.showpageArea a { text-decoration:underline; } .showpageNum a { text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; margin:0 3px; padding:3px; } .showpageNum a:hover { border: 1px solid #cccccc; background-color:#cccccc; } .showpagePoint { color:#333; text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; background: #cccccc; margin:0 3px; padding:3px; } .showpageOf { text-decoration:none; padding:3px; margin: 0 3px 0 0; } .showpage a { text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; padding:3px; } .showpage a:hover { text-decoration:none; } .showpageNum a:link,.showpage a:link { text-decoration:none; color:#333333; }

Flash Labels by Way2Blogging

Kamis, 08 Mei 2014

YOU DONT KNOW[PART 3]

TITLE            :  [REQ FF] YOU DONT KNOW // PART 3

AUTHOR      : EVERG

GENRE         : ROMANCE, OOC, FRIENDSHIP

RATING        : PG 17

MAIN CAST             :


·         THUNDER MBLAQ as THUNDER

·         ADIASTY as PARK AH JUNG (OC)



SUPPORT CAST     :
LIAT SENDIRI

WARNING   :
Karakter tokoh di sini berbeda jauh dari aslinya, Abal-abal, , DONT LIKE DONT READ, NO COPAS, banyak miss typo

READ my FF and give me your FEEDBACK  about this FF

DISCLAIMER                  :
Karakter tokoh tidak sesuai aslinya. Hanya berupa hasil imajinasi author. Seluruh hak cipta penulisan karakter, alur dalam cerita yang tertulis asli milik author.

NOTE !!!
Cerita ini hanya fiktif  belaka. Bila ada karakter idol kalian yang tidak biasa itu karena tunturan peran :p. Jangan marah ke author.. marah saja ke orang lain di samping anda Hehehe

EPISODE SEBELUMNYA :
 PART 1 II PART 2 II

RCL Please

-HAPPY READING-



^^^
Seperti perjanjian kemarin, akhirnya Min Young menjalankan rencana Mi Rae dan Hwe Ji. Di sinilah dia sekarang, berdiri di koridor fakultas hukum sambil terkadang memandangi jam tangannya. Mengunyah permen karet di mulutnya dengan geram. Karena orang yang ditunggunya sejak tadi tak juga memunculkan wujudnya.

Dan saat orang ditunggunya muncul, tangan Min Young bergetar. Dia merapatkan tubuhnya ke dinding sambil menutup kedua mata. Sesaat dia membuka matanya, seseorang yang ditunggunya kini sudah berjarak cukup jauh.

“Lee Taemin.” Min Young sedikit berteriak sambil tangannya memegang ujung lengan kemeja lelaki bernama Lee Taemin itu. Saat Taemin berhenti, segera Min Young menjauhkan tangannya. Mata Taemin membulat saat mengetahui sosok yang memanggilnya. Mematung, saat gadis di hadapannya hanya terdiam begitu saja.

“Bisa kita berbicara sebentar?” Min Young menarik lagi ujung lengan kemeja Taemin tanpa menatapnya. Taemin berkedip menatap tangan Min Young sambil terus berjalan mengikuti langkah MIn Young.

Mereka berdua berdiri di taman samping fakultas hukum. Min Young membalikkan tubuhnya membelakangi Taemin, menutup matanya sekali lagi. Membiarkan angin berhembus menerpa wajahnya, menghirup oksigen dalam-dalam. Mengepalkan kedua tangannya, lalu berbalik dengan mantap. “Aku minta bantuanmu, aku mohon.” Mata Taemin kembali membuka lebar. Min Young berbicara padanya, memerlukannya. Walaupun gadis itu mengucapkannya dengan sorot mata tak fokus.

“Apa yang dapat aku lakukan untukmu?” Taemin memberikan senyum lebar. Langsung saja Min Young menyampingkan tubuhnya. Senyum itu  perlahan-lahan menghilang.

“Bisakah kau membujuk Thunder untuk pergi menonton film bersama Ah Jung? Kau pasti tahu apa yang sedang mereka jalani sekarang, kan?”

