.showpageArea a { text-decoration:underline; } .showpageNum a { text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; margin:0 3px; padding:3px; } .showpageNum a:hover { border: 1px solid #cccccc; background-color:#cccccc; } .showpagePoint { color:#333; text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; background: #cccccc; margin:0 3px; padding:3px; } .showpageOf { text-decoration:none; padding:3px; margin: 0 3px 0 0; } .showpage a { text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; padding:3px; } .showpage a:hover { text-decoration:none; } .showpageNum a:link,.showpage a:link { text-decoration:none; color:#333333; }

Flash Labels by Way2Blogging

Rabu, 30 April 2014

[DRABBLE] SUNFLOWER

Matamu terlihat lelah.Tak berbinar seperti biasanya.Kau tersenyum seperti biasa.Tapi, Kau terlalu memegang kata-katamu itu. Tak apa kemarilah..Kita bisa menggali lubang itu, mengisinya dengan dedaunan kecoklatan lalu membiarkannya tertutup tanah yang masih basah karena hujan.

Aku merindukanmu. Kau bisa tertawa saat mendegar orang sepertiku mengucapkan itu. Ya, seperti katamu, semakin aku berusaha berlari pergi kau akan menjadi labirin untukmu. Membuatku tersesat hingga menarikku pada tempat kau berada.

Memandangu wajahmu selalu membuat alisku berkerut. Daya magnet apa yang terpancar di sekeliling tubuhmu hinggabisa membuat tubuhku tertari ke arahmu. Kau selalu bersinar bahkan dengan tingkah super bodohmu itu. Kau bisa membuatku benci sekaligus kembali padamu lagi dan lagi.

Aku mengatakan bahwa aku tak akan membiarkan diriku berada di dekatmu lagi. Aku sudah berusaha keras untuk membuktikan kata-kataku. Namun, saat aku melihat sosokmu yang berdiri di sana. Menatapku dengan senyum seperti biasa. Namun sorot matamu bukan sorot mata yang aku sukai dan terasa goresan di dalam hatiku. Kenapa? Kau selalu tersenyum saat perasaanmu terasa sakit.

"Kalau kau ingin memelukku, lakukan saja."

Kau tertawa saat mengatakannya. "Percaya diri sekali." ucapku dengan ketusnya. Namun setelahnya aku benar-benar memelukmu. Terasa hangat seperti biasa. Dan rasa hangat itu terasa di kedua pipiku seiring cairan bening yang membasahinya.

"Tak usah begitu senang hingga kau menangis begitu."

Aku memukul punggungmu pelan, "Aku begitu merindukanmu, bodoh."

Ya, bahkan jika bumi benar-benar menua, kau akan selalu menjadi Oppa bodohku yang menyebalkan. Yang dapat membuagku mudah geram sekaligus tersenyum sepanjang hari. "Bodoh, bisakah kau berhenti? Bisakah aku yang kini berguna untukmu?"

Kau menepuk punggungku lembut, berulang dengan ritme yang sama. Membuagmt isakanmu memudar. Dan aku merasakan dagunya berada di bahuku. "Aku hanya lelah." Dia tertawa kecil. "Kau selalu menghilang saat kau terlihat di indera penglihatanku. Itu lebih menyakitkan kau tahu."

"Aku hanya tidak ingin mengganggumu. Kau terlihat lebih baik sekarang."

"Tubuhku menampakkan seperti itu tapi sesuatu di dalam sini sepertinya lebih dari parah." Dia mengeratkan pelukannya. "Kau hamgat." Setelahnya dia terdiam sebentar lalu terdengar senandung di telingaku.

Aku membiarkannya dalam beberapa menit. Hingga akhirnya aku melepaskan pelukannya. "Bahuku pegal." Aku memijit pelan bahu kananku. Dia menatapku sebentar lalu mengacak rambutku. Sorot matanya tak berubah, itu benar-benar terasa mengganggu.

"Aku harus pergi sebentar lagi." Senyumnya menghilang. Memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana. "Jangan menghilang lagi. Melihatmu saja bisa membuat hidupku terasa lebih mudah. Tetaplah berada dimana aku bisa melihatmu, walau dalam jarak jauh sekalipun. Jaga dirimu baik-baik. Jangan terlalu banyak merindukan aku."

Dia tertawa di kalimat terakhirnya. Aku hanya bisa menatapnya tanpa berkedip. Apapun, bila itu membuatku lebih baik. Dia mengacak rambutku lagi, lalu berbalik kemudian berjalan perlahan. Aku hanya bisa menatap punggunya yang perlahan-lahan menjauh.

"Sun!" Teriakku. Langkahnya terhenti namun dia tak berbalik. Aku mengepalkan tanganku. Menahan kedua mataku yang kembali memanas. "Kalau bersinar terang membuat dirimu kelelahan, beristirahatlah sebentar. Bukan meredupkan sinarmu, tapi lembutkanlah sedikit. Itu tak akan merugikan siapapun. Karena siapapun tau kau sumber cahaya itu. Dan bagiku sampai kapanpun, aku adalah sunflower nomor satumu. Yang selalu menatap pada satu matahari dan hidup karena cahaya satu matahari. Sun, sampai bertemu lagi." Dia kembali berjalan, aku melambaikan tanganku pada punggungnya yang semakin menjauh lali menghilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar