TITLE : IT’S OK EVEN IF IT HURTS // PART 2 OF 6
AUTHOR : EVERG
GENRE : SAD, ROMANCE, DRAMA
LENGTH : 2 OF 6
RATING : PG-17
MAIN CAST :
·
KEY
SHINee
·
YUI
·
HYEON
WARNING :
Abal-abal,
GJ, DON’T LIKE DON’T READ, NO COPAS, banyak miss typo
READ
my FF and give me your FEEDBACK about this FF
DISCLAIMER :
Karakter tokoh tidak sesuai aslinya.
Hanya berupa hasil imajinasi author. Seluruh hak cipta penulisan karakter, alur
dalam cerita yang tertulis asli milik author.
NOTE
!!!!
FF
ini sebenarnya mu dibuat untuk menguras air mata tapi sorry kalau FF ini mlah
gg ada sedih-sedihnya. Malah cenderung
ke drama sinetron membosankan.
-HAPPY READING-
^^^^
IT’S OK EVEN IF IT
HURTS
PART 2
ALL YUI POV
Saat ada orang lain yang begitu
mencintaimu. Saat ada orang lain yang begitu peduli padamu tapi kau pura-pura
tak melihatnya. Karena kau mencintai orang lain. Andai orang yang sungguh
mencintaimu itu adalah dia kau pasti bahagia. Nyatanya orang yang kau cintai
mencintai orang lain. Kau disakiti dan kau pun menyakiti orang lain. Sama
jahatnya.
^^^
Aku begitu iri melihat pemandangan di
hadapanku ini. Hyeon Eonni dan Juna
suaminya, Umma dan Appa Key yang
tertawa mendengar lelucon Key Oppa.
Mata Key Oppa terus menatap Hyeon Eonni, terkadang wajahnya cemberut saat
melihat Hyeon Eonni begitu mesra
dengan suaminya.
Sedangkan aku hanya bisa tersenyum
palsu pada mereka semua. Sedih, hingga kini Key Oppa tak pernah menyapa atau menatap ke arahku. Tapi apa yang bisa
aku lakukan? Aku sadar, aku tak pernah berarti apa-apa untuknya.
Aku membereskan piring dan gelas bekas
makan malam. Appa dan Umma Key juga
Hyeon Eonni dan suaminya sudah
pulang. Setelah semua beres aku bisa pulang ke apartemenku yang berhadapan
dengan apartemen Key Oppa.
“Pulanglah, biar aku yang menyelesaikannya.”
Key
Oppa bicara padaku?
Seketika aku berhenti menyabuni piring dengan dan menatap Key Oppa. Senyumku hilang, Key Oppa berbicara padaku sambil bersandar
di dinding dan matanya fokus mengetik entah apa di ponselnya.
“Sedikit lagi selesai.” Aku melanjutkan
pekerjaanku. “Aku pulang dulu.” Aku mengelap tanganku dan bersiap untuk pergi.
Key Oppa masih dalam posisi yang
sama, bersandar di dinding dan fokus dengan ponselnya. Hufh, sudahlah!
“Terima kasih kau sudah menata
apartemenku.” Tanganku yang hendak membuka knop pintu terhenti.
“Oppa
salah mengucapkan terima kasih padaku. Yang mendekorasi ini semua Hyeon Eonni. Ucapkan rasa terima kasih Oppa padanya.” Aku pun pergi tanpa
berbalik ke belakang.
^^^
“Ayo, aku antar ke kampus!”
“Tidak usah. Arah kampus kita
berlainan.” Kemajuan, kali ini Key Oppa
berbicara sambil menatap mataku, tersenyum lagi.
“Ayo, Umma menyuruhku untuk menjagamu.”
Mau tak mau aku masuk ke dalam mobil.
Mobil Key Oppa menghalangi jalan bus
dan dia tak mau menyingkir sebelum aku masuk. Akhirnya aku pun mengalah,
pandangan para penumpang bus sungguh menakutkan.
Mataku terbelalak melihat foto di dalam
mobil. Foto yang sama di album foto kemarin. Berlatar belakang air terjun namun
sedikit berbeda. Di dalam foto itu hanya ada dua orang. Pangeran dan gadis yang
sedang digenggam tangannya.
Ponselku bergetar, “Yeoboseyo? Oh, Baro
Oppa! Ne, Oppa ada ada di sana? Mian, aku tak memberitahumu. Ne, aku akan
tiba secepatnya.” Aku tersenyum, tumben Baro Oppa mau menjemputku. Aku melirik ke arah Key Oppa, “Berhenti di depan, sudah ada yang menungguku.”
Aku menutup pintu mobil Key Oppa, “Gomawo atas tumpangannya.” Aku
menunduk dan berlari ke arah Baro Oppa
yang sudah menungguku dengan motornya.
