TITLE : [REQ FF] YOU DONT KNOW // PART 3
AUTHOR : EVERG
GENRE :
ROMANCE, OOC, FRIENDSHIP
RATING : PG 17
MAIN CAST :
·
THUNDER
MBLAQ as THUNDER
·
ADIASTY
as PARK AH JUNG (OC)
SUPPORT CAST :
LIAT SENDIRI
WARNING :
Karakter tokoh
di sini berbeda jauh dari aslinya, Abal-abal, , DON’T LIKE DON’T READ, NO
COPAS, banyak miss typo
READ my FF and give
me your FEEDBACK about this FF
DISCLAIMER :
Karakter tokoh tidak sesuai aslinya.
Hanya berupa hasil imajinasi author. Seluruh hak cipta penulisan karakter, alur
dalam cerita yang tertulis asli milik author.
NOTE !!!
Cerita
ini hanya fiktif belaka. Bila ada
karakter idol kalian yang tidak biasa itu karena tunturan peran :p. Jangan
marah ke author.. marah saja ke orang lain di samping anda Hehehe
EPISODE SEBELUMNYA :
RCL Please
^^^
Seperti
perjanjian kemarin, akhirnya Min Young menjalankan rencana Mi Rae dan Hwe Ji.
Di sinilah dia sekarang, berdiri di koridor fakultas hukum sambil terkadang
memandangi jam tangannya. Mengunyah permen karet di mulutnya dengan geram.
Karena orang yang ditunggunya sejak tadi tak juga memunculkan wujudnya.
Dan
saat orang ditunggunya muncul, tangan Min Young bergetar. Dia merapatkan
tubuhnya ke dinding sambil menutup kedua mata. Sesaat dia membuka matanya,
seseorang yang ditunggunya kini sudah berjarak cukup jauh.
“Lee
Taemin.” Min Young sedikit berteriak sambil tangannya memegang ujung lengan
kemeja lelaki bernama Lee Taemin itu. Saat Taemin berhenti, segera Min Young
menjauhkan tangannya. Mata Taemin membulat saat mengetahui sosok yang
memanggilnya. Mematung, saat gadis di hadapannya hanya terdiam begitu saja.
“Bisa
kita berbicara sebentar?” Min Young menarik lagi ujung lengan kemeja Taemin
tanpa menatapnya. Taemin berkedip menatap tangan Min Young sambil terus
berjalan mengikuti langkah MIn Young.
Mereka
berdua berdiri di taman samping fakultas hukum. Min Young membalikkan tubuhnya
membelakangi Taemin, menutup matanya sekali lagi. Membiarkan angin berhembus
menerpa wajahnya, menghirup oksigen dalam-dalam. Mengepalkan kedua tangannya,
lalu berbalik dengan mantap. “Aku minta bantuanmu, aku mohon.” Mata Taemin
kembali membuka lebar. Min Young berbicara padanya, memerlukannya. Walaupun
gadis itu mengucapkannya dengan sorot mata tak fokus.
“Apa
yang dapat aku lakukan untukmu?” Taemin memberikan senyum lebar. Langsung saja
Min Young menyampingkan tubuhnya. Senyum itu
perlahan-lahan menghilang.
“Bisakah
kau membujuk Thunder untuk pergi menonton film bersama Ah Jung? Kau pasti tahu
apa yang sedang mereka jalani sekarang, kan?”
“Soal
itu, aku tak bisa menjanjikannya. Jika dia sudah mengatakan tidak, sulit
membuatnya berubah pikiran.”
“Kau
kan sahabatnya. Tak bisakah kau membuatnya menjauh dari buku-buku tebal itu
sebentar?” Min Young melirik ke arah Taemin dengan ujung matanya. Taemin
tertawa pelan.
“Kedekatan
kami, bukan berarti dia akan menuruti semua perkataanku.” Refleks Min Young
menjauhkan tubuhnya saat tangan taemin hendak menyentuh puncak kepalanya.