“Soal itu, aku tak bisa menjanjikannya. Jika dia sudah mengatakan tidak, sulit membuatnya berubah pikiran.”

“Kau kan sahabatnya. Tak bisakah kau membuatnya menjauh dari buku-buku tebal itu sebentar?” Min Young melirik ke arah Taemin dengan ujung matanya. Taemin tertawa pelan.

“Kedekatan kami, bukan berarti dia akan menuruti semua perkataanku.” Refleks Min Young menjauhkan tubuhnya saat tangan taemin hendak menyentuh puncak kepalanya.

“Atau Thunder sebenarnya hanya ingin menutupi rumor tentang kalian dengan memacari Ah Jung. Atau seperti kebiasaan kalian, senang mempermainkan gadis yang buta karena kilau palsau yang terpancar dari tubuh kalian itu.” Terdengar penekanan di setiap kalimat yang diucapan Min Young. Membuat Taemin menggeleng.

“Perkataanku selalu kau anggap kebohongan bukan? Aku lelah jika harus kembali mengucapkan hal yang tak akan kau percayai.” Taemin memijat pelipisnya. “Katakan saja kapan dan dimana tempat janjian kalian.”

“Sabtu pukul 8 malam.” Jawab Min Young pelan.

“Ok, tapi aku tak berjanji dia mau mendengarkanku. Kalau kau juga mengajakku, aku akan berusaha keras memaksanya.” Taemin menatap Min Young sambil tertawa. Min Young membalas dengan tatapan sinis.

“Teruslah bermimpi.” Min Young menjulurkan lidahnya. Suara tawa Taemin memenuhi indera pendengaran Min Young, suara tawa seperti ini seperti pernah begitu dikenalnya. Dan mendengarnya terasa menyenangkan.

Min Young kembali ke kesadarannya saat dia mendengar suara seorang gadis memanggil nama Taemin. Gadis itu sekarang berada di samping Taemin sambil menggandeng lengan Taemin.

“Itu saja yang sahabatku ingin sampaikan padamu.” Min Young berbalik dan berjalan menjauh.

“Nomor ponselmu masih yang dulu, kan?” teriak Taemin, tak ada jawaban. Taemin mengambil ponselnya lalu menekan tombol-tombol dengan cepat. Meletakkan ponselnya ke telinga kanan, terdengar nada sambung. Min Young terus berjalan, mata Taemin tak lepas mengamati Min Young hingga menghilang.

“Ada apa Naeun?” Taemin kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Kemudian memandang Naeun yang sedari tadi menggoyang-goyangkan lengannya.

Di tempat lain, Ah Jung sedang menopang dagu sambil memandangi lelaki di hadapannya yang begitu fokus dengan buku yang sedang dibacanya. Entah buku keberapa setelah berjam-jam mereka di perpustakaan. Yang jelas, disamping lelaki itu masih terdapat bertumpuk buku lain yang belum tersentuh.

Ah Jung sengaja menguap lebar-lebar. Berdecak saat lelaki di hadapannya itu tak juga meliriknya. Sekarang sudah pukul 4 sore, terlihat beberapa petugas perpustakaan sudah pulang. Namun lelaki dihadapannya ini belum terlihat akan angkat kaki.

“Saya kira, sudah tak ada pengunjung yang tersisa di dalam sini. Kalian mau pulang tidak? Perpustakaan akan saya kunci.” Ucap petugas perpustakaan berkumis tebal sambil menggoyangkan kunci di tangannya. Mata Ah Jung dan bapak itu melirik ke arah Thunder yang masih meneruskan bacaannya. Setelah bapak berkumis itu berdehem dua kali, dengan engan Thunder menutup bukunya dan menyerahkan buku itu untuk dipinjam.

Walaupun sekarang Ah Jung dan Thunder berjalan beriringan tak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara. Ah Jung sedari tadi menggerakkan jari-jarinya. Menimbang, apakah ia harus mengatakannya sekarang?

