Maaf, aku tak bisa tertawa untukmu.” Ucapku sambil tersenyum.
“Ayo
kita berpisah.”
Lagi-lagi
kau mengulanginya. Aku menekan gigiku keras, tangan ku benar-benar gatal ingin
segera menamparmu. Semudah itukah kau mengatakannya?
Aku
menyeruput cappucinoku perlahan, berharap ada aliran rasa hangat mengalir
seiring cappucino yang mengaliri kerogkonganku. Agar hatiku tak ikut membeku
dan kemudian pecah dengan mudah hingga berkeping-keping.
“Apa
ini berarti kau sudah tak mencintaiku lagi?”
“Jangan
bertanya hal itu padaku. Aku hanya ingin berpisah,. Berpisah, berpisah,
berpisah, berpisah!” Kau masih mengatakannya dengan pandangan datar. Sepertinya
sangat mudah kau mengatakannya. Mengapa? Mengapa kau begitu tak berperasaan?
“Kau
pikir aku apa! Setenang itu kau mengatakan untuk berpisah kau anggap aku selama
ini apa!” Tak ku pedulikan tatapan orang ke arah kita berdua. Aku ingin sekali
menangis tapi kenapa air mata ini tak mau menetes?
“Jangan
tanyakan lagi apapun. Aku sudah melakukan hal yang benar. Ayo berpisah,” ucapmu
lagi.
Ayolah,
air mata keluar! Setidaknya dengan menangis aku bisa terlihat menyedihkan
sehingga namja menyebalkan di hadapanku ini tak jadi memutuskanku.
“Aku
hanya ingin kita berpisah. Aku kan mencoba menjalani hidupku ditengah
kesendirian. Maaf.”
“Kita
Putus! Semua Berakhir!” Aku keluar kafe dan meninggalkanmu di sana. Aku tak
akan pernah menenggok ke belakang karena kau tak mengejarku sedikitpun. Kalau kau benar-benar ingin berakhir silahkan
saja! Tapi jangan sampai kau mengemis memintaku kembali nantinya!
^^^^
“Leo, menyebalkan~!”
Aku
tersenyum sinis melihat foto kita berdua yang dengan bodohnya masih saja aku
simpan! Aku benar-benar terlalu percaya diri! Jangankan mengemis memintaku
kembali, bersedih pun kau tidak.
Kau
malah bisa tersenyum sangat lebar dengan teman-temanmu, sedangkan aku
menangisimu selama seminggu. Apa cintamu hanya sebuah permainan? Kau tau, kau
sudah membuatku benar-benar jatuh cinta.
Buku
note kecil berwarna biru langit ini sudah tak berbentuk. Masih untung aku tak
merobek-robeknya atau ku bakar. Kau tau
apa isi di dalamnya? Akan aku beritahu, ini kisah kau dan aku. Dari awal kau
menyatakan cinta sampai kau menyuruhku berhenti mencintaimu.
Kau
satu-satunya namja yang beruntung masih aku ingat hingga kini. Walau sesakit
apapun rasanya saat memori tentangmu aku putar. Padahal aku adalah tipe orang
yang bisa dengan mudah melupakan dan membenci orang yang menyakitiku. Tapi
untukmu aku tak tau mengapa ada pengecualian.
Tanggal
15 Januari adalah hari di mana kau menyatakan cintamu padaku. Menyatakan cinta
pada yeoja yang tak menarik sama sekali. Walau kau mengatakan begitu tetap saja
jantungku berdetak sangat cepat. Membuat darahku seketika berhenti dan tak bisa
berbicara apapun. Hanya kepalaku yang bergerak naik turun, mengiyakan
permintaanmu.
“Ayo
kita berkencan!” setelah kau mengatakan perasaanmu kau menggenggam tanganku dan
kita berdua berlari mengejar bus menuju bukit SHINe. Katamu di sana akan
terlihat indah saat malam hari. Hari kau mengatakan cintamu sekaligus hari
kencan pertama kita. Begitu manis bukan?
Entah
apa yang membuatku begitu mencintaimu. Seorang namja yang cenderung dingin juga
cuek. Alasan yang aku tau adalah saat kau memperlihatkan rasa peduli dan
cintamu kau terlihat sangat tulus dan rasa itu hanya tertuju untukku.
Sifatmu
yang dingin pun perlahan mencair seiring hubungan kita yang berjalan semakin
lama. Kau sudah bisa menciptakan lelucon walaupun aku berusaha tertawa untuk
menyenangkanmu tapi aku tetap saja menyukainya. Kau terlihat sangat tampan
setiap harinya.
Tanggal
15 kau meyatakan cintamu, tanggal 15 pula kau memutuskanku. Tepat di tahun
kedua hubungan kita. Lagi-lagi aku tak bisa membenci tanggal 15. Tanggal dimana
kebahagiaan ku dapat sekaligus rasa perih dan kehancuran pada akhirnya. Aku
masih saja tak bisa menghapusmu. Folder berisi kau tetap tersimpan utuh dalam
dokumen otakku.
“Aku
dengar Oppamu akan segera pergi wamil? Wah, kau pasti sedih.”
“Ya,
aku sangat khawatir. Ditambah keadaan perbatasan kita sedang bergejolak. Aku
dengar banyak yang tak bisa kembali.”
Terdengar
yeoja yang Oppanya akan wamil itu menangis sedangkan temannya menjadi repot
untuk menghentikan tangisannya. Aku hanya melirik mereka dari sudut mataku.
“Wamil? Bukankah Leo juga akan wamil bulan ini?”
Keadaan
negara memang sedang terdesak. Banyak membutuhkan tenaga-tenaga baru untuk
membela negara. Dan tahun ini Leo akan menjalankan kewajiban wamilnya.
Bagaimana keadaannya setelah dua tahun ini kita berpisah? Apa semua yang dia
butuhkan sudah siap? Aku memukul kepalaku, “Bodoh! Yeojachingunya yang baru
pasti sudah membantunya menyiapkan semuanya.”
Yeoja
cantik yang aku lihat sedang berbelanja bersamanya dua tahun lalu itu pasti
yeojachingunya. Dia memutuskanku pasti karena yeoja itu. Hatiku kembali sakit,
kenapa sudah dua tahun masih terasa perih?
^^^^
“Kau tak akan datang ke lapangan Hans? Kau tak
mau menyampaikan selamat jalan untuk Leo?”
“Tidak,
malas!” Aku tetap terpaku pada novel ketiga yang aku baca hari ini. Padahal
sebenarnya aku tak fokus sama sekali pada apa yang aku baca.
“Atau
setidaknya kita datang ke sana untuk memberi semangat pada pemuda-pemuda yang
akan membela negara?” Rin sahabatku kembali memaksaku untuk pergi. Aku tak
menggubrisnya sama sekali. Mungkin karena lelah memaksaku dia pun berhenti
memaksaku, membuka pintu dan pergi sendiran ke lapangan Hans.
Sudah
tiga jam berlalu tapi Rin belum juga pulang. Apa acaranya begitu lama? Aku yang
mondar-mandir segera duduk dengan santai di sofa sambil membaca bukuku saat tau
Rin akhirnya pulang. Memasang wajah setenang mungkin. Semoga wajah cemasku tak
begitu terlihat.
Rin
duduk di sampingku sambil matanya menatap ke langit-langit. “Aku bertemu Leo
tadi, dia terlihat lebih kuus.” Rin berbicara sambil matanya tetap menatap
langit-langit.
“Yeojachingunya
tak mengurusnya dengan baik.” Aku membalikkan halaman bukuku, tak peduli.
“Foto
yeoja di ponselmu yang kau bilang bersama Leo waktu itu adalah adik sepupunya.
Dia yang akan menempati rumah Leo selama Leo wamil.
Aku
masih memasang wajah tak tertarik. Bukan yeojachingunya? Tapi mereka terlihat
sangat mesra waktu itu. “Leo menitipkan sesuatu untukmu.” Rin memberikan sebuah
surat berwarna peach padaku. “Aku harap kau mau membacanya. Jangan sampai kau
menyesal.” Rin lalu pergi ke kamarya.
Aku
menatap surat berwarna peach di tanganku ini. Menebak apa yang tertulis di
sana. Lebih baik aku membacanya di kamar saja. Aku berbaring di tempat tidurku
dan membuka amplop itu perlahan. Rasa cemas itu kembali menghantui. Aku takut
ini adalah surat perpisahan yang benar-benar terakhir kalinya. Aku menghela
nafas panjang, mengabaikan pikiran-pikiran buruk yang hadir di otakku.