“Atau
Thunder sebenarnya hanya ingin menutupi rumor tentang kalian dengan memacari Ah
Jung. Atau seperti kebiasaan kalian, senang mempermainkan gadis yang buta
karena kilau palsau yang terpancar dari tubuh kalian itu.” Terdengar penekanan
di setiap kalimat yang diucapan Min Young. Membuat Taemin menggeleng.
“Perkataanku
selalu kau anggap kebohongan bukan? Aku lelah jika harus kembali mengucapkan
hal yang tak akan kau percayai.” Taemin memijat pelipisnya. “Katakan saja kapan
dan dimana tempat janjian kalian.”
“Sabtu
pukul 8 malam.” Jawab Min Young pelan.
“Ok,
tapi aku tak berjanji dia mau mendengarkanku. Kalau kau juga mengajakku, aku
akan berusaha keras memaksanya.” Taemin menatap Min Young sambil tertawa. Min
Young membalas dengan tatapan sinis.
“Teruslah
bermimpi.” Min Young menjulurkan lidahnya. Suara tawa Taemin memenuhi indera
pendengaran Min Young, suara tawa seperti ini seperti pernah begitu dikenalnya.
Dan mendengarnya terasa menyenangkan.
Min
Young kembali ke kesadarannya saat dia mendengar suara seorang gadis memanggil
nama Taemin. Gadis itu sekarang berada di samping Taemin sambil menggandeng
lengan Taemin.
“Itu
saja yang sahabatku ingin sampaikan padamu.” Min Young berbalik dan berjalan
menjauh.
“Nomor
ponselmu masih yang dulu, kan?” teriak Taemin, tak ada jawaban. Taemin
mengambil ponselnya lalu menekan tombol-tombol dengan cepat. Meletakkan
ponselnya ke telinga kanan, terdengar nada sambung. Min Young terus berjalan,
mata Taemin tak lepas mengamati Min Young hingga menghilang.
“Ada
apa Naeun?” Taemin kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
Kemudian memandang Naeun yang sedari tadi menggoyang-goyangkan lengannya.
Di
tempat lain, Ah Jung sedang menopang dagu sambil memandangi lelaki di
hadapannya yang begitu fokus dengan buku yang sedang dibacanya. Entah buku
keberapa setelah berjam-jam mereka di perpustakaan. Yang jelas, disamping
lelaki itu masih terdapat bertumpuk buku lain yang belum tersentuh.
Ah Jung
sengaja menguap lebar-lebar. Berdecak saat lelaki di hadapannya itu tak juga
meliriknya. Sekarang sudah pukul 4 sore, terlihat beberapa petugas perpustakaan
sudah pulang. Namun lelaki dihadapannya ini belum terlihat akan angkat kaki.
“Saya
kira, sudah tak ada pengunjung yang tersisa di dalam sini. Kalian mau pulang
tidak? Perpustakaan akan saya kunci.” Ucap petugas perpustakaan berkumis tebal
sambil menggoyangkan kunci di tangannya. Mata Ah Jung dan bapak itu melirik ke
arah Thunder yang masih meneruskan bacaannya. Setelah bapak berkumis itu
berdehem dua kali, dengan engan Thunder menutup bukunya dan menyerahkan buku
itu untuk dipinjam.
Walaupun
sekarang Ah Jung dan Thunder berjalan beriringan tak ada satupun dari mereka
yang mengeluarkan suara. Ah Jung sedari tadi menggerakkan jari-jarinya.
Menimbang, apakah ia harus mengatakannya sekarang?
Ah Jung
berdiri di hadapan Thunder, membuat langkah Thunder terhenti. Wajah Thunder
terangkat dan rasa gugup mneyerang Ah Jung. Diacungkannya dua buah tiket pada
Thunder. “Ayo kita menonton film bersama. Sahabat-sahabatku pun ingin
mengenalmu. Jebal.” Ah Jung memasang puppy
eyes dan dibalas Thunder dengan
menggerakkan bukunya.