^^^
Baro Oppa adalah namja aneh yang sangat tampan. Aku mengakui dia tampan.
Mempunyai suara yang bagus namun sedikit dingin dan galak pada orang
sekelilingnya. Aku bisa kenal dengannya pun karena Baro Oppa adalah ketua di klub Baseball, klub yang aku ikuti.
“Oppa,
kita tidak ke kampus?” Aku bertanya saat motor Baro Oppa malah berbalik bukan ke arah kampus.
“Aku sudah meminta izin untukmu, jadi
kau tenang saja. Tim kita akan bertanding hari ini, kau mau tidak jadi manager
klub?”
“Tentu saja! Aku sudah bekerja keras
mencari dana untuk klub demi menjadi manajer.”
“Ok, doakan tim kita menang.”
Lapangan baseball sungguh ramai.
Terdengar teriakan menyemangati tim kami. Pemain baseball tim kami memang cukup
terkenal. Bisa ditebak yang memiliki banyak fans adalah Baro Oppa.
Aku memberikan semangat pada para
pemain. Aku sangat bahagia melihat wajah mereka yang optimis akan menang hari
ini. Jantungku berdetak cepat, tim kami tertinggal satu angka dari tim lawan.
Semoga kali ini berhasil, Tuhan bantu kami. Aku menutup mataku dan berdoa.
“Yee~!” Terdengar suara teriakan dari
arah penonton. Aku membuka mataku, Yes! Tim kami menang. Saat aku hendak
berteriak ponselku berbunyi.
“Ne, Oppa ada apa?” aku sedikit menjauh, di sini sungguh berisik. “Key Oppa mian, suaramu tak terdengar. Apa?
tidak, tidak usah menjemputku.” Aku ingat Baro Oppa menyuruhku menunggunya sepulang pertandingan. Aku memutuskan
pembicaraan karena suaranya semakin tak terdengar.
Aku berbalik dan mataku terbelalak.
Baro Oppa sudah berdiri di hadapanku
dengan senyum lebarnya. Tapi yang membuatku terkejut bukan Baro Oppa tapi sesuatu yang dipegangnya.
Sebuah kalung berbandul tongkat baseball, pada tongkat itu tertulis Baro. OMG!
“Untukmu. Sebagai tanda kau resmi
menjadi manajer klub.” Baro Oppa
langsung memakaikannya di leherku. Aku hanya terdiam, masih terkejut. “Tunggu
aku, baru aku antar kau pulang.”
“Ne,”
Baro Oppa pun berlari ke ruang ganti pemain. Aku duduk di bangku
penonton sambil terus memandangi kalung pada Baro Oppa. “Baro. Lucu sekali
kalung bertuliskan nama Baro Oppa.
Kenapa tak sekalian ada.....”
“Tak sekalian ada tanganku, maksudmu?”
Baro Oppa duduk di sampingku. Aku
bisa mencium harum tubuhnya. Aku suka, selain tampan dia juga wangi.
“Tidak, aku hanya kaget Oppa memberiku kalung seperti ini.”
“Setiap pemain hari ini mendapatkan
kalung baseball bertuliskan namanya. Karena kau manajer baru klub aku memberikannya
untukmu. Biar kau selalu menghormatiku sebagai ketua klub. Kau tak boleh
membantahku. Mengerti?”
“Kenapa Oppa hari ini cerewet sekali? Tak biasanya Oppa berbicara panjang lebar padaku.”
“Sesukaku saja! Ayo, pulang!” Oppa menarikku menuju motornya.
Sepanjang perjalanan kami tak berbicara apapun. Baro Oppa memang baik.
“Oppa
tak usah mengantarku sampai depan pintu apartemenku seperti ini. Memangnya aku
anak kecil yang gampang tersesat?”
“Ini biar kalau kau datang terlambat
aku bisa mendobrak pintumu untuk membangunkanmu.” Dia menyentil keningku.
“Sakit, Oppa”
Baro Oppa tertawa, “Kau suka kalung yang aku berikan untukmu?”
“Ne, gomawo!” Aku tersenyum lebar.
Tanpa sengaja mataku menatap sosok Key Oppa
yang hendak memasuki apartemennya. Hatiku berdesir, tapi peduli apa Key Oppa padaku.
“Jaga kalungku baik-baik. Aku pulang
dulu, annyeong. Mimpikan aku, ne!” Baro Oppa
tertawa dan kemudian pergi.
“Hati-hati Oppa!” aku melambaikan tanganku pada Baro Oppa yang memasuki lift. Aku melirik ke arah pintu apartemen Key Oppa. Dia sepertinya sudah masuk,
sudahlah!
.
.
.
.
.
.
.
TBC
PPYONG~




Tidak ada komentar:
Posting Komentar