.showpageArea a { text-decoration:underline; } .showpageNum a { text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; margin:0 3px; padding:3px; } .showpageNum a:hover { border: 1px solid #cccccc; background-color:#cccccc; } .showpagePoint { color:#333; text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; background: #cccccc; margin:0 3px; padding:3px; } .showpageOf { text-decoration:none; padding:3px; margin: 0 3px 0 0; } .showpage a { text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; padding:3px; } .showpage a:hover { text-decoration:none; } .showpageNum a:link,.showpage a:link { text-decoration:none; color:#333333; }

Flash Labels by Way2Blogging

Rabu, 29 Januari 2014

[ONESHOOT] REASON // 1S // PART 1B END



TITLE            :  REASON // 1S // PART 1B END

AUTHOR      : EverG

GENRE         : SAD, GJ

LENGTH       : 1 S

RATING        : PG

MAIN CAST             :
·         Lee Taemin

·         Song Min Ah


WARNING   :
Abal-abal, GJ, DON’T LIKE DON’T READ, NO COPAS, banyak miss typo. ALURNYA MAJU MUNDUR (?), mian kalau membuat kalian binggung
DISCLAIMER          :
Semua Cast di sini milik keluarganya dan Tuhan kecuali Taemin. FF ini milikku. Taemin milikku selamanya. *Ketawa Evil

FOR Eonni, Gita Eonni
Gomawo dh selalu menyemangatiku untuk tak berhenti
Terima kasih
*BOW
-HAPPY READING-
^^^^
EPISODE SEBELUMNYA.........................
Apapun yang sudah terjadi padaku hingga saat ini. Ketahuilah, aku tak akan pernah menyesal. Menyesali akan pertemuanku dnaganmu, cintaku untukmu bahkan luka yang kau berikan. Karena menjalani hari-hari indah bersamamu adalah hal yang terindah untukku. Karena kau orang baik, terbaik untukku.
Ini mungkin yang terbaik. Mungkin setelah ini aku akan jauh lebih baik. Walaupun pada akhirnya aku benar-benar tak bisa bersamamu lagi. Tak ada yang bisa aku ubah. Namun aku harap kau tau, aku lah yang sebenar-bearnya tersakiti malam ini, kemarin selamanya.

EPISODE SELANJUTNYA.........
AUTHOR  POV
Taemin masih dudu di kursi sambil menatap ke luar jendela. Di luar masih hujan. Taemin memeluk kedua lututnya. Setiap hujan pasti seperti ini. Kenangan itu kembali memenuhi isi kepalanya.
^^^^

[ FLASHBACK ON ]
Di bawah hujan yang deras Taemin berusaha berjalan secepat mungkin. Mengabaikan beban berat yang berada pada punggung dan dadanya. Mengabaikan teriakan Sena yang menyuruhnya untuk memperlambat  jalannya. Tidak, saat orang yang paling dicintainya berada di ambang kematian, dia tak bisa santai seenaknya.
Sepanjang perjalanan Taemin terus terbayang wajah pucat Min Ah. Wajah penuh luka. Bahkan tanpa Taemin ketahui, sekujur tubuh Min Ah penuh bekas luka.
Pikiran Taemin sebenarnya selalu mengatakan bahwa pelaku ini semua adalah Sena. Sena selalu menuduhnya masih memiliki hubungan dengan Min Ah dan selalu cemburu berlebihan. Bisa saja dia melakukannya bukan? Namun melihat Sena yang juga terluka Taemin berusaha membuang jauh-jauh pikirannya itu.
Setelah sampai di perkemahan, Taemin segera mendudukkan Sena di samping api unggun. Menyuruh temannya untuk mengobati Sena. Namun Sena malah menahannya yang hendak kembali ke hutan.
Sena pun meminta Taemin meminun coklas hangat buatannya sambil menunggu dia selesai  diobati. Sena tak akan mau diobati bila Taemin memilih pergi. Namun setelah Taemin meminum coklat buatan Sena, Taemin malah tertidur dengan nyenyak.
Dan saat dia terbangun, Taemin kehilangan segalanya. Pagi hari yang sangat cerah, baginya begitu mendung. Min Ah pergi. Dia kedinginan sepanjang malam. Dan lukanya yang parah membuatnya tak akan bisa bertahan.
Disanalah pertama kalinya teman-tamannya melihat Taemin menangis begitu keras. Sampai Sena yang hendak  menenangkannya malah didorong kasar. Bahkan Taemin sempat mencekik Sena.
Ini salahnya, salahnya! Dia penyebab semua ini. Dan untuknya gidupnya sudah benar-benar tak berarti sekarang.
[ FLASHBACK OFF ]
Taemin memeluk lututnya begitu erat. Tangisnya menggema di kamarnya. Beradu dengan suara derasnya hujan.
^^^^
Dan saat upacara pemakaman, Taemin hanya bisa melihat dari jauh. Bersembunyi dari balik pohon saat Min Ah benar-benar terbaring di tempat terakhirnya. Benar-benar meninggalkannya.
Taemin tetap berdiri di sana hingga semua orang benar-benar pergi. Dia tak bisa berada di sana bersama orang-orang itu. Karena di sana ada Umma Min Ah. Orang yang sama sekali tak ingin ditemuinya.
Saat semua orang benar-benar pergi, dengan langkah gontai Taemin menghampiri makam Min Ah. Dia langsung terduduk dan menangis. Memeluk batu nisan Min Ah dan menciumnya berkali-kali.
“Aku membawakan bunga ini untukmu. Walaupun kau sebenarnya kau tak menyukai bunga, tapi lihat sekarang, di sekelilingmu begitu banyak bunga. Kau harus belajar menyukainya.” Taemin tertawa tapi yang terdengar malah raungan kesedihan.
“Harusnya aku tak meninggalkanmu. Harusnya aku memilihmu. Kau pasti berteriak memanggil namaku. Kau pasti sangat ketakutan. Mianhae, mianhae.
^^^^
Sudah beberapa kali Taemin mencoba mengakhiri hidupnya. Dia begitu tersiksa dengan rasa bersalah dan segala kebohongan yang kian menggerogotinya.
Kebohongan bahwa saat itu dia sudah tak peduli.  Kebohongan tak melihat air mata dan rasa sakit Min Ah. Dan kebohongan yang paling besar adalah mengatakan tak ada lagi cinta untuk Min Ah. Padahal cinta itu kian hari kian besar di dadanya. Dan rasa rindu itu begitu sesak menghimpitnya.
Ya, dia memang kejam. Pura-pura tak melihat semua itu. Pura-pura mengacuhkan tatapan sedih Min Ah padanya. Pura-pura telah menemukan penganti yang sebenarnya bukan tipenya.