“Aku
mohon. Ya, ya, ya.” Thunder menggeleng. Melewati Ah Jung dan berjalan begitu
saja.
“Selama
kita resmi berpacaran, kau belum meluangkan waktu untuk bersama. Sahabatku
khawatir kau hanya mempermainkanku saja. “ Perkataan Ah Jung kontan membuat
langkah kaki Thunder terhenti. “Kalau kita pergi bersama kali ini, aku jamin
sahabatku akan berhenti berpikiran seperti itu.”
“Tapi
aku sibuk, setelah ini aku ada rapat hingga malam. Sejak awal aku sudah
mengatakan padamu, aku tak bisa duduk-duduk dan bergosip dengan teman-temanmu.
Kau tahu kan aku-
“Kau
memiliki banyak proyek, dan kau mahasiswa terpintar. Aku tahu itu, tapi-.
“”Aku
membosankan.” Thunder menatap Ah Jung lekat. Kedua mata Ah Jung yang terbuka
lebar terlihat jelas di mata coklat Thunder. Saat mendengar Thunder berucap
seperti itu.
“Haruskah
aku mengajak Joon untuk menggantikanmu? Sayang sekali tiket ini dibuang begitu
saja.” ucap Ah Jung sambil menggoyang-goyangkan tiket di depan wajahnya..
“Ajaklah,
dia pasti senang.” Mendengarnya Ah Jung memanyunkan bibirnya. Menyebalkan, bisa-bisa dia berkata seperti
itu. “Tapi Joon sedang berusaha mendekatiku. Apa kau tak cemburu?” Ah Jung
segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Senyum
Thunder menghilang namun tatapannya terlihat tenang. Dan lelaki itu menggeleng dengan mantap. Melihatnya, membuat
mata sang gadis berubah sendu. “Wae? Apa aku tak begitu berharga untukmu?”
Thunder
berjalan mendekati Ah Jung. Memegang kedua bahu Ah Jung dan menatapnya lekat.
“Karena aku percaya padamu.” Thunder menunjuk wajah Ah Jung, membuat Ah Jung
sedikit mundur. Setelahnya Ah Jung merasakan bibir hangat Thunder mendaray di
keningnya. Telapak tangan yang menutup mulut Ah Jung terlepas begitu saja.
Membuat kedua pipi Ah Jung memanas. Jantungnya
pun terpacu, terasa ingin meloncat dari rongga dadanya. “Pulanglah, aku harus
menghadiri rapat. Jangan terlalu banyak khawatir.” Ucap Thunder saat tubuh
mereka kembali berjauhan. Ah Jung hanya bisa mengangguk dengan kaku. Berjalan
meninggalkan Thunder. Setelah 200m berjalan dengan jantung yang masih berdegup
kencang Ah Jung berbalik. Thunder masih berrdiri di posisinya. Ah Jung melambaikan
tangannya, “Semangat!” Teriak Ah Jung dengan senyum lebar.
^^^^
“Dia
benar-benar tak akan datang?” Ah Jung menatap sahabat beserta pasangan
sahabatnyanya dengan wajah sendu. Matanya tak henti memandangi lalu-lalang
orang. Sudah setengah jam menunggu, dan sebentar lagi film yang mereka tonton
akan dimulai. Keadaan bioskop sangat ramai, dimana film yang akan mereka tonton
adalah film paling ditunggu tahun ini.
Tak
hanya Ah Jung yang sibuk memandangi lalu-lalang orang, Min Young pun melakukan
hal yang sama. Matanya sibuk memperhatikan orang-orang sedangkan tangannya
sibuk mengecek ponselnya.
“Kau
menunggu seseorang, Min Young?” mendengar ucapan Hwe Ji, mereka pun mengalihkan
pandangannya pada Min Young. Min Young menggeleng. “Kau menunggu Taemin?”
Mendengar pertanyaan selanjutnya, Min Young menjadi salah tingkah. Ah Jung dan
Mae Ri pun memandang Min Young lekat. Min Young menggeleng sekali lagi.
“Aku
menunggu-“ Tiba-tiba saja ada sebuah lengan merangkul bahu Min Young. Min Young
terkejut, lalu menjitak kepala orang yang baru saja datang itu. Membuat orang
itu meringis. “Sudah aku bilang tak usahkemari.”
“Saat
aku memiliki waktu luang, kau malah bersikap seperti ini?” Orang itu berdecak
lalu mencubit hidung Min Young. “Temanmu bersama pasangannya, beruntunglah aku
di sini.”
“Tidak
semuanya, sok tahu.” Min Young mendorong orang itu menjauh.
“Siapa
dia kau tak pernah bercerita kau sedang dekat dengan seseorang.” Ucap Mae Ri .
Ah Jung dan Hwe Ji mengangguk. Min Young melihat ke arah lain sambil mengangkat
kedua bahunya.
“Aku
Ken.” Ken mengulurkan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya merangkul Min
Young. Min Young hanya berdecak sambil tak menatap Ken. Sahabat Min Young dan
pacar Mae Ri menjabat tangan Ken bergantian. “Aku adalah-“ Ucapan Ken terpotong
dengan suara pemberitahuan film mereka akan segera dimulai.
Mae Ri
menarik tangan Min Young, membiarkan yang lain masuk lebih dulu. “Kau benar
sudah berbicara dengan Taemin?” Min Young mengangguk. “Lalu mana Thunder?” Min
Young mengangkat kedua bahunya. Mae Ri menghela nafas lalu masuk ke dalam.
Selama
menonton film, Ah Jung, Hwe Ji, Mae Ri dan Min Young sibuk menyeka air mata
mereka. Sedangkan Ken dan kekasih Mae Ri hanya menggeleng sambil tertawa kecil.
Ken menepuk-nepuk bahu Min Young saat mereka akhirnya keluar dan berjalan
menuju cafe. Mereka berenam pun duduk dan mulai memesan.
“Aku
sangat kecewa pada Thunder.” Ucap Mae Ri pertama kali.
“Maafkan
dia, Thunder sangat sibuk.” Pipi Ah Jung bersemu merah, saat ingatannya
berputar kembali di hari Thunder mengecup keningnya.
“Sepertinya
kau tak kecewa sama sekali.” Mae Ri berdecak, Ah Jung hanya tersenyum tipis.
“Dan semakin mengesalkan Min Young tak bisa membuat Taemin menarik Thunder
kemari. Kemana pesonamu yang dulu bisa membuat Taemin bertekuk lutut padamu?”
“Taemin
dan Min Young!” Ah Jung dan Ken terpekik bersamaan sedangkan Min Young hampir
saja menyemburkan minuman yang belum sampai ke kerongongannya. Mae Ri segera
menatap ke arah lain sedangkan jemari Min Young langsung menghadiahkan Mae Ri
cubitan di lengannya.
“Ken,
bukankah kau haru bertemu seseorang setelah ini?” Min Young tersenyum memaksa
lalu menarik lengan Ken.
“Tapi,
tapi-“ Min Young terus menarik Ken. “Siapa Taemin?” Min Young merangkul
pinggang Ken dan membawanya menuju pintu keluar. Mengabaikan teriakan Ah Jung
dan tatapan orang-orang yang mereka lewati.
“Oppa,
mengapa tiketnya kau robek?”
“Kita
pulang, Naeun.”
Naeun
pun mengikuti arah tatapan Taemin. “Itu kan,” Naeun hendak menatap Taemin,
sosok Taemin sudah tak ada di sampingnya.
.
.
.
.
.
TBC
LANJUTKAH?
PPYONG~




Tidak ada komentar:
Posting Komentar