Seoul, 23 Maret
2011
“Ayo kita berpisah.”
Kata bodoh yang aku ucapkan padamu dua
tahun lalu. Bagaimana rasanya? Menyakitkan? Tentu saja! Aku bisa melihat dengan
jelas wajah terkejutmu waktu itu, kau pasti befkikir aku bercanda. Tapi sayang
aku sangat serius, bagiku itu keputusan tepat.
“Jangan bertemu lagi,” ingin sekali aku
mengatkan itu padamu, tapi kau sepertinya sudah mengerti semuanya. Kau
menyetujui perpisahan kita lalu pergi, tanpa menangis.
Kau tau mengapa saat itu aku tak
mengejarmu? Aku tak mau mengejarmu karena aku takut aku akan menarik
kata-kataku sendiri. Kemudian memohon padamu untuk kembali, aku tak mau itu
terjadi. Karena bagaimanapun kita harus berpisah.
Aku akan mencoba melupakanmu.
Menguatkan hatiku bahwa aku bisa melakukannya. Menjalani hidupku sendirian. Tak
apa kau menganggapku kejam dan membenciku. Itu lebih baik. Dengan begitu kau
akan menjalani hidupmu dengan tegar. Walaupun aku harus membohingi diriku
sendiri. Kenyataannya ini begitu sulit.
Ayo kita berpisah, aku sudah memikirkan
matang-matang keputusan itu. Lebih baik aku melakukannya dengan cepat. Dari
pada aku mengatakannya hari ini. Saat aku pergi wamil yang aku sendiripun tak
tau akan kembali atau tidak.
Lebih baik kau bersedih dua tahun lalu.
Karena bila aku pergi sekarang kau tak akan lagi menangis karena kehilanganku.
Kau sudah terbiasa dengan ketiadaanku. Itu akan terasa lebih baik untukmu.
Hingga kau tak harus menangisd an
kehilangan semuanya saat aku benar-benar tak kembali. Sebelum perasaanmu jatuh
terlalu dalam. Lebih baik mengakhirinya sebelum semuanya jauh lebih terikat.
Itu alasanku meminta berpisah dua tahun lalu.Tapi semakin aku mencoba
melupakanmu semakin aku menyadarinya. Ini tak seperti itu, tak semudah yang aku
pikir sebelumnya.
Aku masih mencintaimu, sangat mencintaimu.
Aku akan pergi hari ini. Betapa berat melangkahkan kakiku untuk benar-benar
pergi. Rasa takut itu kembali datang, aku takut aku tak bisa lagi melihatmu.
Walaupun hanya bisa melihatmu dari jauh seperti biasanya.
Aku tau surat ini tak berarti apa-apa
lagi untukmu. Hanya saja aku ingin mengungkapkan semuanya. Agar hatiku bisa
tenang untuk menerima apapun takdirku pada akhirnya.
“Selamat tinggal, semoga kita bisa
bertemu lagi.” Kata itu yang ingin aku ucapkan padamu secara langsung. Tapi aku
tau mana mau kau menemuiku lagi. Tak
apa, aku mengerti.
Baiklah, aku harus pergi sekarang.
Terima kasih kau mau membaca suratku ini. Maaf atas kesakitan yang aku ciptakan
untukmu. Dan berjanjilah untuk kuat dan carilah namja lain yang baik dan tak
pernah menyakitimu seperti diriku. Aku mencitaimu selamanya. Kita harus
berpisah sekarang. Annyeong.
Dari namja yang
menyakitimu, Leo.
Seketika
aku terduduk di lantai, membenamkan wajahku di kedua lututku. Benar-benar
menyebalkan. Bodoh! Minta berpisah hanya karena alasan seperti itu? Asal kau
berjanji padaku untuk kembali, aku akan menunggu sampai kapanpun. Tak usah
mengucapkan kata perpisahan bodoh agar aku tegar nantinya. Bodoh! Bodoh! Bodoh!
“Tuhan,
aku mohon lindungi dia. Selamatkan dia sampai dia pulang kembali ke sini.
kembali ke sisiku lagi,” pintaku sambil menangis.
THE
END




Tidak ada komentar:
Posting Komentar