Karena bagi Taemin saat itu ini yang terbaik. Terbaik baginya dan bagi Min Ah. Tidak ada yang bisa diteruskan dengan hubungan yang tak akan pernah mungkin sampai kapanpun.
^^^^
Taemin tau dengan jelas, Min Ah masih mencintainya. Karena Min Ah pun mengisi semua ruang di hatinya. Tapi sekali lagi dia katakan, hubungan ini tak akan mungkin pernah berhasil.
Untuk itulah ia meninggalkan Min Ah tanpa alasan. Menyakiti hati Min Ah dengan terang-terangan. Agar Min Ah kemudian membencinya dan melupakannya. Namun ternyata tak semudah itu.
Ternyata takdir lebih kejam. Tuhan benar-benar menjauhkannya dengan Min Ah. Membiarkannya menderita dan tersiksa seperti ini. Karena bagaimana pun dia melukai dirinya sendiri agar bisa bersama dengan Min Ah, Tuhan tak mengizinkannya.
Sampai akhirnya Appa Taemin membawanya pergi. Meninggalkan Seoul dan tinggal di Jepang. Berharap Taemin akan melupakan semuanya.
Mereka tak akan bisa. Sejauh apapun mereka dipisahkan, mereka tak akan lupa. Karena mereka akan selalu saling mengingat selamanya.
Taemin segera menghapus air matanya saat mendengar pintu kamarnya diketuk. Taemin segera berbaring dan pura-pura tidur.
Appanya masuk lalu menghela nafas saat melihat Taemin tertidur. Foto Min Ah yang berada di meja belajar Taemin, menandakan bahwa Taemin pasti menginggat dan menangisi Min Ah lagi.
^^^^
 “Taemin, besok acara peringatan satu tahun kematian Min Ah. Kau akan ikut kami ke Seoul kan? Kau tak akan melarikan diri seperti waktu itu.” Tanya Appanya saat mereka makan malam bersama.
“Apakah aku harus datang?”
“Taemin, ayolah. Min Ah akan sangat sedih melihatmu seperti ini. Ini sudah 1 tahun dan kau masih tak merelakannya. Pergilah ke sana dan katakan kau rela dia pergi. Jangan buat Min Ah sedih melihatmu yang seperti ini.”
“Tapi-“
^^^^
Taemin pun sampai di Seoul. Segera dia dan Appanya mendatangi rumah Umma Min Ah. Tempat yang sama sekali tak ingin Taemin datangi. Padahal dulu ini tempat favoritnya.
Umma Min Ah mengantarkan Taemin ke kamar Min Ah. Disalah dia akan tidur malam ini. Sedangkan Appanya timur di kamar tamu. Ini terasa sangat sulit untuknya.
Taemin menatap sekeliling kamar Min Ah. Kamar bercat biru langit itu sangat rapi dan nyaman. Masih terpasang di sana foto-fotonya bersama dengan Min Ah. Dan Taemin hanya bisa menghela nafasnya berulang-ulang.
Mata Taemin tertarik pada sebuah kotak yang tergantung di dinding kamar. Di kotak itu tertulis “Kotak Kebahagiaan”
Dengan tangan bergetar, Taemin mengeluarkan barang-barang dari kotak itu. Ini ternyata adalah barang-barang hadiah yang pernah diberikan Taemin, juga puisi-puisi yang mereka buat bersama.
Dan Taemin sangat sedih saat melihat buku bersampul hati. Itu buku yang mereka gunakan untuk menyusun novel mereka. Novel yang akan mereka terbitkan sebagai souvenir di pernikahan mereka suatu saat nanti.
“Dia sangat mencintaimu.” Taemin pun berbalik dan melihat Umma Min Ah sudah berada di sampingnya dan memegang bahunya, menangis.
“Ya, aku tau itu. Dan aku juga sangat mencintainya. Hanya saja-“
“Ini bukan salahmu, ini salah kami. Salah aku dan Appamu.” Umma Min Ah memeluk Taemin begitu erat.
^^^^
TAEMIN  POV
Angin berhembus sejuk, langit terang benderang. Namun untukku ini terlalu dingin dan gelap.
Mianhae, di hari kepergianmu tepat satu tahun ini, aku tak datang ke makammu. Aku malah berada di sini. Di tempat dimana aku meninggalkanmu dan kau pun akhirnya pergi.
