TITLE : REASON // 1S //
PART 1B END
AUTHOR : EverG
GENRE : SAD, GJ
LENGTH : 1 S
RATING : PG
MAIN CAST :
·
Lee
Taemin
·
Song
Min Ah
WARNING :
Abal-abal,
GJ, DON’T LIKE DON’T READ, NO COPAS, banyak miss typo. ALURNYA MAJU MUNDUR (?), mian kalau membuat
kalian binggung
DISCLAIMER :
Semua
Cast di sini milik keluarganya dan Tuhan kecuali Taemin. FF ini milikku. Taemin
milikku selamanya. *Ketawa Evil
FOR Eonni, Gita Eonni
Gomawo dh selalu menyemangatiku
untuk tak berhenti
Terima kasih
*BOW
-HAPPY READING-
^^^^
EPISODE
SEBELUMNYA.........................
Apapun
yang sudah terjadi padaku hingga saat ini. Ketahuilah, aku tak akan pernah
menyesal. Menyesali akan pertemuanku dnaganmu, cintaku untukmu bahkan luka yang
kau berikan. Karena menjalani hari-hari indah bersamamu adalah hal yang
terindah untukku. Karena kau orang baik, terbaik untukku.
Ini
mungkin yang terbaik. Mungkin setelah ini aku akan jauh lebih baik. Walaupun
pada akhirnya aku benar-benar tak bisa bersamamu lagi. Tak ada yang bisa aku
ubah. Namun aku harap kau tau, aku lah yang sebenar-bearnya tersakiti malam
ini, kemarin selamanya.
EPISODE SELANJUTNYA.........
AUTHOR POV
Taemin
masih dudu di kursi sambil menatap ke luar jendela. Di luar masih hujan. Taemin
memeluk kedua lututnya. Setiap hujan pasti seperti ini. Kenangan itu kembali
memenuhi isi kepalanya.
^^^^
[ FLASHBACK ON ]
Di
bawah hujan yang deras Taemin berusaha berjalan secepat mungkin. Mengabaikan
beban berat yang berada pada punggung dan dadanya. Mengabaikan teriakan Sena
yang menyuruhnya untuk memperlambat
jalannya. Tidak, saat orang yang paling dicintainya berada di ambang
kematian, dia tak bisa santai seenaknya.
Sepanjang
perjalanan Taemin terus terbayang wajah pucat Min Ah. Wajah penuh luka. Bahkan
tanpa Taemin ketahui, sekujur tubuh Min Ah penuh bekas luka.
Pikiran
Taemin sebenarnya selalu mengatakan bahwa pelaku ini semua adalah Sena. Sena
selalu menuduhnya masih memiliki hubungan dengan Min Ah dan selalu cemburu
berlebihan. Bisa saja dia melakukannya bukan? Namun melihat Sena yang juga
terluka Taemin berusaha membuang jauh-jauh pikirannya itu.
Setelah
sampai di perkemahan, Taemin segera mendudukkan Sena di samping api unggun.
Menyuruh temannya untuk mengobati Sena. Namun Sena malah menahannya yang hendak
kembali ke hutan.
Sena
pun meminta Taemin meminun coklas hangat buatannya sambil menunggu dia selesai diobati. Sena tak akan mau diobati bila
Taemin memilih pergi. Namun setelah Taemin meminum coklat buatan Sena, Taemin
malah tertidur dengan nyenyak.
Dan
saat dia terbangun, Taemin kehilangan segalanya. Pagi hari yang sangat cerah,
baginya begitu mendung. Min Ah pergi. Dia kedinginan sepanjang malam. Dan
lukanya yang parah membuatnya tak akan bisa bertahan.
Disanalah
pertama kalinya teman-tamannya melihat Taemin menangis begitu keras. Sampai
Sena yang hendak menenangkannya malah
didorong kasar. Bahkan Taemin sempat mencekik Sena.
Ini
salahnya, salahnya! Dia penyebab semua ini. Dan untuknya gidupnya sudah
benar-benar tak berarti sekarang.
[ FLASHBACK OFF ]
Taemin
memeluk lututnya begitu erat. Tangisnya menggema di kamarnya. Beradu dengan
suara derasnya hujan.
^^^^
Dan
saat upacara pemakaman, Taemin hanya bisa melihat dari jauh. Bersembunyi dari
balik pohon saat Min Ah benar-benar terbaring di tempat terakhirnya.
Benar-benar meninggalkannya.
Taemin
tetap berdiri di sana hingga semua orang benar-benar pergi. Dia tak bisa berada
di sana bersama orang-orang itu. Karena di sana ada Umma Min Ah. Orang yang
sama sekali tak ingin ditemuinya.
Saat
semua orang benar-benar pergi, dengan langkah gontai Taemin menghampiri makam
Min Ah. Dia langsung terduduk dan menangis. Memeluk batu nisan Min Ah dan
menciumnya berkali-kali.
“Aku
membawakan bunga ini untukmu. Walaupun kau sebenarnya kau tak menyukai bunga,
tapi lihat sekarang, di sekelilingmu begitu banyak bunga. Kau harus belajar
menyukainya.” Taemin tertawa tapi yang terdengar malah raungan kesedihan.
“Harusnya
aku tak meninggalkanmu. Harusnya aku memilihmu. Kau pasti berteriak memanggil
namaku. Kau pasti sangat ketakutan. Mianhae,
mianhae.
^^^^
Sudah
beberapa kali Taemin mencoba mengakhiri hidupnya. Dia begitu tersiksa dengan
rasa bersalah dan segala kebohongan yang kian menggerogotinya.
Kebohongan
bahwa saat itu dia sudah tak peduli.
Kebohongan tak melihat air mata dan rasa sakit Min Ah. Dan kebohongan
yang paling besar adalah mengatakan tak ada lagi cinta untuk Min Ah. Padahal
cinta itu kian hari kian besar di dadanya. Dan rasa rindu itu begitu sesak
menghimpitnya.
Ya,
dia memang kejam. Pura-pura tak melihat semua itu. Pura-pura mengacuhkan
tatapan sedih Min Ah padanya. Pura-pura telah menemukan penganti yang
sebenarnya bukan tipenya.
Karena
bagi Taemin saat itu ini yang terbaik. Terbaik baginya dan bagi Min Ah. Tidak
ada yang bisa diteruskan dengan hubungan yang tak akan pernah mungkin sampai
kapanpun.
^^^^
Taemin
tau dengan jelas, Min Ah masih mencintainya. Karena Min Ah pun mengisi semua
ruang di hatinya. Tapi sekali lagi dia katakan, hubungan ini tak akan mungkin
pernah berhasil.
Untuk
itulah ia meninggalkan Min Ah tanpa alasan. Menyakiti hati Min Ah dengan
terang-terangan. Agar Min Ah kemudian membencinya dan melupakannya. Namun
ternyata tak semudah itu.
Ternyata
takdir lebih kejam. Tuhan benar-benar menjauhkannya dengan Min Ah.
Membiarkannya menderita dan tersiksa seperti ini. Karena bagaimana pun dia
melukai dirinya sendiri agar bisa bersama dengan Min Ah, Tuhan tak
mengizinkannya.
Sampai
akhirnya Appa Taemin membawanya pergi. Meninggalkan Seoul dan tinggal di
Jepang. Berharap Taemin akan melupakan semuanya.
Mereka
tak akan bisa. Sejauh apapun mereka dipisahkan, mereka tak akan lupa. Karena
mereka akan selalu saling mengingat selamanya.
Taemin
segera menghapus air matanya saat mendengar pintu kamarnya diketuk. Taemin
segera berbaring dan pura-pura tidur.
Appanya
masuk lalu menghela nafas saat melihat Taemin tertidur. Foto Min Ah yang berada
di meja belajar Taemin, menandakan bahwa Taemin pasti menginggat dan menangisi
Min Ah lagi.
^^^^
“Taemin, besok acara peringatan satu tahun
kematian Min Ah. Kau akan ikut kami ke Seoul kan? Kau tak akan melarikan diri
seperti waktu itu.” Tanya Appanya saat mereka makan malam bersama.
“Apakah
aku harus datang?”
“Taemin,
ayolah. Min Ah akan sangat sedih melihatmu seperti ini. Ini sudah 1 tahun dan
kau masih tak merelakannya. Pergilah ke sana dan katakan kau rela dia pergi.
Jangan buat Min Ah sedih melihatmu yang seperti ini.”
“Tapi-“
^^^^
Taemin
pun sampai di Seoul. Segera dia dan Appanya mendatangi rumah Umma Min Ah.
Tempat yang sama sekali tak ingin Taemin datangi. Padahal dulu ini tempat
favoritnya.
Umma
Min Ah mengantarkan Taemin ke kamar Min Ah. Disalah dia akan tidur malam ini.
Sedangkan Appanya timur di kamar tamu. Ini terasa sangat sulit untuknya.
Taemin
menatap sekeliling kamar Min Ah. Kamar bercat biru langit itu sangat rapi dan nyaman.
Masih terpasang di sana foto-fotonya bersama dengan Min Ah. Dan Taemin hanya
bisa menghela nafasnya berulang-ulang.
Mata
Taemin tertarik pada sebuah kotak yang tergantung di dinding kamar. Di kotak
itu tertulis “Kotak Kebahagiaan”
Dengan
tangan bergetar, Taemin mengeluarkan barang-barang dari kotak itu. Ini ternyata
adalah barang-barang hadiah yang pernah diberikan Taemin, juga puisi-puisi yang
mereka buat bersama.
Dan
Taemin sangat sedih saat melihat buku bersampul hati. Itu buku yang mereka
gunakan untuk menyusun novel mereka. Novel yang akan mereka terbitkan sebagai
souvenir di pernikahan mereka suatu saat nanti.
“Dia
sangat mencintaimu.” Taemin pun berbalik dan melihat Umma Min Ah sudah berada
di sampingnya dan memegang bahunya, menangis.
“Ya,
aku tau itu. Dan aku juga sangat mencintainya. Hanya saja-“
“Ini
bukan salahmu, ini salah kami. Salah aku dan Appamu.” Umma Min Ah memeluk
Taemin begitu erat.
^^^^
TAEMIN POV
Angin
berhembus sejuk, langit terang benderang. Namun untukku ini terlalu dingin dan
gelap.
Mianhae,
di hari kepergianmu tepat satu tahun ini, aku tak datang ke makammu. Aku malah
berada di sini. Di tempat dimana aku meninggalkanmu dan kau pun akhirnya pergi.
Aku
duduk dan menyentuh tanah, dimana dulu Min Ah berbaring di sini. berbaring dalam
diam dengan mata yang menyiratkan luka sangat dalam. Aku tau, dia begitu
terluka saat itu. Tapi aku tak bisa terus membuatnya mencintaku.
Aku
membuka mataku saat aku mendengar senandung seseorang. Suara itu sangat aku
kenal, ini suara Min Ah!
Saat
aku membuka mataku, aku melihat seorang yeoja sedang duduk di pinggir jurang.
Dia membelakangiku sehingga aku hanya bisa menatap punggungnya. Dia
bersenandung sambil merentangkan tangannya. Sepertinya dia menikmati hembusan
angin di sini.
“Nona,
sebaiknya kau pergi dari sini. Itu sangat berbahaya.”
“Tidak,
aku sudah terbiasa duduk di sini. Aku selalu duduk seperti ini karena aku
sedang menunggu seseorang.” Kedua tangannya pun dia letakkan di pangkuannya.
Aku tak bisa melihat wajahnya namun entah mengapa aku rasa dia sedang
tersenyum.
“Siapa
yang kau tunggu?”
“KAU!
Aku telah menunggumu selama 1 tahun.”
Betapa
terkejutnya aku menatap wajahnya. Dia Min Ah! Apa aku bermimpi? Dia berjalan
menghampiriku.
Dia
masih sama seperti dulu saat aku meninggalkannya di hutan yang gelap. Dengan
baju yang sama dipakainya waktu itu. Hanya saja luka-luka di wajahnya
menghilang. Min Ah terlihat pucat namun cantik.
Aku
diam mematung di tempatku. Semua campur aduk, antara rasa senang bercampur
takut. “Kau menungguku? Apa kau menungguku untuk membalas dendam padaku?
Membunuhku atas apa yang aku lakukan padamu hingga membuatmu seperti ini?”
“Aku
menunggumu karena kau bilang kau akan kembali. Aku menunggumu karena aku yakin
kau akan kembali. Karena itu aku menunggumu hingga satu tahun. Dan benar, kau
pun datang.” Min Ah tersenyum lebar. Namun matanya menatapku sendu.
“Maafkan
aku. Karena aku kau menjadi seperti ini. Aku terima jika kau mau membunuhku
setelah ini. Lakukan Min Ah.”
“Kenapa?”
Min Ah menyentuh pipiku. Terasa hangat. “Kenapa aku harus membunuh orang yang
aku cintai? Aku menemuimu bukan untuk itu.”
“Kau
hangat.” Ucapku tanpa sadar.
“Karena
kau masih mencintaiku. Kalau kau sudah tak mencintaiku tubuhku akan membeku
sedingin es.” Min Ah kembali tersenyum
“Min
Ah, maafkan aku.” Aku kembali memeluknya.
“Terima
kasih kau masih mengingatku, mencintaiku, bahkan mau menemuiku lagi.”
“Kenapa
kau masih menungguku? Kenapa kau tak pergi dengan tenang, Min Ah?”
“Karena
kau membuatku tak tenang meninggalkan dunia ini. Karena kau pergi tanpa mengatakan
apapun. Tanpa alasan apapun.” Min Ah
menangis. Wajahnya kembali penuh luka seperti saat aku terakhir kali
meninggalkannya. Dari kedua matanya keluar air mata berupa darah.
“Kau
mencintaiku tapi kau menyakitiku. Mencium yeoja lain di hadapanku. Kau tau aku
mencintaimu tapi kau pura-pura seakan tak mengetahuinya. Kau membuangku seperti
aku barang rongsokan yang sudah tak ada harganya. Kenapa? Kenapa kau melakukan
hal seperti itu saat hatimu mengatakan kau mencintaiku. Bahkan hingga saat
ini?”
“Mianhae,!
Tapi aku tak bisa mencintaimu walaupun aku tak bisa tidak mencintaimu. Aku tak
bisa memilikimu, walaupun segala hidupku berada di tanganmu. Karena sebesar
apapun cinta yang kita miliki kita tak bisa menolak takdir. Takdir bahwa kita
bersaudara. Bahwa kita kakak adik!”
Dia
hanya diam memandanggiku. Dia sudah tak menangis. Aku memegang kedua tangannya.
Tangannya kini berubah dingin. Aku sudah benar-benar sesak. Haruskah aku
menumpahkannya semua padanya saat ini.
“Apa
maksudmu.” Dia benar-benar sudah sangat dingin. Bahkan kini matahari sudah
bersembunyi dibalik awan yang sangat gelap. Hujan perlahan-lahan turun.
Sekarang terasa seperti kembali pada 1 tahun lalu itu. Masa yang sangat
menyeramkan untukku.
“Kita
bersaudara! Kau adikku! Lee min ah, adikku! Umma menikah dengan Appaku saat ini
hingga namamu berubah menjadi Song Min Ah. Ini menyakitkan kau tau!” Teriakanku
disusul dengan suara petir. Hujan yang turun membuat tubuhku menggigil. Tapi
Min Ah terlihat biasa saja.
