Matamu terlihat lelah.Tak berbinar seperti biasanya.Kau tersenyum
seperti biasa.Tapi, Kau terlalu memegang kata-katamu itu. Tak apa
kemarilah..Kita bisa menggali lubang itu, mengisinya dengan dedaunan
kecoklatan lalu membiarkannya tertutup tanah yang masih basah karena
hujan.
Aku merindukanmu. Kau bisa tertawa saat mendegar orang sepertiku
mengucapkan itu. Ya, seperti katamu, semakin aku berusaha berlari pergi
kau akan menjadi labirin untukmu. Membuatku tersesat hingga menarikku
pada tempat kau berada.
Memandangu wajahmu selalu membuat alisku berkerut. Daya magnet apa
yang terpancar di sekeliling tubuhmu hinggabisa membuat tubuhku tertari
ke arahmu. Kau selalu bersinar bahkan dengan tingkah super bodohmu itu.
Kau bisa membuatku benci sekaligus kembali padamu lagi dan lagi.
Aku mengatakan bahwa aku tak akan membiarkan diriku berada di
dekatmu lagi. Aku sudah berusaha keras untuk membuktikan kata-kataku.
Namun, saat aku melihat sosokmu yang berdiri di sana. Menatapku dengan
senyum seperti biasa. Namun sorot matamu bukan sorot mata yang aku sukai
dan terasa goresan di dalam hatiku. Kenapa? Kau selalu tersenyum saat
perasaanmu terasa sakit.
"Kalau kau ingin memelukku, lakukan saja."
Kau tertawa saat mengatakannya. "Percaya diri sekali." ucapku dengan
ketusnya. Namun setelahnya aku benar-benar memelukmu. Terasa hangat
seperti biasa. Dan rasa hangat itu terasa di kedua pipiku seiring cairan
bening yang membasahinya.
"Tak usah begitu senang hingga kau menangis begitu."
Aku memukul punggungmu pelan, "Aku begitu merindukanmu, bodoh."
Ya, bahkan jika bumi benar-benar menua, kau akan selalu menjadi Oppa
bodohku yang menyebalkan. Yang dapat membuagku mudah geram sekaligus
tersenyum sepanjang hari. "Bodoh, bisakah kau berhenti? Bisakah aku yang
kini berguna untukmu?"
Kau menepuk punggungku lembut, berulang dengan ritme yang sama.
Membuagmt isakanmu memudar. Dan aku merasakan dagunya berada di bahuku.
"Aku hanya lelah." Dia tertawa kecil. "Kau selalu menghilang saat kau
terlihat di indera penglihatanku. Itu lebih menyakitkan kau tahu."
"Aku hanya tidak ingin mengganggumu. Kau terlihat lebih baik sekarang."
"Tubuhku menampakkan seperti itu tapi sesuatu di dalam sini
sepertinya lebih dari parah." Dia mengeratkan pelukannya. "Kau hamgat."
Setelahnya dia terdiam sebentar lalu terdengar senandung di telingaku.
Aku membiarkannya dalam beberapa menit. Hingga akhirnya aku
melepaskan pelukannya. "Bahuku pegal." Aku memijit pelan bahu kananku.
Dia menatapku sebentar lalu mengacak rambutku. Sorot matanya tak
berubah, itu benar-benar terasa mengganggu.
"Aku harus pergi sebentar lagi." Senyumnya menghilang. Memasukkan
kedua telapak tangannya ke dalam saku celana. "Jangan menghilang lagi.
Melihatmu saja bisa membuat hidupku terasa lebih mudah. Tetaplah berada
dimana aku bisa melihatmu, walau dalam jarak jauh sekalipun. Jaga dirimu
baik-baik. Jangan terlalu banyak merindukan aku."
Dia tertawa di kalimat terakhirnya. Aku hanya bisa menatapnya tanpa
berkedip. Apapun, bila itu membuatku lebih baik. Dia mengacak rambutku
lagi, lalu berbalik kemudian berjalan perlahan. Aku hanya bisa menatap
punggunya yang perlahan-lahan menjauh.
"Sun!" Teriakku. Langkahnya terhenti namun dia tak berbalik. Aku
mengepalkan tanganku. Menahan kedua mataku yang kembali memanas. "Kalau
bersinar terang membuat dirimu kelelahan, beristirahatlah sebentar.
Bukan meredupkan sinarmu, tapi lembutkanlah sedikit. Itu tak akan
merugikan siapapun. Karena siapapun tau kau sumber cahaya itu. Dan
bagiku sampai kapanpun, aku adalah sunflower nomor satumu. Yang selalu
menatap pada satu matahari dan hidup karena cahaya satu matahari. Sun,
sampai bertemu lagi." Dia kembali berjalan, aku melambaikan tanganku
pada punggungnya yang semakin menjauh lali menghilang.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar