Setelah
sekian lama folder ini tak terbuka akhirnya aku meneruskannya
Ff
req adiasti, semoga suka ya
Maaf
untuk orang-orang yang aku pinjam namanya di sini ;p
Maaf
lama
Ditunggu
commentnya..
TITLE : [REQ FF] YOU DONT KNOW // PART 1
AUTHOR :
EVERG
GENRE :
ROMANCE, OOC, FRIENSHIP
RATING :
PG 17
MAIN CAST :
·
THUNDER
MBLAQ as THUNDER
·
ADIASTY
as PARK AH JUNG
SUPPORT CAST :
LIAT SENDIRI
WARNING :
Karakter tokoh
di sini berbeda jauh dari aslinya, Abal-abal, DON’T LIKE DON’T READ, NO COPAS, banyak miss typo
READ my FF and give me your FEEDBACK about this FF
DISCLAIMER :
FF ini milik ku. Bukan hasil tambal sulam dari
author lain. Hasil pertapaan yang panjang dan hasilnya tetap seperti ini.
RCL Please
-HAPPY READING-
^^^
“Lagi-lagi kepolisian berhasil
membongkar gudang tempat produksi narkoba terbesar ke tiga di ASIA. Dan ini
sudah kedua kalinya Polisi berhasil menangkap para produsen barang haram itu
yang terkenal sulit diendus. Berikut adalah keterangan dari ketua Tim.”
“Kami berhasil menangkap para pelaku
dan juga pemilik gudang produksi narkoba terbesar ketiga di ASIA ini. Dan untuk
selanjutnya akan kami pastikan kasus selanjutnya yang selama ini belum
terungkap, akan segera bernasib sama. Terima kasih.”
Setelah
tayangan berita di pagi buta itu selesai seseorang mematikan layar televisinya
kemudian melempar remotenya ke dinding. 3 orang yang kini berada di sampingnya
menunduk dan mengucapkan maaf berulang-ulang.
“Apa pembelaan kalian mengenai ini?
Bukankah sudah aku perintahkan untuk membereskan orang itu segera?” Terdengar kembali suara barang yang
pecah di ruangan itu.
^^^
YOU DONT KNOW
PART 1
Kantin yang
riun bertambah riuh saat seorang gadis berjalan dengan tergesa-gesa memasuki
kantin lalu wajahnya berubah menjadi sangat cerah saat menangkap sosok 3 gadis
yang sedang berada di sebuah meja yang
tak jauh dari posisinya sekarang. Beberapa kali tubuhnya menyenggol orang-orang
yang dilewatinya. Walau dari beberapa orang yang tak sengaja disenggolnya itu
menggerutu, tak menghilangkan senyum lebar di wajahnya.
Tiga gadis yang
sedang makan dengan tenang tiba-tiba terlonjak kaget. Saat gadis yang baru saja
datang menghampirinya menggebrak meja mereka begitu saja. Membuat ketiga gadis
itu menatapnya dengan geram, sedang gadis yang lain hanya menggelengkan kepalanya.
Gadis yang baru saja datang itu hanya memberikan cengiran sambil berbisik mianhae.
“Kau ingin membuatku mati?” Ucap gadis bermata sipit –Mae Ri- yang terbatuk sambil terus meminum air mineral miliknya.
Gadis yang baru datang itu menggaruk pelan kepalanya sambil merengut. Terdengar
decakan diantara mereka.
“Tumben sekali kau datang ke kantin
ini? Bukankah jadwalmu di jam makan siang seperti ini adalah membuntuti namja
tanpa bayangan itu?” Ketus Min
Young –sahabatnya yang
lain-. Min Young menusuk paha ayam di piringnya dengan brutal lalu memasukkan
daging ayam itu ke dalam mulutnya dengan mata melotot ke arah si gadis. Gadis
yang baru datang itu sempat sulit menelan ludahnya melihat tatapan ketiga sahabatnya,
namun segera senyumnya kembali terkembang saat mengingat alasannya datang
menemui mereka.
“Kalian tau tidak?” Lagi-lagi gadis itu menggebrak meja.
Min Young yang hendak memberi pelajaran pada gadis itu segera ditahan oleh Mae
Ri.
“Yak, Park Ah Jung! Tak sekalian saja
kau lempar meja ini, hah! Aishh,” Min Young menunjukkan kepalan tangannya, lalu kembali duduk
dengan sebal. Gadis yang dipanggil Park Ah Jung meletakkan telunjuknya di
bibirnya saat melihat pandangan sebagian penghuni kantin tertuju pada mereka.
Sedangkan Min Young membalasnya dengan pandangan –siapa yang lebih dulu melakukan keributan di sini-
Ah Jung menarik
kursi lalu mendudukkan dirinya di kursi itu. Meminta sahabat-sahabatnya untuk
mendekatkan wajah mereka ke arah Ah Jung. Ah Jung menarik nafas dalam. Ia
menatap mata sahabat-sahabatnya satu per satu. “Aku dan Thunder berpacaran.” Bisik Ah Jung saat sahabat-sahabatnya mendekat ke arahnya.
“Mwo!” Seketika Min Young terpekik. Ah Jung menutup matanya saat
merasakan mie goreng yang sedang dikunyah Min Young mendarat di wajahnya. Hwe
Ji –gadis yang
lebih tenang dari sahabat-sahabatnya itu- memberikan sehelai tisu pada Ah Jung.
“Kepalamu
terbentur? Otakkmu tertukar? Bagian mana yang terasa sakit?” Min Young mengguncang tubuh Ah Jung
dengan brutal. Dan lagi-lagi ada mie yang tersembur dan menempel di wajah Ah
Jung.
Dengan susah
payah Ah Jung melepaskan tangan Min Young dari bahunya. Ketiga sahabatnya itu
pun menatap Ah Jung dengan lekat. Ah Jung berdeham melihat dirinya ditatap
begitu. “Seperti saran
kalian, aku akhirnya memberanikan diriku untuk menyatakan perasaanku padanya.
Dengan usaha yang kuat akhirnya aku berhasil menaklukkannya.” Ah Jung mengangkat tinjunya ke udara
sambil tertawa. Min Young dan Mae Ri menggeleng.
“Aku saja terkejut saat tahu siapa
yang kau sukai. Bagaimana wajah Thunder saat kau menyatakan perasaanmu?” Ditanya seperti itu Ah Jung menghela
nafasnya. “Hah, aku tahu
tak ada ekspresi lain selain ini dan ini.” Min Young tertawa keras sambil menirukan ekspresi wajah Thunder.
Datar dan datar.
“Tapi setidaknya kau akhirnya berani
mengungkapkan perasaanmu padanya. Kau melepaskan label secret admirer sekarang.” Hwe Ji tersenyum kecil. Ah Jung
menepuk bahu Hwe Ji.
“Apakah setelah ini kau akan melakukan
seperti Ah Jung juga, hm?” tanya Mae Ri
yang segera dijawab Hwe Ji dengan gelenggan.
“Ada kalanya aku ingin menyimpannya
saja selamanya. Melihatnya dari kejauhan, hanya bisa membisikkan I Love You di
belakang punggungnya aku kira itu sudah cukup.”
“Kau melakukan lebih dari itu.” cibir Min Young.
“Tapi, saat di dalam sini semakin lama
semakin penuh seakan hendak meledak, aku pun memberanikan diriku. Aku sempat
bermimpi buruk tentang dia, tentang jawaban yang akan diucapkan padaku. Namun
saat aku membayangkan dia dimiliki gadis lain, aku tak bisa menerimanya. Dan
endingnya, aku dan Thunder jadian~! Yeay`!” Teriakan dan suara tawa Ah Jung berbaur dengan suara bising
kantin.