“Kau
taukan aku ditinggalkan oleh Ummaku? Kau taukan aku mencari Ummaku selama ini?
Kau juga tau bagaimana susahnya kita mencari informasi keberadaan Ummaku.
Karena Appa tak mau menceritakan apapun tentang Umma.”
“Dan
saat itulah aku tau semuanya. Segala yang membuatku selama ini penasaran
akhirnya semuanya terbongkar. Tepat sebelum ulang tahun Appa, aku
mengetahuinya. Aku menemukan surat Umma untuk Appa yang di mana di dalam amplop
surat itu ada sebuah foto gadis kecil, yang dikatakan Umma sebagai adikku. Aku
pun mencari alamat yang tertera pada amplop surat. Dan kau tau itu alamat
siapa? Itu alamat nenek kita.”
“Dan
akhirnya nenek menceritakan semuanya. Dan itu membuatku sangat terkejut. Saat
aku tau, orang yang sangat aku cintai adalah adikku sendiri. Bagaimana aku bisa
menghilangkan rasa cintaku padamu dan hanya menganggapmu sebagai adikku?”
“Aku
tak bisa! Semenjak saat itu aku menjaga jarak denganmu. Aku sangat ingin
memelukku dan mengatakan aku mencintaimu
setiap hari. Namun saat aku sadar
bahwa rasa ini terlarang. Aku tak
tau apa yang harus aku lakukan. Rasa ini sulit aku ubah. Sangat sulit!”
“Di
titik puncaknyaa aku melakukan itu. Aku mencium Sena yang sudah lama
mengejar-ngejarku dihadapanmu. Mengucapkan berbagai kata kasar kemudian aku
memutuskanmu. Itu aku lakukan agar kau membenciku, dan aku berharap dengan
begitu aku lebih mudah membuang rasa cinta untukmu.”
“Namun
sayangnya kita tak bisa.”
Aku
terdiam memandang wajahnya. Dia tersenyum namun raut wajahnya sedih. “Ya,
kebodohanku malah membuatku kehilangan segalanya. Kehilangan dirimu. Maafkan
aku!” Aku memeluknya erat.
“Terima
kasih.” Seketika hujan berhenti dan matahari pun bersinar kembali. Aku melepaskan pelukanku dan menatapnya.
“Terima
kasih karena akhirnya semuanya terucap dari bibirmu. Kau sudah mengatakan
alasan yang aku harapkan sejak dulu. Dan kau pun sudah menepati kata-katamu
bahwa kau akan segera kembali. Terima kasih, akhirnya aku bisa pergi sekarang.”
“TIDAK!”
Aku memegang tangannya. “Tidak, jangan! Tak bisakah kau membawaku bersamamu?”
“Tidak,
semuanya bagiku sudah jelas. Bebanku sudah hilang. Maka tak ada alasan lagi
untuk aku tetap berada di sini. kembalilah bersemangat. Cintailah Umma kita.
Sayangilah dia dan gantikan aku untuk menjaganya. Umma sangat merindukan dan
menyayangimu, Oppa. Walaupun berat, kita harus menerima ini. Mungkin, suati
saat nanti kita akan bertemu bukan sebagai kakak adik. Aku akan tetap mencintaimu sebagai kakak
ataupun kekasihku.”
Dia
tersenyum, senyum yang selalu aku lihat saat kami bersama dulu. Aku tetap
memegang tangannya walaupun kaki, badan dan kepalanya sudah terlihat
transparan.
“Aku
mencintaimu.” Ucapku pelan. Dia menganggukan kepalanya sambil terus menampilkan
senyum itu sampai sosoknya benar-benar hilang.
.
.
.
.
.
FIN
Gg maksa COMMENT
apalagi LIKE + COMMENT
GOMAWO dh baca \^^; /



Tidak ada komentar:
Posting Komentar