Aku duduk dan menyentuh tanah, dimana dulu Min Ah berbaring di sini. berbaring dalam diam dengan mata yang menyiratkan luka sangat dalam. Aku tau, dia begitu terluka saat itu. Tapi aku tak bisa terus membuatnya mencintaku.
Aku membuka mataku saat aku mendengar senandung seseorang. Suara itu sangat aku kenal, ini suara Min Ah!
Saat aku membuka mataku, aku melihat seorang yeoja sedang duduk di pinggir jurang. Dia membelakangiku sehingga aku hanya bisa menatap punggungnya. Dia bersenandung sambil merentangkan tangannya. Sepertinya dia menikmati hembusan angin di sini.
“Nona, sebaiknya kau pergi dari sini. Itu sangat berbahaya.”
“Tidak, aku sudah terbiasa duduk di sini. Aku selalu duduk seperti ini karena aku sedang menunggu seseorang.” Kedua tangannya pun dia letakkan di pangkuannya. Aku tak bisa melihat wajahnya namun entah mengapa aku rasa dia sedang tersenyum.
“Siapa yang kau tunggu?”
“KAU! Aku telah menunggumu selama 1 tahun.”
Betapa terkejutnya aku menatap wajahnya. Dia Min Ah! Apa aku bermimpi? Dia berjalan menghampiriku.
Dia masih sama seperti dulu saat aku meninggalkannya di hutan yang gelap. Dengan baju yang sama dipakainya waktu itu. Hanya saja luka-luka di wajahnya menghilang. Min Ah terlihat pucat namun cantik.
Aku diam mematung di tempatku. Semua campur aduk, antara rasa senang bercampur takut. “Kau menungguku? Apa kau menungguku untuk membalas dendam padaku? Membunuhku atas apa yang aku lakukan padamu hingga membuatmu seperti ini?”
“Aku menunggumu karena kau bilang kau akan kembali. Aku menunggumu karena aku yakin kau akan kembali. Karena itu aku menunggumu hingga satu tahun. Dan benar, kau pun datang.” Min Ah tersenyum lebar. Namun matanya menatapku sendu.
“Maafkan aku. Karena aku kau menjadi seperti ini. Aku terima jika kau mau membunuhku setelah ini. Lakukan Min Ah.”
“Kenapa?” Min Ah menyentuh pipiku. Terasa hangat. “Kenapa aku harus membunuh orang yang aku cintai? Aku menemuimu bukan untuk itu.”
“Kau hangat.” Ucapku tanpa sadar.
“Karena kau masih mencintaiku. Kalau kau sudah tak mencintaiku tubuhku akan membeku sedingin es.” Min Ah kembali tersenyum
“Min Ah, maafkan aku.” Aku kembali memeluknya.
“Terima kasih kau masih mengingatku, mencintaiku, bahkan mau menemuiku lagi.”
“Kenapa kau masih menungguku? Kenapa kau tak pergi dengan tenang, Min Ah?”
“Karena kau membuatku tak tenang meninggalkan dunia ini. Karena kau pergi tanpa mengatakan apapun.  Tanpa alasan apapun.” Min Ah menangis. Wajahnya kembali penuh luka seperti saat aku terakhir kali meninggalkannya. Dari kedua matanya keluar air mata berupa darah.
“Kau mencintaiku tapi kau menyakitiku. Mencium yeoja lain di hadapanku. Kau tau aku mencintaimu tapi kau pura-pura seakan tak mengetahuinya. Kau membuangku seperti aku barang rongsokan yang sudah tak ada harganya. Kenapa? Kenapa kau melakukan hal seperti itu saat hatimu mengatakan kau mencintaiku. Bahkan hingga saat ini?”
“Mianhae,! Tapi aku tak bisa mencintaimu walaupun aku tak bisa tidak mencintaimu. Aku tak bisa memilikimu, walaupun segala hidupku berada di tanganmu. Karena sebesar apapun cinta yang kita miliki kita tak bisa menolak takdir. Takdir bahwa kita bersaudara. Bahwa kita kakak adik!”
Dia hanya diam memandanggiku. Dia sudah tak menangis. Aku memegang kedua tangannya. Tangannya kini berubah dingin. Aku sudah benar-benar sesak. Haruskah aku menumpahkannya semua padanya saat ini.
“Apa maksudmu.” Dia benar-benar sudah sangat dingin. Bahkan kini matahari sudah bersembunyi dibalik awan yang sangat gelap. Hujan perlahan-lahan turun. Sekarang terasa seperti kembali pada 1 tahun lalu itu. Masa yang sangat menyeramkan untukku.
“Kita bersaudara! Kau adikku! Lee min ah, adikku! Umma menikah dengan Appaku saat ini hingga namamu berubah menjadi Song Min Ah. Ini menyakitkan kau tau!” Teriakanku disusul dengan suara petir. Hujan yang turun membuat tubuhku menggigil. Tapi Min Ah terlihat biasa saja.
“Kau taukan aku ditinggalkan oleh Ummaku? Kau taukan aku mencari Ummaku selama ini? Kau juga tau bagaimana susahnya kita mencari informasi keberadaan Ummaku. Karena Appa tak mau menceritakan apapun tentang Umma.”
“Dan saat itulah aku tau semuanya. Segala yang membuatku selama ini penasaran akhirnya semuanya terbongkar. Tepat sebelum ulang tahun Appa, aku mengetahuinya. Aku menemukan surat Umma untuk Appa yang di mana di dalam amplop surat itu ada sebuah foto gadis kecil, yang dikatakan Umma sebagai adikku. Aku pun mencari alamat yang tertera pada amplop surat. Dan kau tau itu alamat siapa? Itu alamat nenek kita.”
“Dan akhirnya nenek menceritakan semuanya. Dan itu membuatku sangat terkejut. Saat aku tau, orang yang sangat aku cintai adalah adikku sendiri. Bagaimana aku bisa menghilangkan rasa cintaku padamu dan hanya menganggapmu sebagai adikku?”
“Aku tak bisa! Semenjak saat itu aku menjaga jarak denganmu. Aku sangat ingin memelukku dan mengatakan aku mencintaimu  setiap hari. Namun saat aku sadar  bahwa  rasa ini terlarang. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Rasa ini sulit aku ubah. Sangat sulit!”
“Di titik puncaknyaa aku melakukan itu. Aku mencium Sena yang sudah lama mengejar-ngejarku dihadapanmu. Mengucapkan berbagai kata kasar kemudian aku memutuskanmu. Itu aku lakukan agar kau membenciku, dan aku berharap dengan begitu aku lebih mudah membuang rasa cinta untukmu.”
“Namun sayangnya kita tak bisa.”
Aku terdiam memandang wajahnya. Dia tersenyum namun raut wajahnya sedih. “Ya, kebodohanku malah membuatku kehilangan segalanya. Kehilangan dirimu. Maafkan aku!” Aku memeluknya erat.
“Terima kasih.” Seketika hujan berhenti dan matahari pun bersinar kembali.  Aku melepaskan pelukanku dan menatapnya.
“Terima kasih karena akhirnya semuanya terucap dari bibirmu. Kau sudah mengatakan alasan yang aku harapkan sejak dulu. Dan kau pun sudah menepati kata-katamu bahwa kau akan segera kembali. Terima kasih, akhirnya aku bisa pergi sekarang.”
“TIDAK!” Aku memegang tangannya. “Tidak, jangan! Tak bisakah kau membawaku bersamamu?”
“Tidak, semuanya bagiku sudah jelas. Bebanku sudah hilang. Maka tak ada alasan lagi untuk aku tetap berada di sini. kembalilah bersemangat. Cintailah Umma kita. Sayangilah dia dan gantikan aku untuk menjaganya. Umma sangat merindukan dan menyayangimu, Oppa. Walaupun berat, kita harus menerima ini. Mungkin, suati saat nanti kita akan bertemu bukan sebagai kakak adik.  Aku akan tetap mencintaimu sebagai kakak ataupun kekasihku.”
Dia tersenyum, senyum yang selalu aku lihat saat kami bersama dulu. Aku tetap memegang tangannya walaupun kaki, badan dan kepalanya sudah terlihat transparan.
“Aku mencintaimu.” Ucapku pelan. Dia menganggukan kepalanya sambil terus menampilkan senyum itu sampai sosoknya benar-benar hilang.
.
.
.
.
.

FIN

Gg maksa COMMENT apalagi LIKE + COMMENT
GOMAWO dh baca \^^; /

Tidak ada komentar:

Posting Komentar