Ah Jung berdiri di hadapan Thunder, membuat langkah Thunder terhenti. Wajah Thunder terangkat dan rasa gugup mneyerang Ah Jung. Diacungkannya dua buah tiket pada Thunder. “Ayo kita menonton film bersama. Sahabat-sahabatku pun ingin mengenalmu. Jebal.” Ah Jung memasang puppy eyes  dan dibalas Thunder dengan menggerakkan bukunya.

“Aku mohon. Ya, ya, ya.” Thunder menggeleng. Melewati Ah Jung dan berjalan begitu saja.

“Selama kita resmi berpacaran, kau belum meluangkan waktu untuk bersama. Sahabatku khawatir kau hanya mempermainkanku saja. “ Perkataan Ah Jung kontan membuat langkah kaki Thunder terhenti. “Kalau kita pergi bersama kali ini, aku jamin sahabatku akan berhenti berpikiran seperti itu.”

“Tapi aku sibuk, setelah ini aku ada rapat hingga malam. Sejak awal aku sudah mengatakan padamu, aku tak bisa duduk-duduk dan bergosip dengan teman-temanmu. Kau tahu kan aku-

“Kau memiliki banyak proyek, dan kau mahasiswa terpintar. Aku tahu itu, tapi-.

“”Aku membosankan.” Thunder menatap Ah Jung lekat. Kedua mata Ah Jung yang terbuka lebar terlihat jelas di mata coklat Thunder. Saat mendengar Thunder berucap seperti itu.

“Haruskah aku mengajak Joon untuk menggantikanmu? Sayang sekali tiket ini dibuang begitu saja.” ucap Ah Jung sambil menggoyang-goyangkan tiket di depan wajahnya..

“Ajaklah, dia pasti senang.” Mendengarnya Ah Jung memanyunkan bibirnya. Menyebalkan, bisa-bisa dia berkata seperti itu. “Tapi Joon sedang berusaha mendekatiku. Apa kau tak cemburu?” Ah Jung segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

Senyum Thunder menghilang namun tatapannya terlihat tenang. Dan lelaki itu  menggeleng dengan mantap. Melihatnya, membuat mata sang gadis berubah sendu. “Wae? Apa aku tak begitu berharga untukmu?”

Thunder berjalan mendekati Ah Jung. Memegang kedua bahu Ah Jung dan menatapnya lekat. “Karena aku percaya padamu.” Thunder menunjuk wajah Ah Jung, membuat Ah Jung sedikit mundur. Setelahnya Ah Jung merasakan bibir hangat Thunder mendaray di keningnya. Telapak tangan yang menutup mulut Ah Jung terlepas begitu saja.

 Membuat kedua pipi Ah Jung memanas. Jantungnya pun terpacu, terasa ingin meloncat dari rongga dadanya. “Pulanglah, aku harus menghadiri rapat. Jangan terlalu banyak khawatir.” Ucap Thunder saat tubuh mereka kembali berjauhan. Ah Jung hanya bisa mengangguk dengan kaku. Berjalan meninggalkan Thunder. Setelah 200m berjalan dengan jantung yang masih berdegup kencang Ah Jung berbalik. Thunder masih berrdiri di posisinya. Ah Jung melambaikan tangannya, “Semangat!” Teriak Ah Jung dengan senyum lebar.
^^^^
“Dia benar-benar tak akan datang?” Ah Jung menatap sahabat beserta pasangan sahabatnyanya dengan wajah sendu. Matanya tak henti memandangi lalu-lalang orang. Sudah setengah jam menunggu, dan sebentar lagi film yang mereka tonton akan dimulai. Keadaan bioskop sangat ramai, dimana film yang akan mereka tonton adalah film paling ditunggu tahun ini.

Tak hanya Ah Jung yang sibuk memandangi lalu-lalang orang, Min Young pun melakukan hal yang sama. Matanya sibuk memperhatikan orang-orang sedangkan tangannya sibuk mengecek ponselnya.