“Semoga ini bukan sebuah pemainan
saja.” Mae Ri
berbicara sambil memakan kentang goreng miliknya. “Kalian taukan desas desus tentang
Thunder.” Semuanya
mengangguk kecuali Ah Jung. Ah Jung mendesis kecil saat Min Young menjitak kepalanya.
Ketika Ah Jung malah diam-diam meminum lemon tea milik Ah Jung.
“Gosip yang mana lagi?” Ah Jung tau benar semua desas-desus
yang baginya semua itu hanya gosip. Bagi Ah Jung yang adalah penggagum nomor
satu Thunder, stalker setianya. Desas-desus itu hanya bentuk rasa iri terhadap
Thundernya. Thunder yang adalah salah satu mahasiswa jenius di universitasnya,
dengan berbagai kegiatan dan penghargaan yang diterima Thunder selama ini. Dan juga
kepribadian Thunder yang tak banyak bicara dan bisa dibilang tak bisa ditebak.
Membuat desas-desus itu bisa begitu saja dipercaya orang-orang.
“Bisa saja kau hanya dijadikan
pengalih perhatian dari gosip bahwa dia homo.” Mae Ri berbisik di kata terakhir. Ah Jung menutup mulutnya.
Hampir saja lemon tea yang berada dimulutnya menyembur ke luar. “Dia terkenal namja yang suka menolak
para gadis yang menyatakan cinta padanya bukan? Dan seseorang yang selalu
terlihat bersama Thunder setiap waktu adalah,” dagu Mae Ri terangkat ke arah Min Young. Min Young hanya berkata Mwo. “Bersama Taeminmu.” Ucap Mae Ri, Hwe
Ji mengangguk.
“Apa yang kalian maksudkan dengan Taeminku?” Min Young menggerakkan kedua
tangannya membentuk tanda kutip untuk kata Taeminku. Mae Ri, Hwe Ji dan Ah Jung
tersenyum kecil sambil menaik turunkan alis mereka. “ Kalian gila? Sejak kapan aku
tertarik pada namja itu.” Min Young
memutar kedua bola matanya.
“Seorang Thunder yang dengan mudah
menolak para gadis, malah menerima seorang sepertimu? Itu benar-benar tidak
masuk akal.” Tambah Mae Ri.
Membuat Ah Jung memanyunkan bibirnya. “Juga-“ Sebelum Mae Ri
melanjutkan perkataannya, Ah Jung lebih dulu memasukkan empat buah kentang
goreng ke dalam mulut Mae Ri. Membuat suasana kembali riuh.
“Aku percaya pada Thunder.” Ah Jung tersenyum lebar sambil
menatap satu per satu sahabat-sahabatnya itu. Saat Mae Ri hendak membuka suara
lagi, Hwe Ji menyentuh lengan Mae Ri. Mereka pun mengucapkan selamat sambil
meminta Ah Jung untuk membayar makan siang mereka saat ini.
“Thunder, apakah yang dikatakan Ah
Jung benar?” Tanya seorang
namja berkemeja kotak-kotak merah pada Thunder. Meja mereka terletak tak begitu
jauh dari meja Ah Jung dan sahabat-sahabatnya. Thunder tak berkata apapun,
pandangannya fokus pada laptop di hadapannya.
“Wah, kau harus mentraktirku. Ternyata
tipemu seperti itu,” Namja yang
lain yang juga bersama Thunder tersenyum lebar sambil bertepuk tangan. Matanya
melirik ke arah Ah Jung dan sahabat-sahabatnya. Sayang sekali, telinganya tak
hanya menangkap soal Ah Jung dan Thunder yang berpacaran. Senyumnya seketika
menghilang, helaan nafas panjangpun dihembuskannya.
^^^
Gimana?
Ditunggu
commentnya
makasih




Tidak ada komentar:
Posting Komentar