“Kau menunggu seseorang, Min Young?” mendengar ucapan Hwe Ji, mereka pun mengalihkan pandangannya pada Min Young. Min Young menggeleng. “Kau menunggu Taemin?” Mendengar pertanyaan selanjutnya, Min Young menjadi salah tingkah. Ah Jung dan Mae Ri pun memandang Min Young lekat. Min Young menggeleng sekali lagi.

“Aku menunggu-“ Tiba-tiba saja ada sebuah lengan merangkul bahu Min Young. Min Young terkejut, lalu menjitak kepala orang yang baru saja datang itu. Membuat orang itu meringis. “Sudah aku bilang tak usahkemari.”

“Saat aku memiliki waktu luang, kau malah bersikap seperti ini?” Orang itu berdecak lalu mencubit hidung Min Young. “Temanmu bersama pasangannya, beruntunglah aku di sini.”

“Tidak semuanya, sok tahu.” Min Young mendorong orang itu menjauh.

“Siapa dia kau tak pernah bercerita kau sedang dekat dengan seseorang.” Ucap Mae Ri . Ah Jung dan Hwe Ji mengangguk. Min Young melihat ke arah lain sambil mengangkat kedua bahunya.

“Aku Ken.” Ken mengulurkan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya merangkul Min Young. Min Young hanya berdecak sambil tak menatap Ken. Sahabat Min Young dan pacar Mae Ri menjabat tangan Ken bergantian. “Aku adalah-“ Ucapan Ken terpotong dengan suara pemberitahuan film mereka akan segera dimulai.

Mae Ri menarik tangan Min Young, membiarkan yang lain masuk lebih dulu. “Kau benar sudah berbicara dengan Taemin?” Min Young mengangguk. “Lalu mana Thunder?” Min Young mengangkat kedua bahunya. Mae Ri menghela nafas lalu masuk ke dalam.

Selama menonton film, Ah Jung, Hwe Ji, Mae Ri dan Min Young sibuk menyeka air mata mereka. Sedangkan Ken dan kekasih Mae Ri hanya menggeleng sambil tertawa kecil. Ken menepuk-nepuk bahu Min Young saat mereka akhirnya keluar dan berjalan menuju cafe. Mereka berenam pun duduk dan mulai memesan.

“Aku sangat kecewa pada Thunder.” Ucap Mae Ri pertama kali.

“Maafkan dia, Thunder sangat sibuk.” Pipi Ah Jung bersemu merah, saat ingatannya berputar kembali di hari Thunder mengecup keningnya.

“Sepertinya kau tak kecewa sama sekali.” Mae Ri berdecak, Ah Jung hanya tersenyum tipis. “Dan semakin mengesalkan Min Young tak bisa membuat Taemin menarik Thunder kemari. Kemana pesonamu yang dulu bisa membuat Taemin bertekuk lutut padamu?”

“Taemin dan Min Young!” Ah Jung dan Ken terpekik bersamaan sedangkan Min Young hampir saja menyemburkan minuman yang belum sampai ke kerongongannya. Mae Ri segera menatap ke arah lain sedangkan jemari Min Young langsung menghadiahkan Mae Ri cubitan di lengannya.

“Ken, bukankah kau haru bertemu seseorang setelah ini?” Min Young tersenyum memaksa lalu menarik lengan Ken.

“Tapi, tapi-“ Min Young terus menarik Ken. “Siapa Taemin?” Min Young merangkul pinggang Ken dan membawanya menuju pintu keluar. Mengabaikan teriakan Ah Jung dan tatapan orang-orang yang mereka lewati.

“Oppa, mengapa tiketnya kau robek?”

“Kita pulang, Naeun.”

Naeun pun mengikuti arah tatapan Taemin. “Itu kan,” Naeun hendak menatap Taemin, sosok Taemin sudah tak ada di sampingnya.
.
.
.
.
.
TBC

LANJUTKAH?


PPYONG~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar